Guru: Pahlawan Pencari Tanda Jasa?

Oleh Laili Mahmudah

Pada hakikatnya, guru merupakan seorang yang ikhlas mentransfer ilmunya kepada murid-murid. Seorang guru rela mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengamalkan ilmunya. Dengan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa seperti salah satu alinea dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, semangat guru tak bisa diragukan lagi. 
     Semangat heroic seorang guru patut diteladani. Seperti halnya Ki Hajar Dewantara dengan semboyan “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani," yang bermakna: di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang mendukung, menjadi bukti konkret semangat patriotic seorang guru.
Namun, kini julukan guru sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” berubah menjadi “Pahlawan Pencari Tanda Jasa”. Pasalnya, orientasi guru dalam mengajar bukan untuk mentransformasikan ilmu, akan tetapi untuk mencari penghasilan. Orientasi tersebut sangat kontras dengan hadits riwayat Rabi’ bin Annas “’allim majjaanan kamaa ‘ullimta majjaanan” yang maksudnya “ajarilah seseorang dengan gratis seperti kamu mendapatkan ilmu secara cuma-cuma.”
Orientasi material mengakibatkan citra guru mengalami peyorasi. Seperti para “sofis” dalam masyarakat Yunani kuno setelah abad ke-5. Pada awalnya sofis berarti orang yang bijaksana atau orang yang memiliki keahlian tertentu. Seorang sofis pada awalnya adalah guru besar yang disegani masyarakat, karena mau mengajar dengan ikhlas. Sehingga, kala itu ia sangat dihormati masyarakat. Namun, seiring berjalannya waktu, setelah pertengahan abad ke-5, sofis mengalami pergeseran makna, yaitu guru yang mengajar dengan menentukan tarif. Dalam hal ini, sofis mengajarkan ilmu berkeliling kota, kemudian meminta bayaran kepada orang yang diajarnya.
Hampir seluruh sekolahan di Indonesia, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) mengeluhkan kredibilitas guru yang semakin pudar. Terlebih, di sekolah khusus seperti Home Schooling, murid enggan menghormati guru. Guru telah dibayar mahal untuk mengajar, sehingga murid bisa bertindak semena-mena terhadap guru. Ironisnya, guru tak mampu marah dan menuntut tindakan murid yang tidak sesuai etika. Sebab, guru telah terikat dengan nominal yang telah dibayarkan kepada mereka. Realita “guru takut murid“ tersebut telah terjadi di lapangan.
Faktor awal yang memadamkan niat mulia guru adalah orientasi yang salah. Mengajar bukan lagi panggilan hati nurani, tetapi mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Hingga akhirnya gaya hidup guru berubah menjadi hedonis dan membentuk mental materialisme yang kian kuat. Dengan gaya hidup yang kian tidak terkontrol memaksa guru untuk selalu memenuhi panggilan dari kebutuhannya. Ketika guru hanya melulu memikirkan kebutuhan ekonomi, maka semangat prophetic seorang guru pudar.
Implikasi dari hilangnya kemurnian niat mengajar guru sangat berimbas pada kualitas pendidikan. Dalam kegiatan belajar mengajar, profesionalitas guru kian merosot. Guru mengajar hanya sesuai dengan buku panduan yang amat tipis. Padahal banyak sekali referensi dari buku dan media lain sebagai acuan pembelajaran. Tujuan utama dalam pembelajaran tidak dapat tercapai dengan maksimal. Akibatnya, pendidikan di Indonesia mengalami degradasi, bahkan akan lebih merosot lagi apabila mental materialisme guru terus melekat.
Problem pendidikan di Indonesia akibat surutnya spirit pejuang seorang guru harus segera diatasi. Untuk mengatasi kemerosotan pendidikan di Indonesia yaitu dengan menyulutkan kembali spirit kepahlawan guru. Semangat kepahlawanan guru amatlah penting karena akan memicu guru untuk terus meningkatkan kualitas diri.
Untuk mengentaskan pendidikan di Indonesia dari keterpurukan, maka para guru Indonesia bisa meneladani figur guru di Finlandia. Berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), yang menempatkan Finlandia sebagai negara pertama dengan kualitas pendidikan yang baik.
Kunci dari keberhasilan pendidikan di Finlandia adalah guru yang berkompeten dan berkualitas tingi. Menjadi seorang guru merupakan suatu kehormatan bagi masyarakat Finlandia. Walaupun gaji guru tidak banyak, akan tetapi semangat menjadi guru sangatlah tinggi. Untuk menjadi seorang guru di Finlandia, harus melalui serangkaian proses yang tidak mudah. Lulusan siswa terbaiklah yang mampu melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi sebagai calon-calon guru.
Setelah selesai menempuh pendidikan dan pelatihan, mereka saling berlomba-lomba melamar menjadi guru. Namun, dari tujuh pelamar, hanya satu yang paling berkualitas yang diterima. Kualitas guru di Finlandia patut untuk diberikan apresiasi, dan kualitas tinggi tidak akan tercapai tanpa ada kemurnian niat untuk mengajar.
Guru harus segera menginsafi perannya sebagai pelita masyarakat untuk memberantas buta huruf dan kebodohan. Seorang guru harus sadar akan hakikatnya sebagai warosatu al-anbiya’ yang mengajarkan ilmunya hanya karena mengharap ridlo Allah. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Laili Mahmudah,
Mahasiswi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang,
Anggota Magang Study Bahasa di The Fatwa Center


Post a Comment