Puisi-Puisi Inayah Az Zahra

TANPA JUDUL

Maaf saya tidak dapat menemukan judul yang tepat
untuk untaian kalimat yang hendak saya tulis
hari-hariku dipenuhi oleh suara-suara tak bergetar seperti kemarin....
getaran itu semakin lama semakin sayup...perlahan
getaran itu melemah dan berhenti
seperti denyut nadi anak-anak ingusan
tak terdengar mereka oleh gesekan angin

Jika demokrasi adalah judul terindah bagi suatu bangsa
maka bangsaku hendak menggunakannya pula
mereka mengorbankan jiwa dengan sukarela atau dengan pesan
mereka sama-sama berdarah dan bahkan hilang oleh dahaga tanah
aliran sari-sari makanan kebebasan tak pernah sampai
tersebar ke seluruh tubuh
berhenti mereka di antara lembaran-lembaran kertas berstempel

Maaf jika hidupku adalah demokrasi
nampaknya ia tak punya judul lagi
kadang saya merasa sangat berharga dan ingin hidup
seperti jiwa Chairil Anwar
namun kadang saya menemukan ketidakbernilaian
yang mendorongku untuk mengakhiri hidup
the object of my affection telah mati
bersama judul tulisan-tulisan tentang demokrasi yang semakin kabur

2012-03-11

REDUP CAHAYA REFORMASI

Ada bintang bertaburan di langitku
Bintang kelas sampai bintang tujuh
Bintang tamu juga bintang silat lidah
Bintang lima sampai bintan film begituan
Para bintang hampir tertukar dengan para binatang
Aku mungkin terlalu terburu-buru meng ejanya

Bukan rahasia lho
Kasak-kusuk-kesek-kesek
Banyak kejadian di bawah meja kantor para birokrat
Di tangan mereka ada nasib rakyat
Namun korupsi adalah warisan yang terlampau nikmat

Sebagai abdi negara gajihku terlalu kecil, itu dalilnya
Namun setelah dilipat gandakan
Mereka malah terang-terangan pasang tarif

Sarjana yang lulus tahun ini mulai belajar kepada koruptor
Mau kerja kan? Sediakan uang sekian juta, dijamin beres
Anak lulusan SMU pun sudah belajar pada koruptor
Mau masuk PTN kan? Silahkan sediakan uang sekian juta, dijamin masuk

Para bintang berkedip sesuka hatinya
Rangkaian cahayanya membuat banyak mata menjadi buta
Halalkan segala cara, tak peduli yang lain binasa
Generator negara telah lama berjalan otomatis
Transparansi hanya kata yang teramat simbolis

Mau jadi polisi kan? Silahkan...
Mau jadi tentara kan? Silahkan...
Mau jadi PNS kan? Silahkan...
Mau jadi hansip kan? Silahkan...

Ini kan bukan rahasia
Yang menjadi rahasia kan kenapa tanggal merah bisa keluar SK
sponsor


SAAT KU DI PUNDAKMU

Jika kita tertawa
Seluruh dunia akan tertawa bersama kita
Jika kau di sini tempat ini akan selalu nyaman
Kita terpisah dari jiwamu dan segala sesuatunya tentangmu
Tapi ku tetap dihatiku
Aku tak bisa beri kasih sayang yang layak kau dapatkan
Kesalahan tak akan terjadi lagi
Tapi dimana aku hingga aku bisa mengendalikan diriku?
Airmatamu menjadi airmataku
Bagaimana ini bisa menjadi obat?
Selama bintang masih bersinar
Selamanya ini masih tentangmu
Jangan menangis biarkan ini menjadi kebahagiaan


SUJUD DI KAKI TAHAJUD

Bintang-bintang yang berpijar teratur dalam gugusan
Matahari dan Rembulan yang bersinar
Siapa yang menjadikan keindahan itu semua?
Sudikah aku memetik hikmah dibaliknya?
Aku ingin berjalan di bumi dengan keindahan itu
keredahan hati…
Aku ingin menyalami orang-orang bodoh itu dengan santun salamku
Namun…
Apa aku mampu menjadi insan yang
Berjalan dengan mukjizat itu
Malam ini indah…
Ku berjalan pada malam dengan buta
Kulihat, kurasakan,
Banyak airmata yang menetes dalam sujud di kaki tahajud
Apa yang mereka lakukan?
“Ya Allah, hindari kami dari segala azab-Mu”
Sayup-sayup ku dengar kata itu
Ah, siapa Allah itu?
Gadis mungil lugu berjilbab itu datang menghampiriku
“Tuan,ayo berwudlu kita tahajud dan bersyukur pada Allah”
Dengan penuh kebingungan aku hanya terdiam dan mengikuti
Sujud di kaki tahajud itu membuatku hidup kembali,
Aku tersadar
Aku bersinar
Ah, indah sekali rasanya,menangis dan mengabdi diri pada Tuhan,
Allah tuhanku yang Maha Segalanya
Ya Allah terimalah sujudku, hindari aku dari Azab-mu
Tetaplah bawa aku dalam kidung kasih-Mu

Dibalik firman Al-Furqon ku bersyair
Nurul Inayah, Semarang,22 september 2011


WAHAI HATI

Rasakanlah kenikmatan itu terasa indah
Kala segala keindahan di ciptakan dengan penuh kasih sayang
Allah yang maha mengasihi
Penuh dekapan kasih dengan segala ciptaanya
Wahai hati. . .
Sadarkah betapa indah kau diciptakan
Aliran darah yang mengalir, nafas yang tak henti berhembus, peluh yang tiada henti menetes…
Sadarkah matahari yang begitu indah menyapa pagi
Rembulan yang begitu teduh dengan senyuman
temani malam dalam tahajudmu
Langit yang kokoh berkidung dalam dzikirnya
Wahai hati . . .
Tak kah kau sadari betapa keseimbangan alam menjadi abdi bagimu
Karna siapa?
Karna Rabb-mu mencintaimu
Cinta yang haq dengan penuh kasih sayang
Wahai hati. . .
Pernahkah kau bersyukur atas segala keindahan yang mengalir didarah, di nafas, bahkan di perutmu?
Lihatlah hamparan hijau pepohonan dan buah-buahan
Mampu membuatmu kenyang hingga dapat bersujud pada Rabb-mu
Pernahkah kau rasakan betapa manisnya buah kurma yang kau kecap?
Dapatkah kau hirup aroma bunga yang bermekar cantik seperti dirimu?
Subhanallah. . .
Tiada dusta dibalik keindahan-Nya. . .
Semua untukmu Wahai hati
Semua untukmu yang terkasih. . .
Sujudlah. . .
Rasakan keindahan abadi mengalir dalam tangis sukurmu

Semarang, 21 september 2011
Dalam tangis sujud Ar-Rahman



Post a Comment