Puisi-Puisi Muhammad Riyan

MINYAK TUMPAH

Minyak tumpah ruah di jalanan
Mengalir membanjiri negeri yang berbau anyir
Kemudian dihisap mulut-mulut pejabat
Hingga kembung perut yang gendut
Rakyat menelan mentah-mentah
Ampas busuk yang membuat muntah
Hingga mulut berdarah-darah
Berteriak di tengah huru-hara

JARAK PERJUANGAN
Jarak kian mendekat
Perjuangan di tengah perdebatan
Antara kemiskinan dan keuntungan
Sebenarnya siapa yang diuntungkan
Dan siapa yang dirugikan?
Perjuangan kita entah dimana
Di negeri entah berantah
Di setiap sudut kedustaan dan kemunafikan.

RASUL YANG BERTAMU
Pintu rumahku diketuk
Namun tak ada siapapun yang masuk
Juga tak ada rasul yang diutus untuk datang bertamu
Oh sang Nabi
Kutunggu kedatanganmu
Datanglah dan buatlah damai
Hingga senja tanpa mega merah

SATU
Andaikata kita mempunyai jarak
Masih bisa aku merangkak ke tempatmu
Andaikata kita tak boleh bertemu
Masih bisa aku datang sekedar bertamu
Tak ada ruang untuk rindu
Karena kita sudah menyatu
Ragaku tak tentu
Karena kita sudah berlalu

Semarang ,29 Juni 2012


Muhammad Riyan, 
penggiat di Komunitas Waroeng Sastra, Farabi Institute, 
dan Mahasiswa Walisongo Pecinta Alam (MAWAPALA)




Post a Comment