Manusia Berlumpur

Cerpen

Oleh Muhammad Mak Al-Fine

http://eminxsgallery.multiply.com
Meranggas menyusuri tanah kering tak bertuan. Mencari segelas air melepas dahaga tenggorokan yang sudah dirampas cahaya terang. Tanah berlipat-lipat mengadah mencari celah sebesar-besarnya untuk menerima sebuah anugerah dari langit yang masih bersih dengan kebiruan. Daun-daun berlipat kering. Merona warna kuning kecoklatan. Ribuan pohon meranggas dadakan. Meninggalkan ranting-ranting bertelanjang. Pohon mahoni masih meninggalkan keindahan, buah yang lonjong berwarna coklat apabila mekar dan pecah akan menjadikan fenomena yang indah. Ratusan biji kitiran jatuh malayang di udara.
Di sawah yang terbentang di antara garis-garis melintang, membuat mata terpental-pental cahaya. Rumput liar yang tahan akan cahaya terus tegak melihatkan keelokan. Sawah bukan tempat tumbuhnya padi lagi. Kini hancur di makan kemarau panjang. Sawah tadah hujan yang terbentang di sisi salatiga paling barat. Dulu sebelum ada perumahan dumai. Pengairan dari Salatiga berjalan lancar. Sehingga lahan sawah bisa digarap setiap waktu. Setelah berdiri bangunan-bangunan kokoh itu. Pengairan terputus.
Di perbatasan salatiga dengan Kabupaten Semarang. Terbentang lebar sawah berpenghuni. Mata air yang tak pernah surut menjadi modal utama untuk menghidupkan sawah itu terus menumbuhkan beratus-ratus padi. Tak ada yang menandingi kesuburan tanah yang bertuan setiap hari. Orang-orang mengumpat iri. Dendam tak berperi. Menangisi kekikiran pemilik sawah yang penuh dengan air berisi. Meskipun sebagian sawah lain terisi dengan sisa air yang sudah basi.
Mbah Pasi tidak peduli dengan ocehan tetangga-tetangga yang grundeli. Ia santai-santai saja menikmati sawah yang setiap hari digarap. Tanpa risih badan sudah berwarna hitam pekat menggantikan warna alami. Dia memikirkan bagaimana sawahnya bisa hidup setiap hari. Bermodal tenaga dan ketekunan setiap hari, dengan ditambahi ejekan para petani yang meremehkan usahanya mencari mata air di tanah kering ini. Usaha dalam doa turut mengiringi. Mbah Pasi dengan pasti dan keyakinan tinggi, terus mencari.
Alhasil. Tanah yang semula kering berbulu rumput liar. Kini tiap hari bermandi air dari hasil keringatnya sendiri. Semua petani jadi iri. Mereka ingin mencuri tapi Mbah Pasi selalu menjaga dengan hati berteduh di sawah setiap hari. Dikerahkan lelembut untuk menjaga di malam hari.
“Kenapa kamu di sini?” Tanya Mbah Pasi, geram.
“Ampun Mbah. Saya minta maaf. Saya sudah berani mencuri air milik mbah?”
“Enak saja minta maaf. Dulu kamu dan teman-temanmu mengejekku setiap hari bahkan tak segan-segan melempar kotoran kalian ke mukaku. Sekarang ke sini mencuri sesuatu yang kalian ejek dulu. Apakah itu patut kalian lakukan?”
“Saya kilaf Mbah. Tolong lepaskan. Lumpur yang menjerat kakiku sejak tadi malam. Saya tidak akan mengulangi lagi, Mbah”. Sambil menahan dingin, bau kotorannya sendiri sudah mengeras di celana.
Kejadian pagi buta itu menyebabkan Jumadi kualahan atas tingkah lakunya mencuri air milik Mbah Pasi. Tapi dalam hatinya masih bergejolak iri dan dendam atas perilaku anak buah Mbah Pasi. Ia pulang dengan pakaian penuh lumpur yang bercampur dengan air kencing dan kotorannya.
Mbah Pasi terus menjaga sawah dan mata airnya dengan ketat. Padi yang mulai menguning mengundang burung-burung untuk melakukan penganiayaan yang keras. Orang-orangan ditancapkan di setiap sudut dan tengah sawah. Burung-burung masih bergerak akan nalurinya. Mereka tidak gentar dengan patung yang terbuat dari jemari, berbaju manusia dan bercaping miring.
Mbah pasi tidak kalah otaknya dengan keberanian burung-burung emprit. Ia membuat kincir angin yang bisa menimbulkan bunyi. Namanya otok-otok. Pertama kali ditancapkan di tengah sawah, burung-burung sepi menghampiri padi yang sudah renyah untuk digiling. Mbah Pasi tersenyum atas akalnya yang bisa mengusir burung-burung itu. Meskipun ada satu dua yang masih nekat mencuri secuil padi. Mbah Pasi terus waspada. Ia tahu bahwa burung emprit seperti manusia. Hari ini mereka takut. Tapi keesokan harinya pasti berani datang untuk melakukan aksinya.
Benar sekali apa yang dipikirkan Mbah Pasi. Ribuan burung emprit menyerbu dengan ganas. Berlari-lari menyusuri galengan sawah. Mengusir sayap yang belum sampai menginjakkan kakinya di tangkai pohon padi.
Seharian tanpa henti digoda burung-burung kecil berwarna coklat. Ia harus memutar otak. Ia ciptakan alat baru berupa kaleng di gantungkan di sepanjang sawah dengan tiang yang berurutan. Tong berbunyi ketika di tarik-tarik tali yang saling menyambung. Ia tidak lagi berlari-lari. Cukup berteduh di gubuk kecil. Suara itu mengagetkan burung-burung emprit. Ada segerombolan emprit yang membesi dan tuli asik memakan padi yang kuning keemasan. Mbah Pasi sudah sedia jaring besar, lempar seketika mengenai kelompok emprit yang tertangkap jebakan. Jadi makanan siang. Disembelih dan dibakar.

***
Panen sudah di depan mata. Mbah Pasi tidak menyuruh tetanga-tetangganya untuk membantu memanen padinya. Tapi ia menyewa para penebang padi dari luar desa. Padi dimasukkan ke karung. Kemudian diangkut ke tempat penggilingan. Langsung terbang ke tengkulak-tengkulak pasar.
“Alhamdulillah, Bu. Hasil panen padi kita selalu meningkat tiap panennya,” ujar Mbah Pasi ketika sedang beristirahat di teras rumahnya.
“Tapi bapak tidak boleh sombong dan tafakkur. Kasihan tetangga-tetangga kita, Pak. Mereka membutuhkan air untuk sawah mereka di kala musim kemarau”.
“Mereka ya harusnya menanggung apa yang mereka lakukan kepada bapak dulu. Mereka mengejek bapak waktu mencari sumber air di sawah kita. Tiba-tiba mereka merengkek minta belas kasih. Cuih. Bapak tidak akan mengalirkan air itu ke sawah mereka,” jawab nya.
“Apa bapak tidak tahu yang terjadi setelah si Jumadi semalaman di sawah Bapak?”
“Memangnya ada apa dengan Jumadi”
“Denger-denger dari tetangga. Ketika ibu membeli sayur di pasar, Jumadi tidak terima dengan apa yang bapak lakukan. Terutama makhluk lelembut yang Mbah pelihara”
“Ya silahkan kalau dia tidak terima”.

***
Malam bertabur bintang melambaikan sayap untuk pergi menghindari mentari yang sudah mencolok-colok cahanya. Mbah Pasi  dengan peralatan sawah sudah siap. Membajak, mencangkuli, memperbaharui dan mengairi sawah.
“Saya mau cuci muka dulu di tempat mata air. Boleh to, Mbah?” Pinta tukang traktor yang disewa Mbah dari desa sebelah.
Tukang traktor langsung menuju ke tempat sumber air hasil pencarian selama tujuh hari tujuh malam.
“Saya bajak sawahnya setengah hari saja, Mbah. Sisanya besok saja”
“Tidak apa-apa. Biar nanti saya cicil sendiri dengan cangkul. Ya sambil membuat galengan biar mulus”

***
Petang menjemput. Mbah Pasi sudah minum kopi di atas kursi malasnya. Istrinya menyediakan masakan kesukaan suaminya. Nasi kuluban, sambal kelapa di tambah lauk ikan asin. Tapi petang ini Mbah Pasi masih di sawah. Istrinya kuatirkan suaminya itu. Ia menyusul ke sawah. Menelusuri jalan setapak yang sekaligus sebagai pembatas sawah. Dari jauh Mbok Yem sudah mengarahkan cahaya senter ke gubuk suaminya. Namun tak ia dapatkan Mbah Pasi di sana. Semakin cepat ia berjalan menuju gubuk. Semakin gusar pula keadaan hatinya.
“Bapakkkk…….”
Mereka menghabiskan malam bersama lumpur yang mbah Pasi ciptakan. Tangisan lelembut meraung-raung. Terbang di atas perkampungan. Ada yang mendengar adzan, kemudian meneruskan tidurnya. Telinga yang peka segera keluar mencari sumber tangisan itu.
Segerombol rombongan masyarakat yang resah dengan suara aneh. Berkumpul pada satu titik, tepat di tubuh Mbah Pasi yang sudah kaku penuh lumpur. Belum ada satupun yang berani mengangkat nyawanya, sebelum ahli spiritual datang.
Di balik kegelapan, semak-semak kecil ada sekolompok orang tertawa sinis. Bersalaman. Puas.


M Maksum (Muhammad Mak Al-Fine), tinggal di dusun Brajan yang terbelah JLS, Desa Blotongan, kota Salatiga, Jawa Tengah. Beberapa karyanya dimuat di media massa. Sekarang mengabdi di MI Global Blotongan Salatiga dan dengan teman-teman mendirikan SGK (Sanggar Gubuk Kata).

Post a Comment