Agata

Cerpen

Oleh Asih Prasetiyawati

Foto: kapanlagi.com
Jangankan dokter, tukang ojek di komplek saja malas menujukan matanya padaku. Jadi wajar saja kalau Dante sangsi. Otaknya jenius, dia lulusan kedokteran di fakultas ternama di Jakarta. Tubuhnya meski tidak terlalu tinggi terlihat wibawa saat berjalan di hadapanku. Aku hanya mampu menyimpan seabrek cinta pada cucian baju kotornya.
        Walau begitu, Dante tidak tahu aku mahir fesbukan seperti teman-teman rumah sakitnya. Temanku di jejaring sosial lebih banyak darinya, kuharap dia tidak kaget Entin yang dia panggil sehari-hari di rumah berubah menjadi Agata dalam halaman novel koleksinya. Bukankah pembantu juga berhak populer?
Dibandingkan dengan Dante, umurku juga tidak jauh beda. Dante hanya menyisakan dua tahun lebih tua dariku. Lalu apa yang kulakukan selama ini dosa? Aku mencuci pakaiannya dan hafal dengan bau keringatnya, aku menyetrika bajunya dan hafal bau parfum yang tertinggal di bajunya. Aku membuatkan kopi setiap pagi dan hafal berapa gram gula yang pas di lidahnya. Apakah ini karena kebiasaan? Tidak. Aku tertarik padanya lebih dari semua kebiasaan itu.
Dante akan terperanjak ketika tahu novel yang ia simpan di balik bantal putihnya adalah tulisanku.
 "Agata, kalau aku bertemu denganmu, pasti sudah kupeluk," samar kudengar Dante berbicara dengan novel di tangannya. Ia kemudian mencium novel itu.
Sementara lubang pintu di kamarnya terlalu kecil, aku hanya mampu melihat geraknya berkelebatan di atas tempat tidur.
Dokter mana pun juga akan kaget melihat penulis aslinya adalah seorang pembantu bergigi tonggos.
        Paginya aku berani menyapa Dante di ruang makan. Seperti biasa, ia wangi dan rambutnya tertata begitu rapih. Pandangan matanya begitu dalam ketika menatap seseorang. Wajahnya teduh dan bersih. Sepotong roti dengan taburan meses kusajikan di piring putih di hadapannya.
        "Sudah sana!" sergah Dante ketika aku masih berdiri di sampingnya. Betapa menampar sekali perintahnya. Andai saja ada malaikat tahu, atau melihat, aku berdoa saja begini: "Dengarlah malaikat, dia begitu sinis padaku. Aku ingin jadi Agata. Agata yang cantik dan berkulit mulus. Agata yang giginya putih dan rapih seperti deretan pualam putih di laut. Sampaikan pada Tuhan aku ingin memiliki kaki jenjang dan bodi montok seperti dokter kecantikan yang selalu mengejar-ngejar dia. Dengarlah. Dengarlah!"
        Aku berbalik badan. Memutar tubuhku dengan pelan. Ketika itu detik per detik sangat kuhayati dengan harapan Dante akan mencabut perkataannya dan memanggilku untuk minta maaf. Tapi..
"Tunggu apa lagi, cepat pergi!"
Seketika itu aku tahu malaikat tidak pernah main pada tubuhku. Kupikir malaikat masih betah pada tubuh Alysa, pengagum berat Dante. Rambutnya curly-nya dia biarkan menjuntai harum hingga ke pinggang, dan aku tahu, ketika dia mampir ke rumah Dante pukul delapan malam, ia sudah menghabiskan berjam-jam waktunya di salon langganan majikan Jum.
Matanya lentik dengan hiasan eye liner mahal yang kutahu sering digunakan sebagai make-up artis, begitu pun blash on-nya mungkin berharga tiga kali lipat dari upahku sebulan. Inilah yang kusangka curang. Malaikat bersemayam pada wanita sekelas Alysa saja, dan meninggalkan wanita sepertiku. Ketika dia berjalan, high-heelnya mengetuk-ketuk tanah seolah mengundang mata dunia untuk menatapnya. Tidak rugi lifestyle Alysa. Tukang ojek dan satpam di komplek ini sangat tergila-gila dan selalu menunggu perempuan anggun itu pukul delapan malam.
Aku tidak mengerti apa arti cinta di mata para pria. Ibuku mengatakan bahwa arti cinta akan berbeda ketika sepasang manusia tumbuh dewasa. Ibu bersedia menikah dengan ayah karena dijodohkan. Ketika ku tanya apakah ibu bahagia, apakah ibu mencintai ayah, ibu hanya terkekeh lalu menjawab enteng: “Kalau tidak cinta, mana mungkin akan ada kamu di dunia ini.”
Tapi aku tidak puas dengan jawaban ibu. Ibu selalu bilang kalau aku juga harus menjadi wanita yang menurut pada suami, menjaga perasaan suami, melayani suami dengan sepenuh hati, jangan terlalu lama marah pada suami ketika suami madon’. Lalu di mana letak kebahagiaan seorang wanita dalam kehidupan rumah tangga? Kenapa wanita harus dituntut lebih legowo dari kaum pria? Lagi-lagi ibu hanya menggeleng-geleng kepala, katanya aku terlalu seperti orang Barat. Sesudah itu, ibu menasehatiku agar tidak menjadi wanita yang ngeyel dalam urusan bahagia.
Malam hari setelah memungkiri nasehat ibu, aku justru mimpi aneh. Malaikat mendatangiku. Itu terjadi saat umurku 17 tahun. Dia berkata agar aku terus menembus pertanyaan besarku tentang cinta. Malaikat memberi sebuah buku kira-kira besarnya dua kali tubuhku. Perlahan dengan tubuh gemetar dan keringat dingin yang menderas, ku buka satu per satu halaman buku. Pada halaman 299 ku baca ada nama Agata. Sekali lagi ku eja: A-G-A-T-A.  
Beberapa saat kemudian aku terpental dari buku yang ku baca dan diakhiri dengan suara lonceng yang gemerincingnya lebih keras dari suara pedati sapi di desaku. Kukira itu Jibril. Keesokan harinya nama Agata benar-benar muncul dalam saku dasterku. Kukira Jibril telah menyelipkan nama itu ketika aku tidur malam itu.
Dante juga tidak tahu kalau pembantunya pernah sekolah sampai SMA. Dia hanya mengira aku layaknya Minah atau Jum, pembantu komplek yang sering ngerumpi dan tidak begitu ngerti tentang cerpen dan aritmatika. Betapa sering dia tertipu. Itulah kenapa sampai saat ini dia membenci perempuan tapi tidak mau disebut seorang homo. Dia tertipu oleh Alysa. Pertengkaran yang kusaksikan 3 tahun lalu di depan ruang makan.
Bulsit dengan perkataanmu Lysa!. Kukira kamu setia. Lalu siapa lelaki yang hangat di pelukanmu itu? Anakmu? Anakmu berusia sepantaranmu?!”
Otot leher Dante membesar tiga kali lipat. Suaranya yang gegar hampir saja meretakkan piring-piring di dapur.
“Dengar dulu. Dia hanya mantanku dan ayah anakku. Tidak lebih!” Suara Alysa lebih nyaring dari Dante. Wajahnya hampir tenggelam oleh air mata.
“Kau bilang hanya?! Kau penipu. Kau bilang masih perawan. Ah pokoknya kau penipu! Selama tiga tahun kau gilir aku dengan lelaki itu. Penipu!”
Semenjak itu aku mengerti Dante adalah orang paling tertipu. Siapa sangka dokter semolek Alysa telah memiliki anak tanpa pernikahan. Siapa sangka pula orang sejenius Dante tidak mampu membaca keadaan pacarnya. Maka kupikir Alysa memang beruntung dikelilingi malaikat. Dia selalu pandai memainkan keindahan.
Boleh jadi Dante sudah patah beribu patah hati. Perpisahan dengan Alysa membuat dia menjadi pria dingin dan ketus. Jangankan melemparkan sedikit senyum padaku, pada perempuan cantik mana pun dia enggan melakukannya. Apakah Dante depresi? Karena kesedihan mendalamnya itulah ku buat sebuah novel bernama pena Agata. Ya. Agata.
Wanita sempurna yang diinginkan Dante tertuang pada setiap karakter yang dimainkan Agata. Mungkin itulah yang membuat Dante sering  mencumbu novelku dan menidurinya setiap malam. Aku ingin menyurupi dan menikahinya lewat novelku. Karena pada kenyataannya, Dante akan muntah atau bisa jadi anfal ketika melihat tokoh yang begitu sempurna adalah seorang pembantu tonggos yang memberinya sarapan setiap pagi.
***
             
Asih Prasetiyawati, lahir di Tegal, 14 Juni 1990. Menulis cerpen dan puisi. Cerpennya “Cahaya Beranda” pernah dimuat di Buletin Pustaka Semarang. Puisinya pernah dimuat di Buletin Jejak Edisi November 2012, Antologi Puisi “127 Penyair dari Sragen Memandang Indonesia” (Dewan Kesenian Daerah Sragen, 2012), dan Mekanika Kuantum-Long Distance Relationship (GoresanPena Publishing, 2012). Tinggal di Tegal.

Post a Comment