Jalan Panjang Penegakan HAM

Oleh Hendra Sugiantoro

Judul Buku   : HAM: Politik, Hukum & Kemunafikan Internasional
Penulis              : Hamid Awaluddin
Penerbit             : Kompas, Jakarta
Cetakan             : I, 2012
Tebal                : xviii+286 halaman
ISBN                 : 978-979-709-636-6
       
        Buku karya Hamid Awaluddin ini mencoba memberikan pemahaman dan motivasi untuk memperjuangkan penegakan hak asasi manusia (HAM). Apabila kini HAM menggeliat di berbagai lini kehidupan, hal itu patut disyukuri. Fakta bahwa setiap masalah di dunia ini senantiasa dikaitkan dengan HAM perlu didukung. Sebut saja masalah korupsi. Kini praktik korupsi tidak sekadar dipandang sebagai penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan, tetapi juga termasuk pelanggaran HAM.
Dengan demikian, pemberantasan korupsi menjadi salah satu agenda HAM yang mesti diperjuangkan. Lewat praktik korupsi, pelanggaran HAM telah dilakukan koruptor yang menciderai hak hidup rakyat. Aset atau uang negara yang idealnya digunakan untuk kepentingan publik, tetapi hanya dinikmati oleh para koruptor.
Selain kasus korupsi, perhatian serius perlu ditujukan pada kecenderungan konflik komunal. Konflik komunal ini tidak hanya di Indonesia, tetapi juga terjadi di belahan bumi lainnya. Entah apa motif dan latar belakangnya, konflik etnik, suku, ras, dan agama kerapkali mengemuka. Kekerasan yang menyeruak dan mengorbankan nyawa manusia, terutama kalangan rentan seperti perempuan, anak-anak, dan orangtua akibat konflik komunal jelas melanggar HAM. Jika pun lolos dari kematian, mereka akan berhadapan lagi dengan kegetiran hidup yang harus dihadapi akibat konflik.
        Begitu pula soal perdagangan manusia dan anak-anak. Dalam era yang sangat terbuka saat ini, praktik perbudakan kembali terjadi, kendati dalam bentuk dan modus operandi yang berbeda dengan praktik perbudakan di abad-abad silam. Kini manusia memang tidak dipekerjakan dengan ideologi perbudakan berdasarkan warna kulit, tetapi manusia diperjualbelikan berdasarkan hukum penawaran dan permintaan.
Perdagangan manusia dan anak-anak telah memarjinalkan HAM karena orang-orang yang jadi korban tersebut tidak diberi kebebasan dalam menentukan langkah kehidupannya. Kekerasan fisik maupun kekerasan nonfisik selalu menjadi cara utama dalam menjalankan dan melanggengkan misi perdagangan manusia dan anak-anak tersebut. Tidak dimungkiri bahwa perdagangan manusia telah berpenetrasi ke berbagai negara. Ada negara yang dijadikan sebagai tempat pemasaran. Ada negara yang dijadikan sumber manusia dan anak-anak untuk diperdagangkan di antaranya adalah Indonesia.
Selain korupsi, konflik komunal, dan perdagangan manusia dan anak-anak, agenda HAM lainnya yang perlu diselesaikan masih begitu banyak. Hamid Awaluddin menegaskan agenda HAM senantiasa harus dikuatkan sampai tidak terjadi lagi penindasan, pelecehan, dan eksploitasi negatif terhadap eksistensi kehidupan manusia. Martabat manusia di muka bumi ini selayaknya mendapatkan penghargaan semestinya (hlm. 253-277).
Dalam buku ini, arogansi negara-negara kuat seperti Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara Barat yang justru menghambat penegakan HAM juga mendapatkan sorotan dan kritik. Dalam praktik HAM, AS dan negara-negara Barat lainnya kerapkali berstandar ganda. Selama kepentingan nasional mereka terpenuhi, mereka tidak peduli apakah ada pelanggaran HAM atau tidak. Kita tentu kecewa dengan standar ganda yang dilakukan sejumlah negara yang mengklaim sebagai kampiun demokrasi dan pelopor penegakan HAM tersebut. Kekecewaan itu seringkali kita refleksikan dengan istilah kemunafikan Barat (hypocrisy of the west). Lewat buku ini, Hamid Awaluddin memaparkan beberapa kasus kemunafikan AS dan beberapa negara Barat di mana dalih penegakan HAM malah cenderung melanggar dan mengabaikan HAM.
Memang harus diakui penegakan HAM di dunia ini ternyata bukan perkara mudah. Berbagai tantangan dan hambatan kerapkali mencuat, sehingga harkat dan martabat manusia belum dimuliakan sebagaimana mestinya. Lewat buku ini, kita menyadari bahwa penegakan HAM memerlukan nafas panjang. Kita jangan menyerah dan perlu terlibat aktif dalam penegakan HAM dengan memberikan kontribusi signifikan.

Hendra Sugiantoro,
pembaca buku, berdomisili di Yogyakarta

Post a Comment