Menjelajah Eropa Modal 400 Dolar

Oleh Moh. Romadlon

Judul Buku           : Travellous
Penulis                : Andrei Budiman
Penerbit              : B. First, Yogyakarta
Cetakan              : I, Februari 2012
ISBN                  : 978-602-8864-48-0
Tebal                  : viii + 240

Buku ini merangkum perjuangan sang penulis dalam mewujudkan impian masa kecilnya; menjelajah Eropa. Bagi backpacker seperti penulis buku ini, semua harus dilalui, mimpi harus diwujudkan tak peduli seberapa besar rintangan yang mesti ditaklukkan. Lewat buku ini, Andrei Budiman bisa membuktikan kepada teman-temannya di waktu kecil bahwa semua mimpi, asal diyakini dan diperjuangkan, pasti akan menjadi kenyataan.
Saat di bangku kuliah dulu, dia diajak backpacker cewek untuk pergi traveling keliling Eropa.Ia dapat undangan berkunjung ke sebuah keluarga di Belanda. Andrei langsung menyanggupi karena kesempatan tak datang dua kali.
Namun, pergi ke sana tak semudah yang dibayangkan. Masalah keuangan menghadang Andrei. Setelah utang sana sini, tetap saja dananya tak mencukupi standar traveling. Meski visa sudah di tangan, tetap saja dia ditinggal oleh rekan backpacker-nya.Kenyataan ini hampir mematahkan semangat.
Jalan kedua muncul. Lewat internet dia menemukan pengumuman dari sebuah perguruan tinggi di Perancis, UniversitéLumieréLyion 2, yang mengadakan workshop dan mengundang peserta dari berbagai negara untuk belajar singkat di sana.  Mesti hanya biaya pendidikan dan akomodasi yang ditanggung, Andrei nekad daftar. Dasar nasib, ia pun diterima. Ini tidak langsung memuluskan niatnya karena ternyata, harga tiket ke sana selangit.
Dia tak mau menyerah.Perburuan tiket murah pun dilakoni.Dia terbang dari Batang ke Singapura. Ternyata tiket ke Eropa pun tak jauh beda dari Jakarta; selangit. Biaya hidup pun tak bisa dibilang murah.Akhirnya, Andrei memutuskan untuk segera pergi ke Kuala Lumpur.Di sinilah, di travel agency kecil, dia mendapatkan tiket Eropa PP dengan harga cuma 400 dolar. Tentu setelah berhasil merayu habis-habisan sang manager agency, Cik Fiona. Eropa kembali menjelma di matanya.“Nah, Jerman, kamu dulu yang aku garap!” katanya. (hlm. 22)
Setelah transit di Thailand, sekitar jam 7.00 pagi waktu setempat, pesawat airbus yang dinaiki, mendarat di Bandara Jerman. Tujuan pertama sebelum Paris adalah ke Belanda, ke tempat Mr. Wall yang mengundangnya itu. Begitu girang bisa sampai di sana hingga kesedihan menyeruak tatkala uang di ATM-nya tak bisa diambil, sementara uang di saku tinggal € 7.
Tak ayal,Andrei sendirian tersekap di airport tanpa uang tanpa pulsa.Sampai akhirnya dapat pinjaman HP dari polisi bandara untuk menghubungi satu-satu orang yang mungkin bisa menolong, Mr. Wall.Setelah semalaman tersekap, akhirnya utangan 250 dolar pun sudah ditangan.
Banyak kisah manis dan pahit yang dialami Andrei selama tinggal bersama keluarga Mr.Wall. Terutama kisah saat ia bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT dan advertising.
Kisah pahitnya, saat dia harus bangun pagi buta, lalu bersepeda pulang pergi dari tempat kerja yang jaraknya 5 km, melewati 5 jembatan, menembus cuaca yang teramat dingin dengan perut yang hanya diisi roti dan keju. Gara-gara iyu, tubuhnya kerap ‘protes’ minta nasi sampai muntah-muntah.
Kisah manisnya, walau cuma 11 hari, dia tercengang, ternyata kerja di sana dihitung per jam, sehingga ia digaji 650 dolar ditambah uang lembur, setara Rp. 8.450.000,-. “Di dompet ini saya punya uang yang akan mewujudkan impian masa kecil saya, menaklukkan Eropa,” tulisnya. (hlm. 61)
Dari tempat Mr. Wall, Andrei mampir selama 2 hari di Belgia. Dari sana dengan kereta ia menuju Brussel. Puas berfoto di Grance Palace -tempat berdirinya bangunan-bangunan tuan yang artistik- dan di tempat yang jadi ikon Brussel, yakni MannekenPis(patung sosok anak kecil yang lagi pipis), ia ke Stasiun Bruxellesuntuk menuju Perancis.
Sampai di Stasiun Paris Nord ia langsung melanjutkan jalan dengan kereta metro menyambangi impiannya, Eiffel Tower. Saking asyik dan takjub bercampur lelah, ia tertidur di bawah keajaiban dunia ini hingga bangun sudah pagi dan sepi, tinggal ia sendiri. (hlm. 73)
Paginya ia mengunjungi Museum Louvre dan monumen Arc de Triomphe. Karena mampir-mampir inilah dia sempat telat untuk datang ke kampus yang menyelenggarakan workshop film itu.
Selama jadi mahasiswa di sana inilah banyak sekali pengalaman dan ilmu baru, khususnya dalam hal per-film-an yang dikeruk penulis buku. Banyak teman baru dan kehidupan masyarakat Perancis yang dikenalnya.Banyak kisah lucu, sedih, bahagia bercampur rasa cinta berjalin-sulam begitu seru, haru dan asyik untuk dibagi dengan para pembaca. Banyak juga kota dan tempat wisata yang dikunjunginya, baik yang didatangi dengan naik kereta atau cukup menumpang kendaraan yang lewat ala backpacker.
Semua kisah perjalanan ini selain asyik untuk dibaca, dijamin membuat juga membuat Anda tertawa karena disajikan dengan gaya fiksi popular. Semangat penulis dalam memperjuangkan impiannya menyambangi Eropa patut dicontoh oleh siapa saja. Selamat membaca!

Moh. Romadlon, penulis lepas dan penyuka buku, tinggal di Desa Rantewringin, Buluspesantren, Kabupaten Kebumen.

Post a Comment