Merenungi Sejarah Wayang

Oleh Den Rasyidi Az

Judul          : Atlas Tokoh-Tokoh Wayang
Penulis       : Rizem Aizid
Penerbit      : Diva Press
Tahun         : 2012
Tebal         : 352 Halaman
ISBN          : 978-602-191-250-8

Terdapat perbedaan perspektif mengenai definisi wayang. Namun yang jelas, seperti yang di ungkapkan Aizid dalam buku ini, semua definisi yang ada sepakat bahwa wayang merupakan bentuk tiruan manusia yang terbuat dari kulit, kardus, seng, atau bahan-bahan lainnya yang melambangkan watak manusia (hlm. 21).
Sebagian sejarawan mengatakan lahirnya wayang pada sekitar 1500 SM. Wayang yang berkembang di Jawa adalah hasil impor budaya India yang datangnya bersamaan dengan Agama Hindu ke Jawa. Sepertinya hal ini memang dapat diterima, sebab pada masa Prabu Erlangga, Raja Kahuripan (976-1012), sudah ada pementasan wayang, yang pada saat itu penduduk Jawa beragama Hindu.
Menurut Prof. Schlegel dalam Buku Chineesche Brauche Und Spiele In Europa pada pemerintahan Kaizar Wu Ti, sekitar tahun 140 Sebelum Masehi (SM), ada pertunjukan bayang-bayang semacam wayang di Cina. Pertunjukan ini kemudian menyebar ke India. Dari India kemudian dibawa ke Indonesia.
Sekalipun orang Indonesia mengatakan wayang adalah murni budaya seni yang lahir di Jawa, namun kita sulit untuk menyanggahnya jika dihadapkan pada dokumen sejarah. Lebih jelasnya, pada abad ke-4 orang-orang Hindu, terutama para pedagangnya datang ke Indonesia. Pada abad ke-9 mulai bermunculan cerita dengan bahasa Jawa kuno dalam bentuk kakawin yang bersumber dari cerita Mahabharata dan Ramayana, seperti Arujunawiwaha karangan Empu Kanwa (hal. 31).

Filosofi Seni Wayang
Terlepas dari perdebatan di atas, ada hal yang lebih penting untuk diketahui. Wayang, bukan sekadar budaya yang membudaya tanpa makna. Meskipun cerita di dalamnya bukanlah suatu cerita yang nyata sesuai fakta, atau cerita itu memang benar-benar ada yang diceritakan kembali, yang pasti, wayang mempunyai makna filosofis terkait kehidupan manusia dan hubungannya dengan Tuhan.
Sesuai yang didefinisikan banyak sejarawan, bahwa wayang hakikatnya adalah bayang-bayang watak manusia yang berada di bawah kekuasaan penuh Tuhannya. Semua sifat manusia dan Tuhan tergambar dalam suatu pewayangan. Lewat dewa dewi yang diceritakan, kita tahu bagaimana Tuhan mempunyai sifat kasih, sayang dan perkasa. Sebab dewa dan dewi tersebut tak alain adalah manifestasi dari kekuasaan dan sifat Tuhan. Ia yang membantu pekerjaan sulit manusia. Melalui tokoh-tokohnya kita sadar bahwa manusia tak selamanya benar dan tak selamanya salah, ada yang baik dan buruk yang menghiasinya.
Selebihnya, dalam pementasan wayang, dalang menjadi penguasa seutuhnya atas kehidupan para wayang. Mereka hanya bisa menjalankan seperti apa yang diperintahkan dalang, bila dalang berkehendak mematikan atau melemahkan mereka, Kun Fayakun, maka semua itu akan terjadi.
Manusia sepenuhnya ada di tangan Tuhan yang Maha, bagai dalam pewayangan. Tuhan mempunyai otoritas tertinggi pada makhluknya, Ia adalah dalang yang mengatur hidup manusia. Ia juga yang menentukan manusia harus seperti apa. Maka tidak salah jika kemudian sebagian dari agama yang masuk ke Indonesia, menjadikan wayang sebagai media dakwah, dan terbukti ajaran yang disampaikan mudah diterima oleh masyarakat.
Wayang tidak hanya mengandung budaya yang minta dikenang atau di-sejarah-kan, akan tetapi juga budaya yang harus dipelajari dan direnungi. Ada nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap cerita dan penokohannya —yang merupakan salah satu jalan harmonisasi kehidupan bila mampu diaplikasikan. Semisal sikap sabar, berlaku adil, dan bertata krama dengan sesama manusia.  Aizid juga menambahkan bahwa wayang bukan hanya pergelaran yang bersifat menghibur, tetapi juga serat akan nilai-nilai falsafah hidup (Hal. 15).
Tak salah lagi buku ini berorientasi mengabadikan wayang supaya tidak tertimbun oleh arus modernisasi sebagaimana budaya-budaya tradisional yang lain. Wayang sebagai ciri khas budaya Jawa yang mempunyai kaitan erat dengan masuknya ajaran-ajaran agama. Tentu sangat disayangkan bila tertimbun budaya luar begitu saja.

Den Rasyidi Az, aktif di kajian diskusi Lingkaran Metalogi, Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Post a Comment