Puisi-Puisi Sami’an Adib

Puisi


Satu Malam Seribu Cinta

aku dengar rancak irama dzikir
dari dengkur yang kau tabuh sangat teratur
mencipta suasana magis penuh debar
serupa madah tafakur para musafir
yang hendak singgah di telaga kautsar

aku lihat sekuntum senyum
yang kau sembulkan dari mimpi-mimpimu yang ranum
bersama igauan yang tak sanggup kurekam
tapi kuyakin kau sedang bertukar senyum
dengan Tuhanmu yang Maha Anggun

aroma nafasmu lezat menujah rongga dada
menebar benih rindu dalam lapar dan dahaga
di sebentang oase sebulan puasa
kelak bisa kembali kau ziarahi sebagai peta
pemandu menuju pintu-pintu surga

malam ini benar-benar hening tapi penuh nyala
bulan yang sabit tetap memendar pesonanya
bintang-gemintang meluruh sayap-sayap cinta
bagi hamba-hamba yang berjiwa

Jember, 2013


Siklus Ritus Percumbuan Laron

hujan akhirnya bertandang juga
setelah sekian kurun dirindu-rindu
aroma tanah seketika membakar gairah
membuncah ke basah puncak-puncak kubah
lalu dengan satu komando yang entah
ribuan laron serentak beterbangan
mencari sejengkal tempat percumbuan
di antara pijar lampu-lampu taman

“musim kawin telah tiba
musim kawin telah tiba”  

mereka berbaris beriringan
mencari masing-masing pasangan
ada getar mahsyahwat
perlahan merambat
ke sekujur tubuhnya yang gilap
hingga berguguran sayap-sayap
berahi meraung di ruang mesum yang lembab
lupa pada kubangan air yang  menyiapkan kuburnya

“musim kawin telah usai
musim kawin telah usai”  

serupa prajurit pulang dari medan perang
mereka beriringan mengusung kemenangan
sambil mengenang setiap pengorbanan
kembali ke sarang
untuk membiakkan nimfa yang diperjuangrindukan
demi bersinambungnya sebuah peradaban

Jember, 2013


Merajut Kenangan
                          :dinda

entah berapa juta lagi energi yang mesti kupersiapkan
menelanjangi dan melukis sepotong matahari di dadamu
matahari yang kelak erat dalam genggaman pangeran kecil kita
menyuluh di sekujur taman jiwa
padahal masih nyata terekam dalam ingatan
cahaya di persimpangan antara ketakutan dan harapan
yang sempurna kau sembunyikan
di serpihan senyum dan kerling kelembutan

tapi selalu ada gelora gairah
setiap mengeja abjad ajaib di pelangi matamu
yang bening dalam hening penuh pasrah

entah berapa juta lagi energi yang mesti kupersiapkan
menelanjangi dan memetik sebiji mutiara di dadamu
mutiara yang kelak melingkar di leher bidadari kecil kita
padahal masih terngiang di sunyi haruku
erangan malam ketika sepi menikammu
dan luka basahmu kubasuh dengan secawan anggur merah bungur

tapi selalu ada gairah baru
menjelma dari seteguk madu
yang kusesap dari kelopak mawar bibirmu

sepotong matahari dan sebiji mutiara
berpadu berbagi rahasia
berbaur bertukar ikrar setia
jangan lagi ada hembusan dusta
bahkan di setiap desah resah kita

Jember, 2012


Sami’an Adib, lahir di Bangkalan, 15 Agustus 1971. Lulus Strata I pada jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Jember. Semasa SMA di Bawean sudah hoby menulis dan menjadi koordinator penerbitan buletin sekolah selain majalah dinding. Tulisan-tulisan berupa opini terpublikasikan ke media massa sejak tahun 1992.  Pernah memenangkan juara III lomba mengarang cerpen yang diadakan BEM Fakultas Sastra Universitas Jember. Karya sastra puisinya terpublikasikan di tabloid kampus dan media massa lokal. Sampai saat ini masih aktif menulis di media lokal (puisi dan opini kependidikan dan budaya). Aktivitas sekarang adalah sebagai tenaga pendidik di sebuah Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif, di Jember.

Post a Comment