Trah dan Klan dalam Kerajaan Kecil Yayasan

Logos

Oleh M Abdullah Badri

Di sebuah kerajaan kecil berbentuk yayasan warisan simbah, terjadi konflik dingin laten antar trah. Antara trah keluarga merah, biru dan putih, berebut pengaruh. Mereka berlomba-lomba menyekolahkan anaknya setinggi langit agar kelak menjadi generasi penerus trah yang tak terkalahkan, dan, dengan demikian, dianggap sukses. Anak dikorbankan demi sebuah keinginan, yang, sebetulnya baik, namun ironis. Ini mengingatkan saya pada sebuah ayat Al-Qur’an: al-mal wal banun zinatul hayat al-dunya/ harta dan anak, keduanya adalah hiasan hidup di dunia.
Kanjeng Guru mengatakan, secara umum, yang diburu manusia di muka bumi ini hanya ada dua: harta dan pengaruh. Hanya dua itu. Wanita? Itu tidak selamanya diburu. Sebab, kala orang mendapatkan pengaruh besar, wanita banyak yang mendekat dengan sendirinya. Pengaruh, bisa menarik harta dan wanita.
Anak, dalam bahasa Al-Qur’an disebut zinah (hiasan) –saya lebih suka menerjemahkannya dengan zina hati dunia, karena ia adalah replikasi keluarga. Anak dirawat orang tua, dididik, dibesarkan dan kemudian diberikan perlindungan, bukan karena semata ia titipan Gusti, namun ia adalah replika keluarga. Seorang tokoh politik besar, kyai, pejabat, kala anak mereka di mata umum tidak mencerminkan kepribadian baik orang tua (keluarga), hukum sosial akan melaknat ia sebagai yang tidak berbakti. Orang tuanya pun dianggap gagal mendidik.
Nah, di kerajaan kecil bernama yayasan itu, antar trah berebut bangga terhadap keberhasilan anak. Ada diantara anak dalam salah satu trah di klan keluarga sang simbah itu yang suka maksiat besar; mabuk-mabukan, berzina, berjudi, mencuri, kecuali satu: belum pernah membunuh orang, masih alhamdullah.
Ia dilaknat di seantero klan kerajaan kecil tersebut karena orang tuanya terkenal sebagai ahli ngibadah, bahkan diketahui sebagai mursyid thariqoh ternama, yang disebut-sebut dekat dengan ahlul ma’ashy (ahli maksiat) laiknya preman, pelacur, penjudi, pembunuh, karena konon, ia punya kelebihan bisa mempengaruhi ahlul ma’ashy menuju jalan tobat ala agama.
Sang mursyid berhasil membangun kepribadian orang lain jadi lebih oke, namun kepada anaknya sendiri, tidak bisa. Dilema menyeruak. Ia dipuja di luar, dilaknat di dalam. Anak pun merasa dikucilkan karena mendapatkan damprat durhaka di lingkungan trahnya. Sang mursyid tak bisa anggak (membanggakan diri) memiliki karakter anak yang demikian. Di sinilah saya justru melihat sang mursyid sedang “tirakat” dari membanggakan anak. Dia tidak bisa membanggakan anak karena memang tidak ada yang pantas dibanggakan di tengah statusnya sebagai teladan bagi umat yang dipimpin.
Satu hal yang didapatkan dari sang mursyid itu adalah bahwa ia akan puasa dari dosa zinatul hayat al-dunya berupa bangga terhadap anak. Saudara-saudaranya satu klan dalam kerajaan kecil itu boleh pamer anak masing-masing dengan gelar dan peran yang berbeda di yayasan, tapi ia, dengan garis musykil yang demikian, tidak bisa. Sang mursyid, bagi saya, sedang topo (lakon tirakat) dari bangga terhadap keturunan, sebagaimana saudara-saudaranya, yang selalu mengulang-ulang kepada khalayak kalau mereka adalah keturunan Sunan Kalijaga, Nyai Ratu Kalinyamat, Wali Jadug, Pemimpin Kharismatik di masa silam, dan lainnya.
Kanjeng Guru membahasakan orang yang membanggakan keturunan tanpa sadar potensi, -apalagi saling berebut merasa berhak mewarisi yayasan- sebagai “nasabuhum a’la wa qulubuhum satta/ nasabnya baik, tapi sikap hatinya retak.” Bagaimana tidak, ketika membanggakan keturunan, ternyata tidak banyak yang dibarengi dengan prestasi unggul meniru riwayat luhur kakek buyut yang disebut-sebut mulia tersebut. Itulah yang dalam bahasa Al-Qur’an di atas disebut zina

Keramat Gandhul
Sang jantan, lelaki sesungguhnya (ar-rojul), bagi Kanjeng Guru, adalah mereka yang berani dengan lantang mengatakan: ha ana dza (inilah aku), bukan hadza abi wa hadzihi ummi (inilah bapakku, inilah ibuku, keturunanku). Namun, tidak banyak orang yang berani mengatakan demikian.
Mengidentifikasi diri di depan banyak orang untuk mendapatkan pengaruh psiko-politis paling mudah ya dengan menyebut Anda siapa bin siapa, binti siapa, dengan catatan kalau yang Anda sebut itu punya kekuatan keramat gandhul. Misal Anda murid Kanjeng Guru, kemudian Anda mengakukan diri sebagai murid beliau di depan bala punggawanya yang kroco-kroco, tentu akan dihormati. Ini nggandhul keramat namanya.
Itulah sebabnya, keturunan sebuah klan besar dalam banyak peradaban ternyata bisa membantu nasib hidup seseorang. Seorang politikus besar di negeri ini ada yang tidak jadi dipenjarakan dalam tindak pidana korupsi yang diduga melibatkan dirinya karena ia menantu kyai besar yang hingga kini masih disepuhkan dan dihormati di Nusantara Raya. Dia dilindungi aparat dari jerat hukum korupsi, konon, demi alasan menjaga keutuhan kehormatan politik-spiritual keluarga. Ini bukti bahwa klan nasab bisa menolong nasib seseorang lebih beruntung. Nasab, senyatanya, bisa mempengaruhi nasib.
Walau demikian, nasab tak selamanya bertukar nasib. Acapkali nasab justru membebani diri sendiri seperti yang saya contohkan di atas. Gara-gara anak yang dianggap gagal ia didik, sang mursyid yang punya keturunan jadug itu, mengucilkan anaknya yang disebut muslim munafiq (kepet, tidak pernah sholat, hobi maksiat). Ia ogah berdialog dengan anaknya. Akhirnya, sang anak hingga kini justru mencari jalannya sendiri. Setiap hari ia memancing di lautan dengan perahu yang diberikan tetangganya, dari pagi hingga sore. Berkeliling pulau-pulau kecil lintas kabupaten Jepara, Demak, Pati, Rembang, Semarang, menjemput hikmah di jalan penuh gelombang ombak tanpa peta.
Selama tiga tahun terakhir, ia ogah bersosialisasi dengan manusia-manusia di daratan lingkungan klan keluarganya karena selain dicemooh, ia juga berontak melihat saudara-saudaranya yang membanggakan anak-anak masing-masing dengan ego, bukan dengan teladan. Saya melihat, pelajaran yang sedang ia cari hikmahnya di lautan akan membuat hatinya bersinar, lebih mawas kelak di kemudian hari daripada orang tuanya, yang seorang mursyid thoriqoh sekalipun.
Mengapa saya mengatakan demikian? Karena ia tidak menutup diri ingin belajar, bahkan kepada alam (lautan), sebagaimana yang tidak dipraktikkan orang-orang yang sudah biasa berpetuah di podium. Singa podium inginnya lebih suka didengar daripada mendengar. Sesesat apa pun orang, kalau ia tetap belajar, jalan akan tetap terbuka bagi dirinya. Jalan hidup manusia tidak bisa disamakan. Kelemahan orang yang membanggakan pengamalan syari’at ada pada menyamakan jalan hidup setiap orang. Bahwa orang yang ahli maksiat wajib neraka, yang ahli ibadah seakan wajib dapat kaplingan surga. Ini namanya mengatur kekuasaan Tuhan, alias musyrik.
Gara-gara setiap hari mengelilingi lautan, anak dari sang mursyid itu bilang kepada saya ingin membangun lautan Gusti Allah agar lebih baik, agar terumbu karangnya masih bisa menyimpan kekayaan laut untuk generasi berikutnya. Orang tuanya tidak sempat berpikir kalau anaknya punya pikiran dan kareping ati yang luasnya demikian. Saya mendo’akan agar dia segera bertemu Nabi Khidzir di lautan sana. Dan dibimbing, sebagaimana Musa dalam riwayat-riwayat yang masyhur itu. Kalau sang mursyid mengetahui anaknya punya pemikiran demikian, harusnya ia bangga. Inilah thariqoh hati. Bukan semata syari’at, yang garing. 

Post a Comment