Wabah Semut

Cerpen

Oleh Gendut Pujiyanto

kartunsia.blogspot.com
Bahwa semua yang ada itu memang akibat dari yang sudah ada, atau bisa dikatakan bahwa sekecil apapun yang ada di depan kita adalah memunyai suatu guna atau menjadi penyebab akibat yang tak terkira sebelumnya. Sebutlah ada penyakit sebab virus, bakteri, atau yang sering aku dengar dari kaji Atmo bahwasanya yang paling berat adalah penyakit hati. Entah, bagaimana ceritanya penyakit hati lebih banyak dibicarakan di pengajian dan masjid-masjid, sedangkan penyakit yang belakangan ini hadir seolah dianggap tidak ada.
Penyakit itu hanya sepele penyebabnya, walau sepele penyakit itu membuat gempar warga dusun. Bagaimana tidak membuat resah, luka yang ditimbulkan membuat penderita tidak nyaman melakukan aktivitas. Dan yang paling besar pengaruhnya adalah warga sekarang takut dengan makhluk mungil yang biasanya mati terinjak kaki.
Aku teringat makhluk itu, berteriak agar teman-temannya menyingkir minggir sebab Sulaiman hendak lewat dengan pasukannya. Sulaiman menghentikan pasukannya dan membiarkan semut itu lewat menyeberang jalan, hingga tuntas semut terakhir, hingga tak ada semut yang terinjak, dan tak ada yang tersakiti.
Riwayat inilah yang selalu aku ingat. Kisah yang melekat sehingga sulit aku melipatnya dalam kenangan. Ada seorang temanku yang baru pulang dari kota membawa obat semut. Butiran obat itu katanya bisa menghancurkan sarang semut hingga raja-rajanya, dan bebas semut. Aku menolaknya dengan halus. Aku tak bisa membayangkan sarang semut hancur dan tak ada semut lagi. Bagaimana hidup tanpa kehadiran semut, tentu akan terasa hambar. Tak ada yang mengerubungi gula, makanan, atau melihat makhluk kecil itu bergotong royong berbaris menyeret makanan yang lebih besar dari tubuhnya. Sungguh tak bisa aku membayangkan. Sungguh mungkin akan lain.
Atau mungkin semut yang mendatangi dusun kami tak pernah mendengar riwayat itu. Mungkin juga semut itu membalas dendam pada kejadian yang lain. Ini hanya aneh, dan semutnya pun juga memang berbeda. Pertama kali semut itu ditemukan salah seorang warga di pohon adhem mati yang berada di tengah pekuburan ujung desa. Semut yang keluar dari dalam batang pohon itu tak banyak, hanya beberapa ekor. Warga saat itu sedang mengadakan besik desa, membersihkan kuburan. Sedangkan pohon adhem mati itu sudah tua, jarang didekati oleh warga sebab usianya itu konon bersarang jin penunggu desa. Gumuk di dekat pohon menarik beberapa warga untuk membersihkan. Gumuk yang telah bersih itu tiba-tiba dikerumuni semut yang aneh. Semut bersayap dan hinggap di tangan seorang warga, ternyata tangan itu melepuh. Tangan yang seolah terbakar itu tak hanya di tempat yang digigit, namun juga menjalar ke bagian lain.
Sejak kecil kami diberitahu kalau pohon itu tak sembarang tempat bisa tumbuh, tak sembarang tanah bisa membuatnya bertahan sebegitu lamanya. Mungkin sudah melebihi ratusan tahun. Menurut tetua kampung, pohon itu sudah ada semenjak  ia lahir. Bisa dibayangkan pohon itu berapa usianya. Akarnya mungkin sudah mencengkeram tulang-tulang yang telah dikubur di sana, menjadi saksi rintihan dan juga beragam pujian kepada alam.
Walau beberapa kali cabangnya patah, tetapi batang besarnya seolah masih terlihat segar. Tak ada tanda-tanda keropos atau rapuh. Memang aneh, sungguh tak dapat pernah masuk dalam nalar. Pohon di tengah pekuburan itu semakin kekar. Pohon itu kemudian yang disalahkan dengan kehadiran semut aneh.
“Pohon itu masih keramat, mungkin kurang sesajen.”
“Kita tebang saja, Kang.”
“Apa kita minta pendapat kaji Atmo, kemarin ia punya niat menebang pohon aneh itu. Kaji Atmo akan menanam pohon yang baru.”
“Memang itu pohon aneh, kalau kemarau daunnya semi, kalau hujan malah rontok semua.”
“Penunggunya mungkin yang aneh”
“Hush!!”

***
Sudah beberapa hari desa berselimut ketegangan. Wabah semut aneh dan juga keberadaan pohon adhem mati mulai mengusik warga. Kaji Atmo masih bingung dengan rasan-rasan beberapa jamaah tentang kehadiran semut aneh. Sudah seminggu Kasno yang biasa menjadi muadzin, tak datang ke mushalla, kulitnya terluka, melepuh seperti kena air panas. Puskesmas sudah memberikan obat dan salep, tetapi Kasno masih belum berangkat ke mushalla, sehingga Kaji Atmo kini sering adzan, imam lalu dilanjutkan shalat juga sendirian.
“Apakah kehadiran semut itu sebagai azab, Pak Kaji?”
“Lha apa ada semut yang baru tho, No?”
Kasno hanya tersenyum mendengar pertanyaan kaji Kasan.
“Dari dulu semut ya seperti itu, ada semut geni, ngangkrang, semut gula.”
“Tapi kok tangan saya seperti ini. Apakah boleh berobat ke Mbah Jangat?”
Kaji Atmo memandangi Kasno dengan tajam. Kaji Atmo tak menjawab. Mbah Jangat yang tanpa pengalaman pengobatan kenapa tiba-tiba bisa menyembuhkan wabah aneh itu membuat kaji Atmo heran.
Malam semakin gelap, anginnya membekap tubuh. Daun-daun reriapan mengabarkan lelap. Cuaca yang nyaman untuk tidur, walau masih sore. Mushalla bertambah sepi. Semut menjadi ancaman paling menakutkan. Warga tak berani ke luar rumah, apalagi ke mushalla untuk sholat berjamaah. Kaji Atmo di beranda duduk tepekur sendirian, matanya menembus malam. Seolah malam yang biasa, kenapa warga menganggap mencekam dan takut diterkam.
Desakan warga untuk menebang pohon adhem mati terus terngiang di telinganya. Pohon itu sudah tua, tetapi bukan perkara mudah menebang pohon itu. Tetua kampung belum mengijinkan pohon itu ditebang. Mbah Jangat yang menjadi juru bicara tetua kampung bersikeras tak mengijinkan. Alasan penunggunya marah dan panasnya perkuburan menjadi serangan balik yang tak bisa dibantah. Apalagi pohon yang baru ditanam memerlukan waktu tumbuh yang lama, dan tak bisa menggantikan pohon tua itu. Dalam kebingungannya, kaji Atmo dikejutkan dengan semut di dekatnya.
Kaji Atmo mengamati semut-semut yang beriring di tembok. Biasanya semut akan mengerubuti makanan, yang manis atau tidak manis. Di mushalla tidak pernah ada makanan, dan juga sudah beberapa bulan semenjak usai Ramadhan tak ada anak yang belajar TPA. Ustadz tak ada yang mau datang, santri sudah malas, sibuk dengan sekolah dan les dari orang tuanya. Mushalla pun semakin hari ditinggalkan, semakin merana dengan kesendirian.
Seekor semut tiba-tiba  menjalar di tangan kaji Atmo. Semut itu menyusuri pergelangan. Mata kaji Atmo memandanginya makin lekat. Semut itu seperti semut kebanyakan, tak ada yang aneh, hanya kenapa warga begitu takut dengan semut. Semut itu berhenti di telapak tangan, berhenti walau di sana tidak ada halangan. Seolah semut itu menatap mata kaji Atmo. Keduanya bersitatap, seolah ada sesuatu yang tak terkatakan.
Semut itu tiba-tiba masuk ke dalam kulitnya. Merobek kulit seolah memiliki jalan sendiri di. Bergerak menyulur mengikuti pembuluh darah. Semut aneh itu terus bergerak, dan lebih aneh lagi kulit kaji Atmo tidak sakit. Tidak ada darah. Seolah semut itu berada pada jalan yang semestinya, tak mengganggu kerja darah.
Pagi harinya kaji Atmo baru merasakan tangannya seperti yang dialami warga lain.
“Sebaiknya dibawa ke mbah Jangat, Pak, seperti jamaah yang lain.”
“Lebih baik ke dokter dulu, Bu, mereka sudah berpengalaman.”
“Kalau mau bapak begitu, aku menurut saja. Bapak tentu lebih tahu sebab merasakan sendiri.”
Bu Kaji memandang suaminya pasrah. Semenjak kaji Atmo menderita sakit itu, tak sekalipun kaji Atmo ke mushalla. Jamaah banyak yang bertanya, kenapa sudah tak ada lagi adzan dan shalat berjamaah. Bukan hanya itu saja. Warga banyak yang meminta mbah Jangat mendatangi kaji Atmo dan mengobati. Jawaban mbah Jangat pun sungguh enak, bahwa kaji Atmo tidak memerlukan obat dirinya.
Memang serba salah. Kaji Atmo tak mau berobat ke mbah Jangat, dan mbah Jangat tak mau lancang mengobati tanpa diminta si sakit. Selama kaji Atmo menderita luka, ia sudah beralih ke beberapa dokter untuk menyembuhkan luka tersebut. Dengan sabar kaji Atmo berkonsultasi ke beberapa dokter walau belum ada hasil yang diharapkan.
Setelah tak mendapatkan hasil berobat yang maksimal  dari satu dokter dan ganti dokter yang lain kaji Atmo mulai menuruti istrinya. Mbah Jangat menyambut dengan hangat, bahkan orang tua itu hendak mencium tangan kaji Atmo, tetapi dengan cepat kaji Atmo menarik tangannya. Kaji Atmo merasa usianya masih di bawah mbah Jangat.
“Monggo, Mas Kyai, njanur gunung.”
Kaji Atmo merasa malu. Sebentar kemudian kaji Atmo mencerita menunjukkan tangannya yang terkena semut itu.
“Ini hanya Ikhtiar, Mas Kyai,” ucap mbah Jangat sambil menumbuk dan menempelkan daun sirih itu ke tangan Kaji Atmo.
“Nggih, Mbah.”
“Tentu semua kembali kepada Tuhan, berdoa dan berusaha kan harus bergandengan?”
Kaji Atmo mengiyakan dan merasakan tangannya yang terasa nyaman. Baru sekali ini ia berbicara lama dengan mbah Jangat. Mbah Jangat dengan renyah mengisahkan pohon adhem mati itu.
Kaji Atmo hanya heran dengan mbah Jangat yang dengan mudah mengobati orang sakit misterius itu. Hanya dengan daun sirih yang ditumbuk kulit yang terkena gigitan semut berangsur membaik. Lebih aneh lagi kalau mbah Jangat satu malam  mengunjungi mushalla. Tangan kanannya membawa kapak.
“Buat apa kapak itu, Mbah?” tanya seorang warga dengan tegas.
Mbah Jangat diam, matanya memandang jamaah satu persatu. Baju koko putih dan peci putih yang dikenakannya memang membuat penampilan mbah Jangat  berbeda.

Omah Gedheg, 2012



Gendut Pujiyanto, nama pena dari Sukirno. Lelaki ini dilahirkan pada suatu subuh di bulan Februari. Biasa dipanggil Gendut, tapi ia lebih suka minum kopi, berkhayal, dan mengandaikan segala hal. Pernah belajar menulis skenario. Kini menjadi operator photo cophy, dan sedang belajar menulis puisi, prosa, geguritan, Cerkak di Bengkel Sastra Cawe-Cawe, Solo. Tinggal di Sukoharjo.

Post a Comment