Puisi-Puisi Fransiska Rina Milansi

Puisi


Prasasti di Ujung Jari

Pada ujungnya tersemat nyeri
Yang kutebus dengan darah
Dan kesakitan yang dikelabui
Sebagai penghargaan terbaik
Akan keringat dan kerja keras
Demi nyanyian lambung,
Tuntutan duniawi
Oleh karena itu dadaku menjadi sesak
Rongga nafasku penuh kotoran yang mengerak
Karena pencongkelnya
Tengah sekarat!!!!!!!!!!!!!

Citra Indah 2012.

Setan

Suatu malam aku bertanya kepada Tuhan
“Apakah salahku hingga semua malaikatku

Berubah menjadi setan.....??????”
Lama........kutunggu.............
.............tak ada jawaban!!!!.
Hingga aku tertidur kemudian
Pagi yang menggigil membangunkan aku
Dengan sebuah cermin tergeletak di jendela.....
Mungkinkah ini jawaban Tuhan?
Kuangkat lalu kulihat disana
Sosok yang yang sedang bingung dan bertanya-tanya
“aku kah setan itu....??????

Cileungsi Hijau, 2010

Ego Orgasme

Benak ini mulai menggeliat
Dari tidurnya yang begitu lelap
Bertunasan di sulur-sulurnya
Gairah liar yang menggelora
Membakar darah hingga bergejolak
Membuat ubun-ubun ingin meloncat
Dari batok kepala sekeras batu

Jangan salahkan aku….
Kalau datang yang telah lama kulupakan
Kegilaan akan kusendiri yang takkan kau pahami
Dunia yang setia menggairahkan jiwaku
Hingga lupa daratan
Lupa akan semuanya
Tanpa rasa-rasa
Takkkan kubiarkan siapapun menjamahnya
Mengacaukan keberadaannya
Puih………….tak juga kau!
Sepintar apapun dan siapapun itu
Takkan sanggup nikmatnya
Tanpa membuang seluruh harga dirinya
Juga kesombongannya
Sebagai mahluk paling takabur

Citra Indah, 2012


Pengorbanan

Aku menyimpan api dalam sekam
Yang disisipkan angin waktu hari
Menjelang petang
Apa aku bodoh
Mungkin ya, mungkin juga tidak
Seperti buah simalakama
Karena aku tak ingin ia berkobar
Dan rumahku hangus terbakar
Itulah sebabnya kusimpan dalam sekam
Meski panasnya terasa senantiasa
Takkan menguar ke angkasa
Meski aku sendiri yang menderita
Bukan siapa-siapa

Citra Indah, 2012.


Puisiku

Pada satu puisi yang kutulis
Dengan mantap pada siang hari
Tiba-tiba aku kehilangan
Satu baris yang semula telah terlarik
Cantik dan rapi dalam benak

Dan gantinya adalah
Barisan kata-kata yang
Tak kalah cantik dan menarik
Meski penuh tanda tanya
Juga tanda koma-koma
Lalu aku mulai linglung
Juga bingung
Ketika harus menyelesaikan puisi ini
Yang semula memang telah selesai
Didalam sumpah dan doa-doa

Lalu kutulis saja kata-kata` 
Yang mengalir begitu apa adanya
Seperti mantra bertabur doa
Agar semua bisa sempurna
Dan aku juga mulai lupa pada duka
Yang pernah terselip disana

Citra Indah, 2012.

Kemarau

Mengenangmu selalu
Adalah kemarau yang tak kerontang
Daun-daun menguning
Dan berguguran
Matahari senja dan pucat
Angin semilir mengeringkan keringat
Sisa terik siang tadi
Tidak!
Kerapkali kuingkari
Kananganmu datang dan pergi
Bak musim silih berganti
Kemarau yang kukenang
Bukan hanya debu yang menyesakkan dada
Juga mentari yang bersinar sampai senja.

Citra Indah, 2013.

Fransiska Rina Milansi, nama pena dan juga nama asli, Ibu dari dua anak kelahiran Wonogiri dan berdomisili di Bogor Jawa Barat. Sangat senang menulis cerpen, cernak, kisah inspiratif juga puisi dan artikel humor. Sangat aktif waktu SMP dan SMA lalu vakum sampai tahun 2011. Dan aktif kembali setelah resign dari pekerjaan untuk berwirausaha sambil mengurus anak. Satu buah kumcer sudah terbit ILALANG (penerbit harfeey) Kontributor Jalan Taubat (Gramedia), Kontributor SMI (Goresan Pena Publishing). Beberapa artikel dimuat beberapa surat kabar dan majalah. 

Post a Comment