Puisi-Puisi Jufri Zaituna


Puisi


Kepulangan Lain

apakah kepergianku akan membawa kedatanganku juga?
sewaktu badai, angin, dan ombak mengantarkan diriku
ke dermaga kenyataan yang sebenarnya tak nyata
bagi kenyataanku yang hampa

kenangan menjadi remang-remang
hanya menjadi kata-kata using
di mana matahari berulangkali menanam benih cahayanya
menumbuhkan kembali senja di bibirnya

mengembalikan ingatan tentang pelayaran panjang
menuju kepulangan lain, setiap kali sentuhan dingin
dan teriakan camar dari seberang
menerpa layar perahu mimpiku yang oleng

seperti merangkaki bukit-bukit berbatu, terjal penuh liku
hutan-hutan liar pikiran harimau, mengaum,
menyeret usia yang rumpang
antara batas pengasingan dan jejak pengembaraan
seketika hadir seperti angin
yang mengubur wasiat hidup
yang hanya mengulang cerita duka

2010

Ode Yang Tertinggal

-ayah
kesendirian adalah batu
batu-batu menjadi diriku
terlempar jauh aku
membentur kenakalan
menyumbat aliran comberan tetangga
sampai genangan tangisan beraroma kebencian

ayah yang tak tabah mendengar jeritan
dari sobekan gendongan
yang telah menancap duri-duri jeruk
terlempar jauh aku di pemakaman yang lengang
di sanalah malam menjadi teman paling siang

-nenek
darah yang kau semburkan dari mulut tersumpal sirih,
kapur dan sekerat pinang tua
yang kau ambil sendiri dari pohon doa suci
meski dinding semerah saga
memercik pada kaki bergetar
yang tak kuat lagi memelukmu
walau hanya bayang-bayang saja

-kakek
tidurmu akan menemukan mimpi
yang telah lama menunggu
sewaktu siang kembali berharap malam  
untuk menangkap batu-batu naga
yang telah lepas dari tangan rahasia

kebisingan kembali tumbang
oleh derap langkah para penghamba
datang mengadukan bulan padam
merangkaki tangga-tangga dalam
mendekap tubuh sampai runtuh
atap langit terkuak pasrah

segerombolan angin meliuk-liuk
menyeret asap kegaiban
pada matamu yang terbuta lebar
melihat arah ketersesatan cahaya
lalu kau hidup di pusat kegelapan

keteduhan tak pernah kau temui
melempar siang menjadi malam
sampai tubuh terhempas ke langit
menjadi gerimis
menusuk padang kata
hingga tumbuh benih impian
merengkuh jiwa
yang telah lama tiada
meski batu-batu duka pergi
namun selalu kembali

-kakak
telah kau akhiri dibatas waktu yang telah tiba
kau pergi membawa bulan
tidur setenang wajah malam
melupakan terik matahari
menaruh terik abu-abu jasad terbakar
oleh peristiwa sisa usia
dan nama-nama hari yang berbeda

semoga engkau
setenang senyu takbir
membalut doa-doa cucu
ayat-ayat suci meliliti pusara
yang terbujur kaku ditengah sepi

2011

Kepulangan

terang menghantui lorong panjang
menjadi santapan tangisan
bagi para pengecut yang takut
pada dirinya yang tak ingin pulang
sebelum dosa-dosa
menjadi benda-benda menjijikkan
sebab surga terlampau busuk
bagi si miskin
yang tak pernah memahami
makna kekalahan
sebab jalan yang kau lalui
bukan langit dan bumi
melainkan raungan hati
yang terus membuntuti
sepanjang kemesraan
menguar rasa pahit
usia seliar ular bersemayam
dalam titik tanya
memaksa rasa meresap
kedalam pori-pori bahasa
impian berkelebatan
mencari semak-semak impian
ketika bulan remang
di sungai-sungai wanita
menari-nari
seirama hentakan kaki
berulang kali menerbangkan debu
dari ketulusan padang dada

2011

Malam Birahi

harum bunga percumbuan
semakin merasuki otak bergentayangan
bersama segerombolan nafas panjang
menarik-narik jantung
seperti serigala merangkak
mengusung nasib buruk
meski berulangkali menelan sepi
tubuh menyala-nyala
membuka kebisuan tirai asmara

kehangatan kembali telanjang
mencipta bunga-bunga darah bermekaran
menyalakan menara hati di ujung dingin
menusuk mata yang begitu nyata
memandang kenyataan yang begitu hampa
sampai teriakan seperti langkah kabut
menyembunyikan rahasia kesenyapan
yang begitu runcing menusuk dusta

teriakan kembali lenyap dalam ketakutan
sampai segalanya menjauh
dari tangan-tangan besi
kesakitan meloncat-loncat
bergegas pergi
benda-benda seolah hantu
yang semakin nampak
dalam kemurungan puisi
bergumam tentang kutukan
lewat celah jendela yang terus terbuka
mengintip kegelapan

2011

Akulah Anjing Itu
:ditya manggala

kita tak bosan-bosan memaki-maki masa lalu
sebab semuanya tak lagi berarti
selain hanya menjadi ribuan igauan
dalam kamar lembab, bau puntung dan denting rahasia hidup

malamkian khusyuk memetik senar-senar rahasia
dari segumpal hasrat sepanjang persinggahan
yang terus membaca keadaan:
betapa sakit mendengar gonggongan anjing
melebihi anjing itu sendiri

anjing yang lahir dari mulutku sendiri
setiap kali keriuhan keakraban mendorongku
untuk selalu mengucapkan pada siapa saja
juga pada dirimu yang kini melahirkan diriku kembali
menjadi manusia seutuhnya

2010

Jufri Zaituna, lahir di Sumenep, Madura, 15 Juli 1987. Puisi puisinya dimuat di Majalah Sastra Horison, Kedaulatan Rakyat, Jawa Pos, Minggu Pagi, Merapi, Seputar Indonesia, Suara Pembaruan, Jurnal Sajak, Suara Merdeka, Radar Madura, Kuntum, Muara, Bakti, Sumut Pos, dan beberapa antologi bersama: Ya Sin (PBS, 2006), Merpati Jingga (PBS, 2007), Annuqayah dalam Puisi (BPA, 2009), dan Mazhab Kutub ( Pustaka Pujangga, 2010), kumpulan cerpen pilihan koran Minggu Pagi Tiga Peluru (Trataq Media, 2010), Penganten Tamana Sare (Bawah Pohon, 2011), dan Antologi Puisi Suluk Mataram: 50 Penyair Membaca Yogya, (GREAT Publishing, 2012).

Post a Comment