Puisi-Puisi Mutimmatun Nadhifah

Puisi


Sore ini I
(untuk ibunda Rahiemah Zubairi)

Lagu-lagu menyelimuti
dinding-dinding kerinduanku
bayanganmu menghampiriku
di luar pintu
hujan meneriakkan
tentang perasaan
yang ingin medekapmu
dengan tangisan

Sore Ini II

Di pojok kamar
ku temukan buku yang berserakan
aku ambil satu
halaman demi halaman
ku nikmati
dan di halaman tengah
ku temukan senyumanmu
lalu memandangku dengan kata
jangan lupa  - membaca


Sore Ini III

Dia memanggilku lewat
udara yang panas
membisikkan nasihat
agar tidak
menjadi manusia keparat
Aku hanya mengganggukan
hati sebagai tanda rasa taat
                                                                Surakarta, 2013


Di Perantauan I

Setiap sore, aku merasakan sepi yang tiada tara
Bayangmu datang menjelma sutera
Bisikkan banyak kata
Yang membuat hilang rasa tak berdaya
Tuhan sedang menguji kita dalam sebuah sandiwara sementara
Senyummu pagi itu hanyutkanku dalam suka yang tiada tara
Kau pelipur lara
Dalam hati yang membara
                                                                        2012


Di Perantauan II

dalam lirik-lirik lagu yang dikumandangkan
Terdengar lirik yang menyakitkan
Ketika ada angin datang
Lalu menghantam
Saat itu, aku terjebak dalam sandiwara alam
sandiwara yang mewariskan sejuta luka yang mendalam.
Dalam_
                                                2013

Di Perantauan III

Pagi itu damai dan sejuk
kabarku tidak terpuruk
tapi seketika embun segar
menjadi bedebam guntur yang menggelegar
sapamu yang membuatku terkejut dalam tanya
membuatku diam dalam seribu kata
membuat luka hati semakin menganga
Cerita dusta itu
telah melumpuhkan sendi-sendi tak berdosa
dan sekarang ini kata-katamu telah menjeratku dalam dosa
walau aku tak merasa
disaat perjumpaan itu
harapan sapa yang selama ini aku rindukan
berubah menjadi tangisan


Bilik Literasi, 20 Januari 2013

Mutimmatun Nadhifah
mahasiswi Prodi Tafsir Hadits dan Santri Pengajian Selasa siang IAIN Surakarta dan Santri pada Bilik Literasi Solo.

Post a Comment