Sebelnya Jadi Tukang Loundry

Cerbung Edisi ke 36…

Oleh Sofi Muhammad

Belum sampai genap tiga hari tapi aku sudah sangat berniat untuk mengundurkan diri. Bukan lantaran masalah gaji lagi, tapi ini karena alasan gila, benar-benar gila!
Masih ingat bukan tentang lelaki berbadan gimbal dan berbulu lebat yang kutemui di tempat karaoke. Ternyata, dia adalah suami dari Bu Mira, ibu-ibu yang selalu menyuruh dengan tersenyum, majikanku!
Begitu melihatku menjadi pembantu barunya, lelaki itu langsung menyadari sesuatu. Aneh sekali tatapannya, apa lagi saat Bu Mira sedang mandi atau tidur siang.
Saat hari Minggu, pas Bangkotan tua itu tak ada jadwal kerja, semakin takut saja aku ini. Baik ketika mencuci piring, mengepel, atau bahkan sekadar memotong rumput. Aku merasa GR saja bahwa selalu ada yang mengawasiku dari balik pintu.
Aku benar-benar semakin benci saja dengan para bebandot tua yang ditakdirkan kaya dari sononya. Sudah gendut, jelek, mata keranjang pula. Istri sudah cantik, baik, ramah begitu, tapi kok ya masih suka mencari sabetan di luar.
Bangsat! Si Bangsat itu, rasanya pingin tak cincang-cincang terus kulempar lemak-lemak yang menggelendor di perutnya itu ke mulut-mulut macan di Kebun Binatang Mangkang. Macan saja palingan bakalan muntah-muntah saking tak sanggupnya menelan bangkainya yang pastinya pahit benget rasanya.
Daripada makan hati, lebih baik mengundurkan diri.
Esok harinya, aku benar-benar tak lagi masuk kerja. Saat Bu Mira menelpon, kubilang saja bahwa aku ini mendadak menikah dan pindah ke luar kota dengan suami. Tinggal sekali bohong, beres sudah semuanya. Benar-benar beres dan tak ada kerjaan sama sekali. Maksudnya, jadi pengangguran lagilah.
Di bayanganku, sempat juga hendak minta maaf pada Mas Hadi, kemudian bekerja lagi di sana. Tapi, hati kecilku berontak benar. Jangan sampailah aku kembali lagi menjadi budaknya. Dia yang sok seperti itu.
Tapi, keseringan bengong pun kurasakan sangat tak baik buatku. Pikiranku ini jadi ngelantur ke mana-mana dan agak jorok pula. Puncaknya adalah ketika Bisri mengunjungiku di kos. Di sana, aku sama sekali tak pernah melarangnya kala ia menciumiku. Lagi pula, dia kulihat tak memiliki sifat playboy sebagaimana yang lainnya.
Meski fisiknya kurang membuatku terpesona –aku suka cowok yang tinggi— tapi biarlah sekali-kali tak kunilai seseorang dari fisiknya saja. Toh sama-sama enak ternyata. Baik dia ataupun Rio, sama-sama membuatku ketagihan dengan ciumannya.
Bersama Bisri, aku jadi lebih berani lagi. Sedikit pengalaman dari Rio adalah untuk buka dasar. Sedang dengan Bisri ini, oleh karena kuyakin dia lelaki baik-baik, maka sedikit pun, aku tak merasa khawatir. Andai dia meminta keperawananku, aku pun sebenarnya tak berkeberatan.
Tapi, dia tak pernah mau dan itu sungguh-sungguh membuatku jadi curiga. Jangan-jangan, dia hanya ingin main-main saja denganku. Lelaki zaman sekarang, masa iya ada yang sebaik dia. Apa dia takut jika aku menuntutnya di kemudian hari sedang ia sebenarnya mengharapkan wanita lain yang benar-benar layak baginya.
Akh, lama-lama, aku pun jadi muak dengannya. Hingga kuputuskan untuk melupakannya saja sekalian. Seteleh itu, aku pun mengganti nomor HP.

***
Pengumunan yang kudengar langsung dari Santi adalah bahwa pusat laundry di RW sebelah sana sedang membuka lowongan untuk antar-jemput cucian. Oleh karena aku sedang menganggur dan punya motor, maka aku pun mendaftarkan diri.
Ternyata, mencari pekerjaan itu mudah asal tak terlalu pilah-pilih. Kalau cuma sekadar antar-jemput sih gampang. Yang menjadi persoalan, lagi-lagi adalah masalah gaji. Tidak hanya tujuh ratus lima puluh ribu, tapi kini jadi lima ratus ribu per bulan.
Wah, bisa buat apa uang yang sebanyak itu. Bayar kos saja sudah dua ratus ribu. Masa uang tiga ratus untuk makan sebulan. Putar otak-putar otak! Mau kembali ke rumah Mbak Dian, tapi kok ya ada lelaki itu.
Bangsat, brengsek banget dunia ini. Di mana-mana, lelaki mata keranjang itu memang tersebar di mana-mana.
“Gimana kerja di laundry, Ras?” tanya Santi saat ia beristirahat di kamarku.
“Enak sih kerjanya. Tapi, tadi toh gila banget,” jawabku.
“Gila kenapa?”
“Aku tadi ngantar cucian ke rumah ibu-ibu yang gualak banget gitu, San.”
“Kamu dimarahi?”
“Iya. Padahal, aku kan nggak tahu apa-apa.”
“Dimarahi gimana emang?”
“Begini,” kataku setengah tertawa, “kan ada tikus mati di kamarnya to, eh dia malah marah-marah ke aku. Kan aku cuma nganter cucian, malah dimarah-marahi.”
“Dia nuduh kamu yang naruh tikus mati itu?”
“Nggak,” jawabku, “tapi, dia marah karena katanya, aku ini cantik. Gara-gara melihat janda cantik, suaminya jadi menceraikannya. Jadi, kini dia jengkel sekali karena saat ada tikus mati, nggak ada yang bisa disuruh-suruh untuk membuangkannya.”
Hiburan memang. Ada-ada saja. Meski gajinya sedikit tapi ternyata lumayan asik pekerjaan di laundry ini. Setiap hari, aku bisa kembali menertawakan orang yang memiliki keanehan karakter.
Meski agak was-was saat aku lagi-lagi disuruh mengambil atau mengantar cucian di rumah ibu-ibu galak itu –tak ada karyawan lain yang mau mengantar-jemput di rumah itu— maka kupuas-puaskan saja menonton dia menghujati mantan suaminya.
“Dasar sial tuh orang,” katanya, “sekarang, miskinlah dia gara-gara klemeren sama janda!”
Ibu-ibu dengan berat badan yang overload itu masih meraco-meraco tak karuan. Lagi-lagi, pasti dibodoh-bodohkanlah mantan suaminya yang tergila-gila dengan janda. Sambil membolak-balik daftar yang entah apa, dia terus saja membahas hubungan mantannya itu dengan si janda.
“Sekarang,” katanya lagi, “syukurin dia itu tinggal di kontrakan kecil.”
“Memangnya, suami Ibu tak punya rumah lain selain ini?”
“Rumah lain?” tanyanya balik sambil melotot, “ini saja rumahku, peninggalan orangtuaku. Lha wong dia dulunya cuma kacungku. Cuma pesuruh yang kusuruh narik uang kos-kosan. Punya banyak kos aku. Anak kuliahan itu banyak sekali yang makai,” jelasnya. “Memang dasar bodoh itu malah lebih milih janda miskin!”
Huah, bisa sampai dua jam kalau lagi dapat jatah mengambil cucian di rumah itu.


Baca juga: 

Post a Comment