Lebih Baik Onani Daripada Melacur

Cerbung Episode ke 45…

Oleh Sofi Muhammad

Tanpa tongkat
Tiba pada waktuku harus bekerja, kami bertengkar lagi. Sumbernya kecil sekali namun sungguh bisa untuk mengganggu performku di tempat kerja. Alhasil, aku jadinya sering dikata-katai Bu Sur.
Seperti kembali lagi ke masa lalu. Saat Bu Sur itu marah, sakit sekali rasanya. Jika kemarin aku bisa menganggapnya sebagai isapan jempol yang sudah selayaknya aku tertawakan, tapi kini tidak bisa lagi.
Sepanjang pagi, ketika aku mulai rutin dijadwalkan bersih-bersih kamar tidur beserta kamar-kamar di bagian rumahnya yang lain, aku benar-benar hancur dari kedua belah sisi. Satu dari Bu Sur, sedang satunya lagi dari Arya.
Ya, seolah-olah, aku memang bola yang sedang dioper. Ke sana dimarahi, ke sini pun sama. Benar-benar menjengkelkan. Sudah capek, tapi mesih juga selalu terlihat salah di mata mereka.
“Nah itu, kurang bersih lantainya.”
“Iya, Bu.”
“Kamu ini bekerja kaya orang pileren saja,” kata Bu Sur, “sakit?”
Ya, sakit sekali. Sakit hati.
“Tidak, Bu.”
“Ya sudah, jangan melamun. Ngelamunin apa sih?”
“Em,” pikiranku berputar. Aku benar-benar tak hendak berbagi cerita tentang Arya dengan Bu Sur yang masih membenci lelaki itu, “kalau buat KTP kira-kira berapa ya, Bu?”
“Buat KTP? Kamu belum punya?”
Kugelengkan kepala.
“Aduh, kamu ini…”
Diambilnya buku catatan yang tergeletak di samping telepon rumah. Sembari kulanjutkan bersih-bersihku, kulihat Bu Sur mengamati satu per satu daftar nama-nama di buku teleponnya.
Pikiranku kembali ke Arya. Semalam, kami memang tidak jadi phoneseks lantaran aku yang ketiduran. Habis, capek sekali sih, dan ngantuk juga.
Ketika berangkat memenuhi panggilan bosnya untuk mengantar-jemputnya seperti biasa, kami memang telah sepakat untuk melakukannya karena untuk bertemu secara langsung pasti tidak bisa.
Janjinya jam satu malam. Pada jam segitu, katanya, bosnya pasti lagi ngamar. Makanya, dia pasti bengong sendirian di dalam mobil.
Sesekali, kata Arya, dia pernah juga ditawari untuk ikut mencicipi segumpalan daging yang bisa berdenyut-denyut itu. Masalah ongkos dan bla bla bla, semuanya bakal beres ditanggung si bos.
Tapi, Arya bilang dia tidak mau.
“Memang orang sukanya beda-beda kan Ras,” katanya, “dan aku sama sekali tak suka pada mereka. Meski cantik, tapi tetap nggak suka karena sudah jadi bekasnya orang banyak.”
Arya selalu bilang sekaligus meyakinkan padaku sebetapa tidak hobinya dia bercinta dengan semacam perek yang sering kali ia temui kala mengantarkan kondom gratis. Di rumah bordir, Arya memang sudah sering pergi ke sana.
Tapi, sekali lagi, katanya, bukan untuk mencobai salah satu dari mereka, tapi ya untuk tugas mengantar kondom itu. Kalau tidak untuk tambahan gaji serta dapat kondom gratis setiap kali menyetor, maka Arya pun tidak bakal mau.
“Enak, Ras,” katanya, “bisa dapat yang gratis.”
“Pernah digodain kamu, Ar?”
“Ya, seringlah.”
“Kok nggak tergoda.”
“Ya kan sukanya orang itu beda-beda,” jawab Arya, “aku lebih suka onani daripada harus ngeseks sama perek, Ras.”
“Ih, kok aku nggak percaya ya?”
“Percaya dong,” pintanya, “kalau sampai di sana to Ras, aku pasti langsung nyari kamar mandi.”
“Buat onani?”
“Iya.”
Sekarang, sudah tidak perlu sering-sering onani lagi Arya. Tapi, tidak bisa sepuasnya juga karena terganggu oleh pekerjaan kami masing-masing. Dan semalam itu ketika aku ketiduran, dia pasti jengkel sekali sama aku.
Ketika terbangun pada pagi harinya, sudah kudapatkan lima miscall yang tentu saja tak kuketahui sebelumnya. Tak tahulah apa yang bakal dia katakana kala pulang nanti. Kalau sampai dia sangat marah, keterlaluan sekali.
Ah, biarlah. Biar saja para angina itu bertubi-tubi meresahkan dedaunan kering, biar juga menyesakkan para bebungaan cantik yang tumbuh subur di plataran rumah Bu Sur. Menggoyang-goyangkannya hingga jatuh berguguran. Asal masih bisa hidup, bisa tumbuh, toh nanti bisa berbunga lagi.
Berbunga lagi kemudian diobrak-abrik lagi, terserah kalau memang hobinya seperti itu. Yang jelas, bunga-bunga ini pun akan tetap bersemi hingga ia benar-benar layu kemudian mati, sebenar-benarnya mati.
Plataran sudah bersih, semua ruangan apa lagi. Pikirku, aku ingin menyempatkan sedetik untuk mengirim SMS. Namun, kuurungkan karena takut keterusan dan bakal dimarahi Bu Sur lagi pasti.
Toh belum tentu bangun juga Arya. Saat aku berangkat kerja, yang kira-kira jam enam, dia memang belum pulang tadi. Sekarang, mungkin malah saatnya tidur bagi Arya. Capek-capek SMS pun bakal percuma, kan?!
Kupandangi beberapa tugas yang belum selesai. Cuci piring, membeli sarapan di warung sebelah, serta mengantar cucian kotor ke laundry tempatku bekerja dulu.
Di sana, seperti reuni plus ajang menggosip tentu. Memang tidak ada kejanggalan meski nyatanya aku menyatakan diri keluar. Mereka senang karena satu-satunya pelanggan bawel sudah resmi berada di tangaku.
Saat menggosip itu, agak lupa juga aku dengan seabrek makian dari banyak pihak. Usai direfresh, biasanya positif thinkingku balik lagi. Kala berada dalam posisi seperti itu, berkali-kali dimarahi pun aku bisanya cuek lagi.
“Ya hati-hati saja, Ras,” pesan Tuti, salah satu bekas rekan kerjaku di laundry, “bisa-bisa dimakan kamu nanti.”
“Ha, ha, ada-ada saja kamu ini.”
Setibanya di rumah Bu Sur dengan masih menenteng seplastik pakaian bersih nan kering, dia memanggilku.
“Sudah dapat Ras.”
“Dapat apa?”
“Orang yang bisa membuatkanmu KTP.”


Post a Comment