Puisi-Puisi Imam Al-Ghazali

Puisi

Sesiang Ini

Sesiang ini matamu memberatkan mataku
Menerjemahkan awan yang berenang di kolam
Aku membiarkan lidah dipenjara gelisah
Sempit kata, tidak meluaskan mimpiku merakit asma senja

Masih gemuruh suara menghimpit lidahku, senyum memberat
Mengeraskan kecupan matahari di lembah pipiku
Aku membiarkan keluh mengerami harapan, akan menetas di pucuk malam

Siang yang merampas kelembutan embun
tidak menyisakan sunyi menghampar sajadah bumi di hatiku

TanahPuisi 6/10/12

Ruang Apa Aku Menikmati Luka

Sajak lain di lembah matamu
Aku telah menghindar dari rayu matamu yang senja
Tidak kembali menepi ke pelabuhan tempatmu menyepi
Sekian kali aku redami gelisah luntur kecamuk di dada
Semakin risih saat sesiapa menghuni ruang di hatimu

Aku menggali kenangan di senyum yang memberatkan langkah
Kejalan gemerincing angin memetik dedaun, tidak menyisakan  debu
Mengecup bibir kemarau di hentak musim yang memucat
Segala kubiarkan melengang sampai kunikmati luka rerumput

Masih biru dedaun di tetangkai menghardik mataku
Seluas langit aku memandang menyirami bebukit
Tidak peduli ruang di hatimu berpenghuni mengekalkan anyir tanah
Aku temukan maut mengibarkan bendera kematianku

TanahPuisi 8/10/12

Sisa Tabrakan Kapal

Masih adakah ruang tempatku menyulam gelisah, merakit luka
Agar aku nikamati senja seluas laut menghampar sajadah airmata
Atau kecamuk tidak berhenti meniduri dongeng
Dongeng kanak-kanak sebelum kantuk menginjak mimpi
Aku temukan ombak melahirkan sunyi didermaga gemuruh pecahan tangis

Tidak ada tanda berhenti merenungi badai, sejenak mengiba
Bahkan di teras hati senantiasa aku bersihkan menjelang pagi
Menyambut embun serta nasib yang menggantung di tetangkai matahari
Kesetiaan mengeras menciptakan rindu di helai kemarau memucat

Harap luka meluaskan hening di ketiak senja yang gemetar
Agar ombak dapat aku nikmati seluruhnya.
Dengan tadabbur yang bagaimana bisa memecahkan takdir bumi
Bahkan laut tidak meluaskan kelembutan maut meronda di hatiku
Tidak ada pelaut kapal menyepi menuntasi kenangan di rahang ikan-ikan

TanahPuisi 8/10/12 

Menyimak Kata

Sebuah ruang dengan buk dosen

Aku telah menyimak kata serta seruan ghaib berlumpuran di bibir senja
Sedalam laut aku menyelami kalimat, kisah pemberontak yang unik
Menekuni duri usia di helaan fajar yang merakit senyum matahari
Embun tidak menetes di dedaunan sisa subuh mengekalkan sujud ombak
Tetapi dengan anggukan yang bagaimana aku isyaratkan kepadamu
Sebagai tanda suaraku tidak sanggup melunasi kunkungan

Bahkan suaramu kandas di pantai tempat pemberontak merakit bahasa
Disana aku menyirami bianglala agar hunian tidurku lebih nikmat
Dari cerita kanak-kanak yang senantiasa kau nyanyikan sebelum bubar sekolah

Aku mencoba tenggelam di kolam mimpimu serta helaan dengus nafasmu
Menikmati seruan ghaib ke jalan menuju sungai, bebatu di sana kerikil
Seperti loncatan kalimat aku terhenyak dikibaran airmatamu
Membakar matahari menyulut ombak dalam diri

TanahPuisi 7/110/1

Ombak Lain

Seamsal laut tubuhku melahirkan beribu gelombang
Tidak bisa kau jamah dengan hening memberatkan gelisah tanah
Di mataku risih membatu mengekalkan sujud rerumput
Gemetar merajai hati akan meronta dikibaran angin

Pada siapa kecamuk merebahkan hening matahari
Merahasiakan dengus yang melahirkan beratus airmata
Aku menyuarakan luka pada ketukan ghaib di ubun senja
Terasa maut merayap di dinding menebalkan gelisah tanah  

Maka hunian musim selalu menghardikku
Mencemoh langkah kejalan bianglala menggali senyum bumi
Sampai lupa mengejar bebayang lari dari kejaran mimpiku
Hilang arah kemana angin pernah menuliskan kenangan

4/10/12


Imam Al-Ghazali, lahir di Madura 17 Mei 1993. Alumnus PP Al-Amien Prenduan Madura. Aktif sebagai Mahasiswa IAIN Surakarta Jurusan Bahasa dan Sastra Prodi PBI. Karyanya pernah dimuat Majalah Qalam, Majalah Sastra Horison/Kaki Langit dan Antologi Puisi Akar Jejak.

0 Response to "Puisi-Puisi Imam Al-Ghazali"

Post a Comment