Puisi-Puisi Abimardha Kurniawan

Puisi


RUMAH MIMPIMU,
DURI MAWAR TEMARAM

/1./
aku singgahi rumah mimpimu, kuketuk pintunya
aku bisikkan salam atas kata-kata,
dan aku menulis sebaris sajak sederhana
agar kau leluasa mengenangnya
ketika november berduka oleh hujan pertama.

/2./
maafkan, mungkin tak perlu kita lupa
tentang serangkai duri yang tersimpan
dalam keindahan mawar setangkai.
ya, serangkai duri yang (pernah) melukai tanganku
juga tanganmu, tatkala mata kita
hanya tergoda merah mahkotanya.

/3./
dalam temaram, pelupukmu terpejam
berkawan lelah, kau berangsur undur ke lubuk tidur,
dan malam yang pekat di atap kota
menjadi muara bagi mimpi kita
yang mengalir rengsa, mencari suaka...


***

SEPERTI ORANG HILANG

telah patah namaku sebelum datang selusin
tikaman sepi melukai pagi. tapi dengarlah dulu
hembus angin yang gegas menyeru ke arahmu
barangkali serpih namaku, jatuh terbawa olehnya...

***

SELAI HUJAN, SEDUHAN KOPI

selai hujan dan seduhan kopi terakhirmu, gegas beringsut
memeluk malam yang menggigil tanpa payung.
ketahuilah sayangku, kelebat sepi yang mengincar licin kulitmu,
cuma turunan silet yang diasah kali keseribu....

***

POTRET

ada yang meminta, angin dalam gelas hampa udara.
ada yang meminta, matahari di puncak malam buta.

tapi, andai ada kesempatan meminta, sederhana saja
hanya kuminta satu potret senyummu
agar tersemat mesra di ujung doa, dan satu kata ‘amin’ku.

***

SENJA BURUNG GEREJA

senja ini, burung gereja tak singgah di jendela
dan tinggalkan selembar bulu rapuh dari sayapnya
untukku, agar aku mengerti betapa buas angkasa
mengirim nafas, tangis, guyuran air mata.

senja ini, kucari burung itu kembali
barangkali jasadnya menjelma sunyi di tengah tualang
barangkali semua bulunya lepas, melayang,
menjadi lambang, atau sekedar layang-layang.

***

---------------------------------
Abimardha Kurniawan, lahir di Surabaya, 26 Maret 1986. Alumnus Sekolah Pascasarjana Ilmu Sastra UGM Yogyakarta. Tulisan-tulisannya pernah hadir di media massa. Puisi-puisinya terhimpun dalam beberapa antologi bersama, seperti Monolog Kelahiran (2006), Rubaiyat Daun (2006), Kepada Mereka yang Katanya Dekat dengan Tuhan: Antologi Penyair Mutakhir Jawa Timur (2007), Surabaya 714: Antologi Puisi Malam Sastra Surabaya (2007), Ponari for President (2009), Ekstase Perenungan (2010), Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit (2010), dan Beranda Senja (2010). Puisinya yang berjudul Dan Penyair pun Masih Mengigaukan Sejarah memperoleh Juara II dalam Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional IX Tahun 2008 di Jambi. Saat ini tinggal di Surabaya.


Post a Comment