Pusat Kesehatan Tapi Kuburan

Logos
Oleh M Abdullah Badri

Rabu Sore, 4 Desember 2013, istri saya terpaksa harus dirawat ke Puskesmas setempat atas rekomendasi bidan. Bidan kuatir kalau demam tinggi yang dirasakan istri sedang hamil 9 bulan akan mengakibatkan inveksi janin. Perkiraan bidan, ia terkena gejala thypus, atau barangkali, demam berdarah.
Tanpa pikir panjang, demi kandungannya, saya antar langsung istri ke Puskesmas terdekat untuk dirawat inap. Ibu mertua jaga di malam harinya. Begitu juga saya. Malam itu adalah malam tanpa kesibukan di depan laptop. Namun, capai yang saya rasakan, bukan main. Istri saya tidak bisa tidur karena kondisi tubuhnya semalaman kian demam.
Begitu juga ibu mertua. Semalaman juga tak bisa istirahat nyenyak, tak bisa pejamkan mata. Bukan karena risau atas kondisi istri, namun karena hal lain yang akan saya tulis di esai sederhana ini. Ibu mertua malam itu tak bisa mengontrol telinganya yang selalu mendengar bunyi gergaji mesin, orang teriak di sana-sini, juga suara drum atau batu beton yang seolah jatuh dari atas sebuah bukit ke dasar danau.
Tidak nyaman. Jam dua malam ia keluar dari kamar VIP tempat istri dirawat. Jagongan dengan kerabat pasien di kamar sebelah.
“Gak bisa tidur malam gini kenapa, Bu?” Tanya seorang perempuan dari kamar sebelah.
“Saya dengar suara aneh dari habis Isya’ tadi. Bau anyir kok ada di kamar juga. Saya kira karena bau pakaian saya yang tidak mandi tadi pagi, tapi saya cium tak ada bau anyir seperti bau kucing mati,”
“Saya juga sama bu. Aneh. Saya juga dengar suara jeritan dan tembok runtuh dari jam 9 malam tadi.” Ujarnya.
Percakapan itu membuat bulu kudu merinding. Ditelisik, kamar VIP istri ternyata hanya 1 meter dari kuburan Kristen. Tirai jendela kamar itu, jika Anda buka, dibaliknya ada kijing kuburan khas pemakaman Kristen. Pohon kamboja juga nampak Anda jumpai di sana. Berbundukan.
Saya tanya kepada sesepuh setempat melalui tukang parkir Puskesmas, ternyata benar. Kamar VIP itu dulunya adalah kuburan. Makam khusus umat Kristiani itu digusur untuk proyek pelebaran Pusat Kesehatan Masyarakat tersebut. Artinya, istri saya ternyata tidur di atas tanah yang dulunya adalah kuburan. Wa ladalah….!!   
Inilah yang kata Kanjeng Guru disebut sebagai nafsu kebinatangan manusia yang ternyata kurang arif memperhatikan kepentingan orang yang sudah meninggal, walaupun kuburan itu bukan makam orang Islam.
Kanjeng Guru selalu mengingatkan bahwa orang yang sudah meninggal itu tidak mati. Yang mati hanya tubuh biologisnya. Sedangkan jiwa dan ruhnya pindah ke alam yang orang hidup pada umumnya tidak pernah ke sana. Karena  itulah, walau orang sudah meninggal, dalam tradisi umat Islam, selalu dibenarkan adanya peringatan, atau haul. Saya menyebutnya sebagai “Merayakan Kematian” (bagi para wali), atau “Peringatan Kematian” (bagi masyarakat umum).
Kematian dirayakan ketika ada ibroh yang bisa dipetik dari si mayit yang sudah meninggal bahkan ratusan tahun lalu. Manaqib misalnya, bagi saya, adalah bagian dari perayaan, bukan sekadar peringatan. Sementara orang pada umumnya saya sebut peringatan karena kematian si mayit, adalah titik balik mengingat tempat tinggal yang akan dihuni kelak, tentang uang saku pahala, balasan amal, serta ganjaran yang kelak diterima dari orang lain.  
Semoga saja apa yang didengar ibu mertua bukan siksa penghuni kubur. Tapi sekadar ibroh bahwa di dalam sana, ada orang mati yang sebetulnya masih hidup dan sedang menerima apa yang harus ia terima. Bahwa kita yang masih hidup tak selayaknya menganggu kelangsungan proses mereka dengan Yang Maha Tahu di alam sana. Saya berdoa semoga istri saya kalau sakit atau melahirkan nanti, tidak akan dirawat lagi di Puskesmas Tapi Kuburan itu; Puskesmas Bakalan, Kalinyamatan, Jepara. 

Post a Comment