Segara Cinta Aini

Cerpen Pesantren

Oleh Lutfiyah Nurzain

Lima tahun sudah. Kami tak lagi bersama. Tapi, samudera cintaku takkan pernah susut.
Aku hanya bisa mengamatinya dari jauh. Ia sangat muda dan segar. Perawakannya tinggi atletis dengan kumis tipis. Warna kulit rata-rata orang Indonesia; sawo matang. Kepala bak bertahta raja dengan tatanan rambut ala tentara. Rapi. Juga berhias aksesori Islami; peci. Dia benar-benar tumbuh dengan kecerdasan dan kealiman. Tapi bukan sebab itu aku masih menaruh hati padanya.
Busana yang ia sandang tak biasa. Tak semua pemuda punya. Itulah alasan utama. Bukan lagi rahasia. Ia pakai baju berbahan istimewa, yakni taqwa. Indah wajahnya sungguh seindah akhlaknya.
Dia tak hanya tampan. Tapi juga rendah hati dan sopan. Kepada yang lebih tua ia menaruh hormat. Kepada yang lebih muda ia dekat. Senyum pun tak pernah dilupakan bila berpapasan dengan siapapun. Jelas saja orang banyak membicarakan.
Dia jadi idaman segala usia. Diam-diam banyak gadis memimpikannya menjadi pujaan. Pujaan di singgahsana megah bertahtakan hati. Oh, Gus Ahmad.. uhibbuka!
***
Terpatri dalam memoriku. Pertama kali aku mengenalnya saat di kelas sebelas SMK. Ketika itu, aku tengah menanti jam pelajaran tiba. Daripada tak ada kegiatan, aku mengisi waktu dengan bersih-bersih kelas. Beberapa teman yang sudah datang pun aku gerakkan. Demi kenyamanan, penghuni kelas harus rutin membersihkan setiap hari.
Hari Selasa ini bukan jadwalku. Tapi, aku senang ambil tindakan pertama. Aku tak betah melihat sampah berserakan. Sumpek. Bekas tisue, sobekan kertas, bekas rautan pensil, juga sampah bekas jajanan ada dimana-mana. Sering, sampah-sampah itu kudapati di lorong meja belajar para siswa.
Tak lama kemudian, bel berbunyi. Tanda jam pelajaran akan segera dimulai. Aku bergegas meletakkan peralatan bersih-bersih pada tempatnya. Kemudian aku menempatkan diri dan bersiap-siap menerima ilmu dari guru. Posisiku dekat dengan jendela. Jadi peristiwa di luar kelas bisa kusaksikan percuma dan kapan saja.
Di luar kelas, ada siswa yang mengambil langkah seribu. Wajahnya terlihat asing. Nampaknya dia bukan siswa sini. Tapi, aku tak tahu pasti. Aku enggan mempertanyakan. Akhirnya, aku alihkan fokus ke buku pelajaran saja.
        Bruuk! Seperti ada banteng nyeruduk. Pintu kelas yang sudah rentan pun sontak mengeluarkan suara khasnya, kreeett! Pintu yang semula tertutup rapat akhirnya terbuka.
Di balik pintu tersebut muncullah sesosok tak dikenal. Semua penghuni kelas terdiam. Sementara sosok itu hanya berdiri menggapai langit-langit pintu. Posturnya yang tinggi seolah menyulitkannya. Nampaknya ia juga mudah lelah. Atau begitu jauhkah jarak rumahnya ke sekolah sehingga ia terengah-engah. Semua mata siswa tertuju padanya. Tak terkecuali aku.
        “Pak Guru belum datang ya? Alhamdulillah...”
        Kalimat itu dikeluarkannya sambil mengelus dada. Ia juga menghela nafas panjang. Seolah bencana baru saja di-pending. Siswa asing itu pun mengambil sikap tegap. Ia merapikan pakaian dan pecinya. Melirik penjuru demi penjuru. Tak satupun bangku kosong tersedia untuknya. Siswa lain entah sengaja acuh atau justru terhipnotis oleh kehadirannya. Semua siswa yang mayoritas perempuan hanya diam. Ada yang terus memperhatikan. Ada pula yang malu-malu, lalu berlagak sedang baca buku. Aneh-aneh saja. Sedang siswa laki-laki lainnya sibuk menawarkan jasa tempat duduk.
        “Hi, Gus. Duduk di samping Irfan aja. Biar blo’onnya ilang.” Celetuk Wahyu dari pojok belakang kelas.
        “Jangan! Mending di samping Ridwan aja. Biar dia pinteran dikit, haha...”  sahut Raihan.
        “Oh.. syukron jiddan. Saya duduk di sini saja.” Jawabnya sambil menunjuk tempat kosong di sebelahku.
        Kelas mendadak gaduh. Beberapa teman perempuan berbisik. Mereka membicarakan siswa asing itu. Sepertinya mereka tahu sesuatu dan aku tidak. Mereka tampak berharap orang asing itu duduk di dekat mereka. Tapi, takdir berkata lain. Ia memilih duduk di sebelahku. Padahal, aku tak memintanya.
        “Permisi. Keberatan nggak aku duduk di sini?”
        “Ehm.. boleh-boleh aja,” jawabku singkat.
        “Ehya, masmuki ya ukhti?” lontarnya sok ke-Arab-an.
        “Ee....”
        Belum sempat ku terangkan siapa namaku, Pak Gun sudah masuk kelas lebih dahulu. Beliau membawa seperangkat bahan ajar. Sepertinya kali ini beliau akan mengajak kami praktek menginstal software lagi. Setelah Pak Gun membagi kami ke dalam empat kelompok, ukhti penghuni kelas XI jurusan teknik komputer dan jaringan (TKJ) seolah tak suka. Kembali karena dia, Ahmad. Siswa baru di sebelahku ini sudah membuat iri teman-teman perempuanku. Itu karena aku satu tim dengan Ahmad.  
***
Tiga puluh menit berlalu tanpa sebutir ilmu pun didapat. Jumat serasa kehilangan kramatnya tanpa pengantar Filsafat. Pak Khasan absent karena anaknya sakit. Padahal, kami sangat menanti ceramahnya. Apalagi kalau bukan soal filsafat kehidupan. Memang bukan bidangnya. Tapi, beliau gemar menyela beberapa menit di awal pelajaran. Semua siswa suka itu. Pernah, Pak Khasan tak jadi mengajar mapel yang diampunya; Matematika. Hanya karena berceramah, beliau sampai lupa hendak mengajar. Hahaha, benar-benar dambaan siswa.
Aku, Fitri, Dewi, dan Gita lalu mengisi perut yang sejak tadi konser. Kantin Bu Suryani selalu jadi sasaran. Tak perlu menunggu lama, pesanan sudah siap saji. Tapi kali ini hanya soto pesananku yang tak ada. Sialnya, aku tak ingin makan apa-apa pagi ini, kecuali soto. Jadi aku hanya memesan segelas susu cokelat. Itu cukup untuk memberi energi hingga siang nanti.
        Srupuuut! Tetes demi tetes fluida berwarna cokelat itu masuk ke dalam tubuhku. Mengairi aliran darah yang sejak tadi melemah gara-gara belum dapat asupan. Sementara ku nikmati kehangatan segelas milk, dari pintu kantin Bu Sur terdengar suara gaduh bocah.
        “Hey guys! Berhubung Mister Khasan berhalangan masuk, nih aku ada soal filsafat. Coba tebak kenapa 2-1= tidak ada?”
        Wahyu berkata-kata sambil berjalan dengan rombongannya. Entah apa yang sedang dibahas, mereka bersemangat sekali. Apalagi Wahyu. Dengan dialeg khas Jawa yang kental, ia terlihat aneh saat sedang berbicara.
Di antara rombongan itu tampak Ahmad. Gayanya sangat berbeda dengan siswa SMK sini pada umumnya. Ia lebih kalem, elegan, tapi tetap sederhana. Padahal, dia sama-sama berseragam putih abu-abu.
        “Hai, Aini...” sapa Wahyu dengan pandangan agak aneh.
        “Um.. hai juga.” Jawabku singkat.
        Ahmad mengambil segelas air putih dan sebungkus roti lalu duduk bersama kawanannya. Ia terus menatap ke arahku. Perasaanku mendadak aneh. Tiba-tiba hatiku berbisik kenapa bukan Ahmad yang menyapaku dan kenapa harus Wahyu.
***
          Hatiku tenang usai sholat Maghrib berjama’ah di masjid. Kyai Farih yang jadi imam. Tiap beliau yang memimpin sholat, masjid selalu padat. Bila padat, pasti ada kasus sandal hilang. Aku mendadak resah mengingat sandal baru yang aku bawa-serta ke masjid. Kupastikan tak jadi korban.
        “Kayaknya tadi aku taruh di sini... kok nggak ada ya?”
        Bingung menyergapku. Sudah dicari kesana-sini tak ketemu. Padahal, sandal itu pemberian ibu. Tak sampai hati menghilangkan sandal yang dibeli dengan keringat ibu itu. Aku harus mencarinya sampai dapat. Bila tidak, aku sungguh merasa bersalah.
        “Ai, cari apa?”
        Suara itu seperti suara seorang pemuda. Familiar sekali. Setiap kali mendengar suara itu, hatiku seolah dilumuri kedamaian. Hmm, mendadak penghubung sarafku tertuju pada seseorang, yakni Ahmad. Tapi, aku tak berani menoleh. Jujur, aku benar-benar gugup bila itu benar dia. Sampai-sampai Al-Qur’an ku dekap dengan eratnya.
        “Ee...enggak apa-apa kok.” Jawabku sambil berusaha menyembunyikan rasa gugup.
        Di saat aku mengalihkan pandangan, suara itu justru kian jelas. Wah, bukan main bergejolak jiwaku. Apalagi setelah pemuda itu berdiri tepat di hadapanku. Keberanianku mendadak menciut. Bahkan mungkin lenyap seketika. Tapi sungguh tak sopan bila hanya diam. Sementara pemuda itu berulang kali bertanya.
        “Ai, ada yang bisa saya bantu?”
        Berpikir lama. Antara berani atau tidak. Akhirnya aku beranikan diri untuk melihat wajahnya. Perlahan kuangkat kepala. Dan, bola mata kami bertemu. Subhanallah. Sungguh indah mata ciptaan Allah ini. Nyaris tak bergeming aku di hadapannya. Seperti ada magnet berkekuatan hebat. Magnet itu menarikku.  Menyelami sebuah dasar kehidupan yang dalam. Tapi entah apa itu. Aku sibuk mencari-cari sesuatu itu. Tak jua ketemu. Sekali lagi, pemilik bola mata indah itu bertanya padaku.
        “Halo. Ai, ada apa? Kok diem aja.” Tanyanya seraya melambaikan jemarinya tepat di depan mukaku.
        “Oh.. afwan. Saya sedang mencari sandal yang hilang. Rasanya tadi saya letakkan di sekitar sini. Tapi kok nggak ada.” paparku.
        Ahmad. Pemuda itu hanya mengangguk. Ia seolah mengerti kebiasaan jahil jama’ah desa ini. Padahal, ia baru saja beberapa minggu bermukim. Ahmad berlagak ikut mencari-cari. Tak lama, ada yang berseru dari dalam masjid.
        “Gus! Gus Ahmad! Dicari Pak Yai tuh.” Kata seorang laki-laki paruh baya yang tak ku kenal.
        “Ohya, terimakasih Pak. Saya akan segera ke dalam.” Jawab Ahmad.
        Aku tercengang. Bagaimana laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan “Gus”. Aku juga jadi teringat sapaan Wahyu ketika pertama kali Ahmad masuk ke kelas. Wahyu juga membubuhkan kata “Gus” saat menyapa Ahmad. Aku benar-benar bingung. Siapa pemuda yang tadi di hadapanku ini. Sosoknya menghilang bersama segudang tanda tanya.
***
Sejak jam pertama tadi, aku tak semangat mengikuti pelajaran. Tak biasanya. Bad mood menyerangku belakangan ini. Apalagi setelah kejadian malam itu. Aku jadi sering bertanya-tanya sendiri. Apa benar dia anak Kyai. Kalaupun iya, lantas aku harus bagaimana. Haramkah seorang yang biasa jatuh cinta pada seorang yang berkasta seperti dia? Pertanyaan semacam itulah yang melekat padaku.
Seperti sekarang ini. Ragaku menghadapi untaian kata. Namun jiwaku melayang entah kemana. Apa yang ku baca sepertinya tak mengena. Sia-sia saja berjam-jam duduk di perpus sekolah. Hanya berteman sepi dan segala mimpi. Mimpi berkasih seorang anak kyai.
Pikiranku lagi-lagi berkecamuk. Antara cinta dan kasta. Namun, aku tak peduli itu semua. Aku tak peduli Ahmad itu siapa. Sekalipun ia anak kyai, pejabat tinggi, atau bahkan milioner sedunia. Yang ku tahu, Ahmad adalah pemuda yang telah mematri hatiku dengan cinta.
***
        Sebulan sudah Ahmad jadi penghuni kelasku. Semua siswa senang padanya. Para guru pun menjadikan ia siswa teladan. Selain pintar, Ahmad berbudi pekerti luhur. Maklum. Aura ayahnya yang seorang kyai terpancar dalam dirinya.   
        Selama sebulan itu pula, perasaan cinta ku kian membuncah. Hari demi hari bertatap muka. Seringkali bercanda di satu ekstra yang sama; pramuka. Akhirnya aku tak sanggup memendam rasa.
        Diam-diam ku tulis sepucuk surat. Lewat Irfan aku titipkan surat itu. Irfan ku suruh antarkan ke Ahmad. Awalnya takut. Tapi, aku lebih takut lagi bila cintaku tak sampai.
***
          Malam Jumat. Usai sholat maghrib dan tahlilan di masjid, aku pulang. Seperti biasa. Ayah Ahmad, Kyai Farih yang jadi imam. Pastinya masjid selalu padat. Aku sudah antisipasi agar kejadian tempo lalu tak terulang. Maka, yang kubawa serta ialah sandal butut milik ibu. Sandal itu sudah dibawa kemana-mana. Jadi, bentuknya pun tak serupa sandal.
        Satu per satu jama’ah melangkah keluar. Sedang aku masih merapikan jilbab yang kurang teratur. Setelah beres, aku bangkit dengan mendekap buku tahlilan.
        Baru hendak mengenakan sandal, ada yang menyeletuk.
        “Ai.. Ai..”
        Entah siapa. Suasana agak gelap. Lampu lima watt belum cukup memberi penerangan. Bola mataku terpaksa berakomodasi tingkat tinggi. Mencari-cari sumber suara, tapi tetap tak ketemu. Lagi-lagi ada yang menyeletuk.
        “Ai.. Ai.. ini aku, Ahmad.”
        Kali ini ia membubuhkan nama. Oh, rupanya Ahmad. Tapi buat apa sembunyi-sembunyi. Gerak-geriknya seperti maling saja. eh, tapi benar juga. Dia memang maling. Dia telah mencuri hatiku dan membawanya pergi.
***
        Berkaca. Alangkah beruntungnya aku. Seorang Ahmad membalas cintaku. Terngiang-ngiang peristiwa malam itu. Saat kedamaian menyelimutiku. Kedamaian dari Sang Ilahi dan kedamaian kasih dari seorang anak kyai.
Dalam kegelapan malam itu, bibirnya berucap. Sebuah kata yang sudah lama ingin ku dengar. Balasan kata-kata dalam suratku. Apalagi kalau bukan kata cinta. Oh, terkejut bukan main. Saat ia sungguh berucap. Aku tahu, ketulusan itu datang dari lubuk hatinya.
Sekarang. Aku berkaca. Aku bertekad menjalani kisah cinta bersamanya. Malam ini, ia janji akan datang. Maka, aku menantinya. Usai merapikan jilbab, aku bersiap di jendela kamar. Siapa tahu dia datang.
Satu jam berlalu. Aku masih setia menunggu. Tapi kenapa ia tak jua menampakkan batang hidungnya. Gelisah mulai menyergap. Pikiranku pun mulai kacau. Macam-macam dugaan bermunculan. Ada apa gerangan. Apakah ia berdusta dan cintanya hanya di bibir saja. Ah, entahlah. Aku terlanjur gusar.
Breekk! Ku tutup jendela kamarku. Kekecewaan menyelimutiku sepanjang malam.
***
“Aini, ada surat dari Ahmad.” Kata Fitri.
Masih terasa sisa-sisa gundah malam itu. Kini, ia tidak berkata langsung padaku. Malah kirim surat lewat Fitri. Aku jadi bingung. Apa yang ia rencanakan. Kenapa ia tega berbuat begini. Padahal aku sangat mencintainya.
Perlahan kubaca isi suratnya. Oh, ternyata begitu. Kuhargai keputusannya. Agak menyakitkan memang. Tapi aku sadar. Bagi seorang anak kyai sepertinya, pacaran tak diperbolehkan. Pantas saja. Ayahnya tak mengizinkan keluar rumah malam hari. Jadi mana mungkin malam itu dia datang padaku. Sementara ia hanya akan datang pada wanita yang akan jadi kekasih halalnya. Dan aku yakin sepenuhnya, wanita itu bukan diriku.
        
        Lutfiyah Nurzain, mahasiswa IAIN Walisongo Semarang, Jurusan Tadris Matematika semester V. Bergiat di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edukasi.

Post a Comment