Diduga Selingkuh dengan Tetangga, Dituntut 30 Juta

Jepara-WAWASANews.Com
Petinggi Tengguli, Fathur
Ratusan warga Tengguli, Bangsri, Jepara, menggeruduk kantor kelurahan pada Rabu Siang (24/12/2014). Ratusan pemuda yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Anti Maksiat (Amama) itu menuntut agar Petinggi setempat menyelesaikan kasus perselingkuhan yang membuat warga merasa dirugikan secara moral.
Di kelurahan, mereka diterima oleh Petinggi, Fathur, yang sudah didampingi Kapolsek Bangsri, Rismanto, beserta beberapa aparat kepolisian yang berjaga. Unjuk rasa berubah jadi media audiensi antara petinggi, warga dan kepolisian.
Dalam kesempatan itu, Kordinator Amama, Ahnafuddin, menjelaskan bahwa kedatangan mereka menuntut kepada pelaku agar pelaku memohon maaf di hadapan publik, jika tidak, maka, dia tidak boleh bertempat tinggal di Tengguli.
“Pelaku seperti tidak merasa berbuat salah dan masih hidup normal seperti warga lainnya. Kami sebagai warga yang peduli norma merasa terganggu dengan kelakuannya. Dia harus  mendapatkan efek jera,” kata Ahnaf.
Tuntutan tersebut menurut Rismanto bisa diselesaikan secara kekeluargaan. “Kita tidak perlu menggunakan cara-cara kekerasan untuk meyelesaikan kasus perselingkuhan ini,” jelasnya.
Demo: Salah satu warga membentangkan spanduk berisi tuntutan usir pelaku dari kampung
(Foto: WAWASANews.Com/Badri)
Dalam kesempatan itu, Rismanto meminta penjelasan kepada Hartono, suami SN (35), korban perselingkuhan, untuk menjelasakan tuntutannya kepada ZA (36). Hartono menjelaskan di hadapan ratusan hadirin Amama bahwa pelaku harus meminta maaf di hadapan publik dan didenda secara material. Nilainya sebesar Rp. 30 juta, sebagaimana dulu pernah disepakati secara tertulis.
“Jika pelaku ingkar janji, maka masalah ini lebih baik dibawa ke gugatan perdata. Namun, dalam gugatan tersebut harus ada keterangan saksi, bukti-bukti petunjuk, dan surat keterangan tertulis dari terdakwa. Jika ternyata tidak terbukti, pelapor bisa digugat balik. Jadi, tidak mudah untuk mengangkat masalah ini ke pengadilan. Tidak semudah itu menuntut petinggi mundur jabatan karena perkara ini,” kata Rismanto.
Mediasi: Kapolsek Bangsri, Rismanto, berdialog dengan warga Tengguli (24/12/2014)
(Foto: WAWASANews.Com/Badri)

Janji Kosong
Latar belakang terjadinya unjuk rasa warga Dukuh Kalitelon, Tengguli, Bangsri, Jepara diawali dari gagalnya terduga pelaku membayar denda Rp. 30 juta dalam tempo 25 hari sejak “tertangkap”, sebagaimana kesepakatan awal.
Dalam perjanjian tertulis, ada jaminan sertifikat tanah dari terduga pelaku yang boleh dilelang jika tidak segera membayar. Warga marah karena bukan saja tidak ditepati, Petinggi Fathur justru dianggap melindungi terduga pelaku ZA dengan mengatakan bahwa ZA dalam kondisi ditekan saat menandatangani surat perjanjian. Surat perjanjian dianggap Petinggi tidak berlaku.
Tuntut Petinggi: "Usir Manuk Nakal dari Lingkungan Kami"
Foto: WAWASANews.Com/Badri
“Petinggi digeruduk warga salah satunya juga dalam rangka untuk mengembalikan perjanjian yang sudah diingkari. Jangan terkesan melindungi pelaku hanya karena dia tokoh yang dikenal suka ngimami tahlilan dan kegiatan kampung,” kata Bambang, salah satu warga.
Kini, warga menunggu janji Petinggi Fathur menyelesaikan kasus perselingkuhan antar tetangga ini karena dalam kesempatan unjuk rasa tersebut, pihak terduga pelaku ZA tidak berhasil didatangkan dengan alasan kerja.
“Saya siap menyelesaikan masalah dengan membuat  laporan langsung ke polisi agar segera selesai. Ini pelajaran berharga bagi saya dan warga Kalitelon, Tengguli, agar tetap menjaga norma dan nilai-nilai agama yang berlaku,” pungkas Fathur yang disambut tepuk tangan warga. (Badri) 

Post a Comment