Puisi-Puisi Muhammad Badrun

Puisi

Setitik Awan di Meruya

Di pagi buta itu. Kakiku beranjak dari matahari yang masih terlelap dari aba-aba semesta, untuk bersua dengan takdir. ya, takdir bersama awan yang berjalan menaungiku.

Di Meruya, metropolitan yang terjajah kaum desa.
Sudah tidak risau bagiku dan sanak famili mengiris bawang di dapur kota.

Sekian ribu detik, aku bercumbu dengan waktu, hanya untuk menanak harapan di senja hari, bersama wajahmu di guratan lazuardi, yang jingga meranum. Barangkali dirimu menjelma di pinggiran jalan raya, di diskotik, di warteg mbak Siti, atau bahkan di stasiun bus kawasan cengkareng?.

Sejenak diri ini bergumam. Wajahmu tak terlukis untukku di tembok gedung-gedung tinggi yang kusinggahi, tapi di bak mandi yang setiap hari aku berjumpa dengan air tenang.

Darmakradenan, Januari 2015.


Seberang Pecenongan

Nyanyian serupa liturgi
Disenandungkan olehnya, perempuan tak berikat pinggang
Di seberang trotoar Haji Slamet; warung makan.

Ada dentuman yang amat besar
Mendera jantungnya yang kupu-kupu
Tapi air hujan tetap saja menderas
seakan ikut mengamini runtuh nafasnya.

Akan selalu seperti ini;
malam dengan kegulitaan merajam putih putiknya sampai pagi tergopoh, ia tega lupakan senja demi kepulan uap nasi hangat di meja makan.

Purwokerto, 2015


Dawuh Ramadhan
         : Derita sipil Gaza

Tatkala putaran hijriyah merotasi
Menyemat diri menjadi-syahrul hurum-
Seketika Ramadhan diantaranya berucap
Kehadirat Hyang pencipta segala maha

"Aku adalah hujan setelah Rajab menjadi awan dan Sya'ban menjadi anginnya"
Memberi basah atas jisim melumpur
Bebersih dari ladang dunia yang begitu jerami

Namun risalah ini kembali ternodai
Disaat hakku tersisihkan manusia
Atas wajib mereka tertembak serdadu
Di Negeri haram serupa madina dan bakkah

Jikalau mampu aku menyuara diri
Kepada Semesta jagat raya
Akulah tahta pengampunan
Melaknat kepada mata kekejian
Merajam kepada hati membatu
Untuk mati di kemudian
Purwokerto, Juli 2014


Perpisahan Kudus
         : kitab biru di An-Nuur

Biarlah Awan melukis kelam tubuhnya
Atas persaksian raga insan menggema
Terpisah satu dari sekian abjad -alifbata-
Menjadi bagian perjamuan anggur di antara semesta
Yang bertasbih
Yang bertahmid
Yang bertakbir, tanpa terpisah jengkal

Besok atau entah kembali
Mematri wajah-wajah surgawi
Selaksa duduk di atas dipan yang maha
Hingga menyemai semerbak aroma
Sampai hati akar rumput sabana

Atau angin yang mulai membekukan
Sendi yang merekatkan nyawa
Kepada senja termangu oleh tabir awan kelam
Hingga menyisakan rindu teramat
Dari ikan, batu, gunung yang mendo'a
Memendar untuk terpisah yang menyatu
Menjadi pancaran roman-roman surga: harapan

Purwokerto, 20 Juli 2014.


Dzikir Hamba

Gusti yang aku mati
Aku yang mati duhai Gusti
Dari langit mencakar
Mendarah hujan begitu asam

Mendesakmu kuterpangku
Tuliku dalam sunyi
Gemingku diantara ramai terpecah
"Allaahu Kariim dzolamnaa anfusanaa wa illamtaghfirlanaa
wa tarhamnaa lanakuunannaa min al-khaasiriin"


Gelapku terhuyung
Meraba rayap mencari pelita
Tersungkur di atas pasujudan matiku

Darmakradenan, 2014


Padepokan Sunyi

Zaman hilang terhempaskan ramai, di antara semak belukar merapat. Sebuah hikayat yang tersisih dari butir pasir nampaknya lupadiri, ketika sayap-sayap malaikat berterbangan membawa risalah kepada Adam, Mariam ikut menengadah atas lahirnya Al-Masih. Mengusap kebutaan mata dari gelap semesta mematikan, lantaran menyambangi kota diketahui berteman sunyi.
Darmakradenan, 27 Juli 2014


Alamat Lisan

Saat terlontar A, menjadi Anak-anak jalanan yang jalang
Maka B menyulap diri menjadi Babi-babi ternak belum sarapan pagi
Kau tunjuk C, dari cinta menjadi cih tak sudi, maka terludahi
Lazimnya kupu-kupu dengan ringannya melayang, tahu
Kau merapuhkan sepasang sayap mereka yang bertasbih meminta pengampunan.

Al-Hidayah, di pagi hari, 2014.

Sepasang Mata di Selat Karimata
         : AirAsia

Delapan penjuru mata angin
Menusuk matamu yang binar
Lalu
apa? kau tertipu jeritan seekor burung.
Remeh, tapi akulah warna-warni langit
Yang kau terengah demi sampai padaku: Aku timpakanmu.
Gemerincing lonceng di pusara, tanda aku mengejamu; lekas
Biar
lah Khidir merapal bah
Kian kau entah, mengucap sumpah; laa haula wa la
a quwwata illaa billaah, lalu bersemayam bersama bah.

Purwokerto, 2 Januari 2015.
-----------------------------------

Muhammad Badrun, lahir di Banyumas, 04 Juni 1994, mahasiswa Pendidikan Agama Islam, IAIN Purwokerto, santri Pondok Pesantren Al-Hidayah Karangsuci-Purwokerto. Aktif di komunitas sastra Gubug Kecil, puisinya ada dalam antologi puisi Cahaya Tarbiyah, STAIN-Press (2013), Zine Puisi di Indonesian Poetry Battle on Facebook (IPBoF) berjudul Sayatan Dengki (Incision Envy), Rada Gila (A bit Crazy), Wajah Sunyi (Silent face), Lampu Neon (Neon Lights), Pohon Soekarno (Sukarno’s Tree).




3 Responses to "Puisi-Puisi Muhammad Badrun"

  1. Puisi puisi yang bagus kang, memang puisi bisa menjadi media ekspresi kita untuk mengasah kekreatifan. ^_^

    ReplyDelete