Hujan Meteor Leonid 2015

WAWASANews.Com-Teknologi
Jika langit malam cerah dan tidak berawan pada pertengahan November nanti, kita bisa menikmati pertunjukan kembang api alam, hujan meteor Leonid. Hujan meteor ini berlangsung antara tanggal 10–23 November, namun puncaknya akan terjadi pada tanggal 17–18 November nanti. Hujan meteor ini dapat dinikmati pengamat langit di belahan bumi utara dan selatan, termasuk Indonesia.
 Meteor adalah lintasan cahaya di langit yang terjadi saat meteoroid—partikel-partikel kecil di ruang angkasa yang berasal dari komet atau asteroid—memasuki atmosfer bumi. Kecepatannya yang tinggi, bahkan bisa melebihi kecepatan peluru yang ditembakkan, membuat udara di depannya memanas dan membakar meteor pada suhu lebih dari 1.650oC sehingga menghasilkan pancaran cahaya indah yang bisa dilihat dari bumi. Meteor juga dikenal dengan sebutan bintang jatuh.
Komet Siding dan Mars, 19 Oktober 2014
(Foto: Damian Peach)
Sebenarnya meteor terjadi tiap malam, namun lokasi dan waktu kemunculannya di langit sangat acak, tidak dapat diprediksi. Jadi, cukup sulit untuk menyaksikannya. Berbeda halnya dengan hujan meteor atau meteor shower. Peristiwa ini berlangsung pada waktu yang sama tiap tahunnya. Lokasi kemunculan meteor-meteornya juga dapat diprediksi karena wilayah kemunculannya tampak berasal dari titik di langit dari arah rasi bintang tertentu. Titik asal kemunculan meteor itu disebut radian. Hujan meteor diberi nama sesuai dengan rasi bintang tempat kemunculannya. Tapi, yang paling asyik dari hujan meteor adalah banyaknya meteor yang dapat disaksikan. Kita berkesempatan untuk menyaksikan lusinan meteor dalam semalam.
Hujan meteor Leonids akan tampak bermunculan dari arah rasi Leo. Meteor-meteor ini adalah partikel debu yang berasal dari komet 55P/Tempel-Tuttle. Komet ini ditemukan oleh William Tempel pada akhir 1865 dan secara independen oleh Horace Tuttle pada awal 1866. Namun, komet ini telah teramati pada tahun 1366 dan 1699. Komet 55P/Tempel-Tuttle mengitari matahari setiap 33 tahun.  
Dimulai ketika berada lebih dekat dari orbit Jupiter, partikel-partikel debu komet 55P/Tempel-Tuttle akan terlepas ketika gas beku komet menguap saat komet mendekati Matahari. Setiap November, bumi melintasi wilayah partikel-partikel debu itu tersebar. Sebagian serpihannya masuk ke atmosfer dengan kecepatan mencapai 72 km/detik. Bandingkan dengan peluru dari senapan yang kecepatannya hanya 1.000 m/detik! 
Hujan meteor Leonid paling menarik terjadi pada tanggal 12–13 November 1883. Itu adalah saat ditemukannya hujan meteor Leonid. Masyarakat saat itu panik melihat langit menjadi terang. Beberapa orang bahkan sampai berpikir dunia akan berakhir. Diperkirakan,  saat itu ada 100.000 meteor tiap jamnya. Badai meteor Leonid selanjutnya terjadi pada tahun 1866 dan 1867.
Para astronom menyebut suatu hujan meteor sebagai badai meteor jika meteor yang muncul tiap jamnya mencapai 1.000 meteor. Namun, pada puncak hujan meteor Leonid nanti, diprediksikan kita hanya akan dapat menyaksikan 10–15 meteor tiap jamnya. Saat terbaik untuk menikmati fenomena hujan meteor ini adalah antara tengah malam dan subuh. Rasi Leo akan tampak di timur. Bulan yang menjelang fase kuartir awal akan terbenam sebelum tengah malam sehingga tidak akan menggangu pengamatan. Selain hujan meteor, kita juga bisa mengamati planet Jupiter yang bersinar di depan si singa Leo.
Untuk menyaksikan hujan meteor cukup menggunakan mata kita, tidak perlu menggunakan teleskop atau teropong. Pilihlah tempat gelap, jauh dari perkotaan dan jauh dari polusi cahaya (lampu). Pilih juga tempat dimana kita dapat menyaksikan wilayah langit yang luas, tidak terhalang gedung, pepohonan, atau apapun. Jangan lupa untuk menggunakan pakaian yang hangat supaya tidak terganggu oleh udara malam yang dingin. Kita juga bisa berbaring di atas kursi kebun atau tikar supaya lebih nyaman dan lebih leluasa memandang langit. (Ninuk Purwanti, Jakarta Selatan)

Post a Comment