Perempuan Pemelihara Anjing

Cerpen

Oleh Eko Hartono

        Tiba-tiba perempuan itu ingin memelihara anjing di rumah. Semua karena kebetulan. Suatu hari, saat pulang dari kantor, dia melihat seekor anjing kecil kurus berdiri di sudut trotoar. Sorot matanya yang memelas memancing rasa iba. Perempuan itu lalu mengambilnya, membawa pulang, memandikan dan memberinya makan. Dia menamai anjing itu; Didi!
        “Buat apa kamu bawa-bawa anjing ke rumah? Bikin kotor dan najis saja!” Sebuah teguran mirip guntur di siang bolong mengejutkan perempuan itu. Ia menoleh pada laki-lakinya yang berdiri di pintu.
        “Aku tadi menemukannya di pinggir jalan, Bang. Kasihan! Dia kelihatannya sangat kelaparan. Badannya kurus tak terawat,” jawabnya.
        “Apa pedulimu? Biarkan saja anjing itu mati kelaparan!”
        “Dia kan makhluk Tuhan juga, Bang? Dia butuh dirawat!”
        “Kamu mau merawatnya?”
        “Ya, Bang!”
        “Di rumah ini?!”
        “Di mana lagi…?”
        “Tidak boleh!”
        “Kenapa tidak boleh?”
        “Dia membawa najis, tahu?!”
        “Nanti aku akan memberinya kandang! Dia tidak akan kelayapan ke mana-mana, tidak akan kencing dan berak sembarangan.”
        “Pokoknya tidak boleh! Tidak tahukah kamu bahwa malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing!”
        “Kukira malaikat akan maklum kalau tahu anjing ini butuh diurus!”
        “Sudah! Kamu jangan banyak alasan! Dari dulu kamu memang pintar omong! Gara-gara kamu, hidup kita jadi berantakan! Ekonomi kita hancur! Sekarang, kamu malah bawa-bawa anjing ke rumah! Menambah beban saja! Jika kamu memelihara binatang ini, mau tidak mau kamu harus memberinya makan, minum, dan merawatnya. Bagaimana kalau sampai anjing ini sakit atau menularkan penyakit? Itu membawa mudharat namanya!” dengusnya sengit.
        “Abang tak usah khawatir. Aku jamin anjing ini sehat. Memberinya makan tak akan sampai membuat kita jatuh miskin, Bang. Bukankah menyayangi binatang dianjurkan oleh agama?” dalih perempuan itu diplomatis.
        Laki-lakinya semakin senewen. Untuk beberapa saat keduanya masih memperdebatkan soal anjing itu. Tapi akhirnya diambil kesepakatan; perempuan itu boleh memelihara anjing di rumah namun tidak boleh dibiarkan kelayapan. Anjing itu akan dikerangkeng di kandang. Dia boleh keluar bila perempuan itu sudah pulang dari kerja. 

***
        Perempuan itu merasa senang karena diijinkan memelihara anjing di rumah. Setidaknya anjing ini bisa menjadi teman. Sejak putri semata wayangnya tiada, ia merasa sangat kesepian. Tak ada lagi teman yang bisa diajak bicara dan bercanda di rumah. Suami? Perempuan itu merasa suaminya telah banyak berubah. Diantara mereka seperti ada benteng tinggi yang memisahkan. Mereka jarang bercakap-cakap atau bercengkerama layaknya pasangan perkawinan.  
        Hanya karena soal anjing itu memancing laki-lakinya mau bicara. Tapi sekali bicara, ucapannya terasa menusuk hati. Perempuan itu sudah terbiasa mendapat dampratan, celaan, dan hinaan dari sang suami. Namun ia hanya diam saja, tak membalasnya. Ia sadar, banyak kesalahan dan dosa diperbuatnya. Mungkin ini sebagai penebusnya. Ia rela diperlakukan seperti apa saja oleh sang suami. Ia pun rela bekerja membanting tulang, sementara suaminya menganggur di rumah. Laki-laki itu lebih suka menghabiskan waktunya di ruang peribadatannya yang sepi. Ia menjelma sufi yang menjauhi dunia ramai!
        Awalnya, perkawinan mereka lancar-lancar saja. Sang suami memiliki kedudukan mapan di sebuah perusahaan besar, sementara istrinya berdiam di rumah menjalankan peran ibu rumah tangga. Kebahagiaan mereka terasa sempurna dengan kehadiran buah hati seorang anak perempuan yang manis dan lucu. Dengan gaji suaminya yang besar membuat perempuan itu bisa mendapatkan apa saja keinginannya. Ia tak perlu bersusah-payah mengurus rumah dan anak, karena sudah ada pembantu. Tiap hari kerjanya cuma berdandan, shoping, jalan-jalan, arisan, dan memanjakan diri.
        Kehidupan tak selamanya berada di atas. Badai datang menerpa kehidupan mereka. Perusahaan suaminya mengalami kebangkrutan. Laki-laki itu terkena PHK. Dia lalu melamar kerja ke beberapa perusahaan lain, namun tak diterima. Untuk makan sehari-hari mereka terpaksa berhutang dan menjual apa saja barang yang tersisa. Rumah, mobil, televisi, kulkas, semuanya sudah terjual. Mereka tak punya tabungan, karena telah dihabiskan oleh sang istri. Mereka akhirnya tinggal di rumah kontrakan kecil. Badai kedua kembali datang ketika anak semata wayang mereka mati kecelakaan tertabrak mobil di jalan.
        Pukulan yang datang bertubi-tubi membuat laki-laki itu menjadi down dan depresi. Ia menimpakan semua kesalahan pada sang istri. Andai saja dulu perempuan itu rajin menabung, tentu hidup mereka tak akan terpuruk. Mereka masih bisa memiliki modal untuk membangun usaha baru. Andai saja perempuan itu pandai mengurus dan menjaga anak, tentu tak akan terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa anak mereka, harta berharga satu-satunya. Perempuan itu mengakui kesalahannya dan sangat menyesal. Ia rela apa pun yang akan dilakukan sang suami terhadapnya. Ia pun berjanji akan merubah diri!
        Laki-lakinya memang tidak secara terang-terangan memaafkannya, tapi dari sikapnya ia sudah tahu. Hanya saja, laki-laki itu sudah kehilangan respek pada sang istri. Ia tak mau bicara lagi pada sang istri, kecuali perlu saja. Ia pun terlihat lebih pendiam. Ia tak berhasrat lagi mencari pekerjaan, tapi lebih banyak membaca buku dan merenung. Entah, pengaruh dari mana, dia berubah religius. Ia rajin sembahyang dan bertafakur di dalam ruangan yang sepi. Ia ingin menghabiskan waktunya dengan mendekatkan diri pada Tuhan. Sepertinya ia sangat percaya; dengan banyak berdoa akan membuat hidup mereka berubah!
        Perempuan itu sebenarnya senang melihat suaminya berubah menjadi sosok yang religius. Setidaknya, laki-laki itu tidak lari kepada perbuatan negatif dalam menyikapi keadaan mereka yang sedang terpuruk. Hanya saja, sikap suaminya itu dianggapnya terlalu naif dan utopis. Untuk merubah nasib tidak cukup hanya dengan berdoa, tapi juga berikhtiar atau berusaha. Perempuan itu pun memilih bekerja agar hidup mereka tidak makin terpuruk. Untunglah, sang suami mengijinkannya bekerja di luar rumah. 

***
        Sejak ada Didi di rumah, perempuan itu seakan menemukan kembali gairah hidupnya yang pernah layu. Rasa penat dan lelah setelah seharian bekerja berganti suka cita saat melihat Didi. Anjing kecil itu menyalak-nyalak dari balik kandang, seakan memanggilnya. Perempuan itu segera membuka kandang dan mengeluarkan Didi. Dielus-elusnya kepala Didi lembut. Diambilkannya makanan khusus anjing yang dibelinya di toko dan menaruhnya di atas wadah. Dengan rakus anjing kecil itu menyantapnya.
        “Duh, kasihan sekali. Kamu pasti sangat lapar ya?”
        “Guk…!”
        “Kamu jenuh ya, dikurung terus dalam kandang?”
        “Guk…!”
        “Baiklah, besok hari libur aku ajak kamu jalan-jalan di taman kota!”
        “Guk-guk…!”
        Anjing itu sepertinya mengerti dengan ucapan majikannya. Ia pun menyalak dengan semangat. Perempuan itu tertawa senang.
        Diam-diam dari balik pintu kamar, laki-lakinya memandang penuh rasa cemburu. Ia sepertinya tak suka melihat istrinya akrab dengan si anjing. Perempuan itu memperlakukan anjingnya seperti anak sendiri. Dipeluk, dibelai, dicium, dan diajak bermain. Perempuan itu juga tampak seperti orang gila karena mengajak anjingnya bicara. Laki-laki itu mendengus kesal.
        Laki-laki itu memang tidak suka pada anjing. Dia sangat jijik dan muak melihatnya, apalagi kalau binatang itu berkeliaran di seluruh ruangan rumah sambil mengendus-enduskan hidungnya, sementara lidahnya yang terjulur mengeluarkan air liur hingga menetesi lantai dan karpet. Laki-laki itu tak segan menendangnya jika kebetulan mendekat ke bawah kakinya. Tubuh anjing kecil itu pun terlempar sambil mengeluarkan suara dengkingan sebelum kemudian lari terbirit-birit ketakutan. Perempuan itu kaget mengetahui anjingnya ditendang.
        “Abang ini sudah tidak waras, ya? Teganya menganiaya binatang! Apa salah anjing ini sampai abang menendangnya?!” ujar perempuan itu gusar sambil mendekap anjingnya.
        “Kamu itu yang tidak waras! Sudah dibilangi jangan memelihara anjing di rumah! Lihatlah, dia menebar najis di mana-mana. Bagaimana aku bisa bersembahyang dengan khusuk. Bagaimana doaku bisa sampai kepada Tuhan bila rumah ini sudah tidak suci lagi karena telah dinajisi anjing!” timpal laki-lakinya tak kalah gusar.
        “Bukan kesucian tempat yang menyebabkan sampainya doa kepada Sang Khalik, tetapi kesucian hati manusia. Kalau hati manusia sudah busuk, di tempat sesuci apa pun doanya tak bakal diterima Tuhan!”
        “Kamu bilang hatiku busuk?!”
        “Aku tidak bilang hati abang busuk, semua itu abang sendiri yang bisa menilai. Aku cuma ingin menegaskan bahwa tidak pada tempatnya abang menyalahkan anjing ini atas tidak sampainya doa abang kepada Tuhan. Lagi pula, apa tujuan abang sebenarnya dengan mengurung diri di rumah dan sibuk berdoa siang malam? Mengharapkan surga atau mengharapkan kehidupan kita berubah?”
        “Aku ingin surga! Aku juga ingin kehidupan kita berubah! Aku ingin kesialan hidup kita berakhir! Aku ingin kembali kepada kehidupan kita yang dulu! Aku ingin mengakhiri kutukan ini! Tapi ternyata kehidupan kita masih sama saja seperti ini. Semua itu gara-gara kamu! Gara-gara anjing sialan ini!”
        Perempuan itu meradang. Ia tak bisa lagi hanya diam menerima penghinaan dan cercaan suaminya. “Berhentilah menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada abang! Aku sudah cukup bersabar menghadapi sikap abang yang terus menerus menyalahkan aku! Sesungguhnya, kesialan yang abang alami, keadaan yang abang alami, tak lain bersumber dari pikiran picik abang sendiri. Kita tak mungkin kembali pada kehidupan dulu, kita akan menghadapi kehidupan hari ini dan esok, jika memang Tuhan masih memberi umur. Semestinya abang berpikir dan berusaha bagaimana agar hari esok bisa lebih baik dari hari ini. Tidak cukup dengan doa, tetapi dengan usaha nyata. Tak ada gunanya abang sibuk berdoa siang malam bila abang tak mau bekerja, tak mau berusaha!”
        “Diam! Kamu tak perlu menceramahiku! Aku tahu, mana yang terbaik kulakukan! Urus saja dirimu sendiri dan anjing sialanmu itu!” Laki-laki itu tak kalah marah. Ia lalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu.
        Perempuan itu mengelus dada. Ia prihatin menyaksikan sikap keras kepala suaminya. Sejak itu hubungan mereka makin jauh. Makin dingin. Makin tinggi tembok pemisah. Dan perempuan itu makin sadar, betapa telah cukup lama ia tak pernah disentuh suaminya. Karena laki-laki itu masih menganggap istrinya kotor, pembawa sial, dan pembawa bencana. Laki-laki itu ingin memelihara dirinya dari segala bentuk kekotoran. Ia ingin menjaga kesucian diri agar doa-doa yang dipanjatkannya siang malam sampai kepada Tuhan!
        Sementara perempuan itu hanya bisa menahan rasa perih dan sabar dalam dada. Sebenarnya ia bisa saja berbuat nekad meninggalkan laki-lakinya itu. Tapi ia masih punya hati. Siapa yang akan memberi makan suaminya bila ia pergi? Dirinya bukan makhluk egois yang suka mementingkan diri sendiri. Ia telah belajar dari kehidupannya di masa lalu. Ia ingin merubah kehidupannya, tapi tidak kembali kepada masa lalu. Ia ingin melihat dirinya menjadi manusia yang lebih berharga dan berguna. Setidaknya hal itu telah dilakukannya dengan memelihara dua jiwa di rumahnya; yakni suami dan anjingnya!



Eko Hartono. Lahir di Wonogiri, 16 Juni 1969. Kegiatan sehari-hari adalah menulis: cerpen, puisi, artikel, drama, skenario, novelet, dan novel. Karyanya  pernah dimuat di beberapa media massa diantaranya: Kartini, Swara Cantika, Kawanku, Aneka, Suara Karya, Nova, Kedaulatan Rakyat, Wawasan, Cempaka, Solopos, Alkisah, Bobo, Talenta, Panjebar Semangat, Seputar Indonesia (SINDO), Tribun Jabar, Tabloid NYATA dan lain-lain.
         
Pernah meraih beberapa penghargaan dalam lomba mengarang diantaranya: Pemenang Harapan Sayembara Novelet Majalah Kartini, Jakarta, 1996, judul: Pilkades. Juara II Penulisan Naskah Buku Cerita Keagamaan, judul: Anak-anak Hutan, Depag RI, Jakarta, 2000. Juara II Nasional Penulisan Naskah Buku Cerita Keagamaan untuk siswa SMP/MTs, judul: Ukhuwah, Depag RI, Jakarta, 2002. Juara III Penulisan Naskah Drama Berbahasa Indonesia tingkat Jateng, judul: Imbang, Dinas P & K, Provinsi Jawa Tengah, Semarang, 2007. Tiga buah cerita anak menjadi Pemenang Harapan Lomba Dongeng dan Cerita Misteri di majalah Bobo (2006-2007) judul: Ketika Seorang Pencuri Diadili, Memecahkan Kasus Perampokan, dan Pangeran Sial. Pemenang Harapan Lomba Menulis Cerkak, Yayasan Karmel, Malang, 2008, judul: Purik. Pemenang Harapan Lomba Menulis Cerpen dalam rangka 100 tahun Kebangkitan Nasional, Perhimpunan INTI DKI, Jakarta, 2008, judul: Menghapus Dendam Masa Lalu. Puisi berjudul: Ini Adalah Dunia Nyata masuk dalam 30 antologi puisi terbaik, KSI (Komunitas Sastra Indonesia) cabang Semarang, 2008.

Tiga novel anak berjudul: Misteri Bangunan Tua, Lari Dari rumah, dan Anak-anak Rimba diterbitkan PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo, 2005. Novel Cerpen Berdarah, penerbit LeutikaPrio, Yogyakarta, 2011.


Post a Comment