02 July, 2018

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap Diresmikan Presiden Jokowi

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap Diresmikan Presiden Jokowi

Peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap oleh Presiden Jokowi, Senin (02/08/2018). Foto: Biro Presiden
WAWASANews.com, Sidrap - Presiden Joko Widodo meresmikan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Provinsi Sulawesi Selatan, Senin (02/07/2018). Dalam sambutannya, Presiden menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen akan terus mengembangkan pembangkit listrik dengan energi baru terbarukan seperti PLTB di Kabupaten Sidrap ini.

“Tidak hanya di Kabupaten Sidrap saja tetapi juga telah dikerjakan dan selesai 80 persen juga di PLTB di Kabupaten Jeneponto. Selain itu juga sudah dikerjakan juga di Kabupaten Tanah Laut dan akan dimulai segera. Kita harapkan pembangunan PLTB juga dilakukan segera di Jawa Barat yaitu Kabupaten Sukabumi," ucap Presiden.

PLTB Sidrap ini merupakan PLTB terbesar yang beroperasi di Indonesia. PLTB ini memiliki 30 kincir angin dengan tinggi tower 80 meter dan panjang baling-baling 57 meter, masing-masing menggerakkan turbin berkapasitas 2,5 MW, sehingga total kapasitas yang dihasilkan oleh 30 turbin adalah 75 MW.

Banyaknya kincir angin ini pun sempat membuat Presiden berseloroh bahwa dirinya merasa sedang berada di Negeri Kincir Angin, Belanda.

"Saya lihat baling-balingnya muter semuanya, artinya angin di sini lebih dari cukup. Tadi saya merasa ini kayak di yang banyak seperti ini (kincir), di mana? Ya di Belanda. Kok serasa di Belanda gitu. Kayak di Eropa, tapi kita di Sidrap," ujar Presiden yang sontak membuat semua yang hadir tertawa.

Selain tenaga angin, Presiden menuturkan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar dalam pengembangan energi baru terbarukan lainnya, baik itu panas bumi (geotermal), energi matahari, hingga energi air.

"Panas bumi (geotermal) yang kita memiliki potensi sebanyak 29.000 MW dan baru dikerjakan baru kurang lebih 2.000 (MW). Artinya, 10 persennya pun belum. Kemudian kita memiliki pembangkit listrik tenaga matahari, pembangkit listrik tenaga air yang saya kira potensinya juga sangat besar," lanjutnya.

Selain meresmikan PLTB Sidrap, masih di tempat yang sama, Presiden juga meresmikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Punagaya berkapasitas 2x100 MW dan PLTU Jeneponto Ekspansi dengan kapasitas 2x135 MW. Peresmian dilakukan dengan menandatangani prasasti.

Dengan diresmikannya PLTB di Sidrap ini, Presiden pun berharap bahwa target bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025 bisa diselesaikan. Di samping itu, peresmian proyek-proyek infrastruktur ketenagalistrikan juga bertujuan untuk memenuhi rasio elektrifikasi di Indonesia.

"Artinya, sekali lagi, dengan peresmian pembangkit listrik tenaga bayu di Kabupaten Sidrap ini kita ingin memberikan sebuah komitmen bahwa 23 persen di tahun 2025 itu akan bisa tercapai," pungkasnya.

Turut hadir mendampingi Presiden dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo dalam acara peresmian ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan, Menteri BUMN Rini Soemarno,  Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Direktur Utama PLN Sofyan Basir, dan Pj Gubernur Sulawesi Selatan Sumarsono. (wn-bey/ab)

Kisruh Lahan, Vita Tantang Bambang Soesatyo Buka-bukaan Dokumen Tanah

Kisruh Lahan, Vita Tantang Bambang Soesatyo Buka-bukaan Dokumen Tanah

Bambang Soesatyo (foto: istimewa)
WAWASANews.com, Klungkung - Vita Setyaningrum, pemilik lahan di Banjar Tegal Besar, Desa Negari, Kecamatan Banjarankan, Kabupaten Klungkung, Bali menantang Ketua DPR Bambang Soesatyo untuk buka-bukaan legalitas kepemilikan lahan. Ini menyusul pernyataan politikus Golkar itu yang membantah telah menyerobot lahan Vita. Bambang Soesatyo bahkan telah melaporkan balik Vita dengan tudingan fitnah dan pencemaran nama baik.

"Tanah yang saya miliki hanya 3,8 are, sedangkan yang dimiliki Bamsoet kurang lebih hampir 200 are. Bila perlu semua dinas terkait sama-sama ke TKP, untuk mengecek kebenaran yang ada. Mari kita buka bersama-sama dan tunjukan kelengkapan legal dokumen termasuk sertifikat tanah, disaksikan oleh pejabat setempat, warga Tegal Besar, wartawan dan mari buka sama-sama tentang harta dan pajak masing-masing biar jelas semua," tutur Vita.

Menurutnya pelaporan dirinya tersebut juga tidak tepat karena ia memiliki bukti-bukti pertemuan kedua pihak yang membicarakan penyerobotan lahan tersebut.

"Dia (Tan Kusiadi) juga ada kirim saya teks untuk menanyakan tentang tanah itu, kalau perlu bukti bisa saya kasih semua ke media, mulai rekaman, pesan singkat, dan beberapa bulan lalu saya juga bicara kan ini dengan polisi bernama Untung Laksono tentang kapan tembok nya akan dibongkar. Katanya nunggu pak Bambang Soesatyo dulu datang, tapi sampai beberapa kali Bambang Soesatyo datang tidak ada omongan masalah ini."

Vita menambahkan untuk sementara terpaksa bersembunyi karena mendapat ancaman pembunuhan dan intimidasi. Ia bahkan merasa kerap diikuti oknum yang diduga polisi yang mengawasi ketika ia pergi.

"Sebelumnya lewat telepon ada oknum  polisi yang punya jabatan stategis di Polres Klungkung juga mengancam dan bilang 'Keven belum pernah ditabrak sampai mati, itu tugas saya, kapanpun bisa saya lakukan, dan dia bilang juga sudah membunuh 7 orang, dan gampang bagi saya main di hukum, dan hukum saya tidak akan melindungi kamu dan keluarga kamu," kata Vita.

Ia mengaku memiliki bukti-bukti terkait ancaman dan intimidasi tersebut. Ancaman tersebut mulai bermunculan sejak pelaporan Bambang Soesatyo dalam kasus lahan imi. Ia juga dilaporkan ke imigrasi terkait status kelengkapan surat suaminya yang berkewarganegaraan Amerika Serikat.

"Oknum imigrasi juga datang lagi ke rumah saya karena ada laporan tentang lampu yang kita miliki, ini semua sudah tidak wajar," imbuhnya.

Ancaman dan intimidasi juga datang dari Made Jaya, Wayan Rusni, I kadek Suwarta dan Ketut Sudra (Ketua Pecalang di Banjar Tegal Besar). Mereka adalah pekerja di salah satu properti yang dimiliki Bambang Soesatyo di Bali.

Dalam kasus ini Vita telah melaporkan Bamsoet ke Bareskrim Mabes Polri dengan Nomor LP/618/IV/2018 tanggal 10 Mei 2018 dengan pasal 385 KUHP. Namun kasus tersebut dilimpahkan ke Polda Bali berdasarkan surat Kabareskrim Polri Nomor B/3277/V/Res.7.4/2018 tanggal 15 Mei 2018.  Laporan ini kemudian dilimpahkan dan ditangani Bareskrim ke Polda Bali sejak tanggal 22 Mei 2018.

Menurut Vita, sebidang tanah itu dibeli bersama suami (warga negara USA) dengan status hak pakai dengan nomor sertifikat 2.06.03.07.4.00031, sekitar tahun 2014.

Vita menuturkan memiliki jalan selebar 1 meter sampai arah pantai dengan panjang kurang lebih 56 meter berdasarkan sertifikat tanah. Ia melanjutkan Bamsoet kemudian membeli tanah di samping dan bagian belakang tanah miliknya.

Ia menjelaskan telah berusaha menempuh jalur kekeluargaan dengan bertemu Bambang Soesatyo pada Juli 2016 di villa Ketua DPR tersebut yang berada di samping rumahnya. Namun saat itu, Bamsoet dengan orang kepercayaannya bernama Ayong hanya mau membeli tanah Vita seharga Rp2 miliar.

Vita juga sempat mempertanyakan lahan yang sudah ditemboki sekitar dua meter yang menurutnya tanpa koordinasi dengannya. Kata Vita, Bamsoet saat itu mengatakan bersedia menukar akses jalan ke pantai dengan jalan lain. Namun, ia keberatan karena akses jalan tersebut lebih jauh dan memutar. (wn-ab)

Larang Narapidan Nyaleg, Presiden Jokowi Hormati KPU

Larang Narapidan Nyaleg, Presiden Jokowi Hormati KPU

Presiden Jokowi saat di Sindereng Rappang, Senin (02/08/2018)
WAWASANews.com, Sidrap - Presiden Joko Widodo menghormati Komisi Pemilihan Umum (KPU) atas peraturannya yang melarang mantan narapidana kasus korupsi untuk mengikuti pemilihan anggota legislatif 2019.

Menurutnya, Undang-Undang memberikan kewenangan kepada (KPU) untuk membuat peraturan tersebut.

Hal itu disampaikan Presiden Jokowi di sela-sela meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Provinsi Sulawesi Selatan, Senin, (02/07/2018).

"Undang-Undang memberikan kewenangan kepada KPU untuk membuat peraturan," ujar Jokowi, dalam siaran pers yang diterima WAWASANews.com, Selasa (03/07/2018)

Meski demikian, ia melanjutkan, apabila kemudian ada pihak-pihak yang berkeberatan dengan aturan tersebut, Presiden Joko Widodo mempersilakan pihak-pihak tersebut untuk menggunakan mekanisme yang ada dengan mengajukan uji materi ke Mahkamah Agung. (wn-bey)

30 June, 2018

Kesalahan Terbesar Ahok adalah Mengumpulkan Banyak Musuh

Kesalahan Terbesar Ahok adalah Mengumpulkan Banyak Musuh


Oleh Deny Siregar

WAWASANews.com - Malam ini saya ingin mengingat kembali bahwa Indonesia pernah punya seorang pemberani. Kita memanggilnya Ahok. Panggilan yang menandakan rasnya yang berasal dari Tionghoa. Dia adalah perwakilan dari banyak ras Tionghoa, yang tersingkir dalam gegap gempitanya politik di negeri ini.

Ahok adalah "Orang yang tepat, di tempat yang tepat, tetapi berada di waktu yang salah". Kemunculan Ahok dalam peta politik, mendobrak banyak tatanan salah yang selama ini sudah menjadi budaya. Birokrasi dia pampatkan. Korupsi dia singkirkan. Dan cara dia memperlakukan pemerintahan dengan gaya seorang Pengusaha, membuat banyak penghematan terjadi pada uang rakyat yang selama ini selalu dikebiri oleh oknum-oknum berdasi.

Menakjubkan melihat Ahok memporak-porandakan banyak perselingkuhan yang terjadi pada ibukota negara ini. Dia bongkar habis cara-cara lama saat penyusunan anggaran yang selama ini sering bocor entah kemana. Dia bangun sistem yang rapih dan terawasi sehingga sulit sekali untuk mencuri.

Banyak yang tiba-tiba miskin ketika Ahok berkuasa. Para Abdi Negara. Para Anggota Dewan. Para Rekanan Pemda. Semua mendadak kering kerontang dan tidak lagi berada di tempat basah. Ahok memutus jaringan mereka sampai ke akar-akarnya dalam waktu yang sangat singkat.

Ia juga menjadikan Balaikota bukan lagi kahyangan yang hanya dihuni dewa-dewa. Ia duduk mendengarkan orang susah bercerita tentang masalahnya. Ia menuntaskan masalah secepat seorang Samurai menghunus katana. Ia membangun banyak hal untuk orang miskin mulai rusun sampai pengobatan yang bisa mereka dapatkan. Ia adalah superhero bagi mereka yang sulit mendapat keadilan.

Kalijodo adalah salah satu karya besarnya. Lokalisasi lama yang dulu menjadi sarang serigala, buaya sampai anakonda, ia hancurkan. Tempat yang dulu menyeramkan dan menjadi sarang narkoba ia runtuhkan. Berubah menjadi taman publik yang menyenangkan. Semua itu dengan ia lakukan dengan tangan besi.

"Saya tidak perduli bapak ibu tidak memilih saya kembali," katanya. "Karena saya menjunjung tinggi keadilan sosial di Jakarta. Yang saya ingin bapak ibu mendapatkan haknya". Sebuah pernyataan yang menandakan bahwa jabatan bukan segalanya. Tapi apa yang dilakukan saat menjabat, itulah yang utama.

Mungkin kesalahan terbesar Ahok adalah ia mengumpulkan banyak musuh dalam waktu yang sama. Mulai anjing, babi, sampai biawak memusuhinya. Kenyamanan yang selama ini mereka dapatkan, terusik dengan kehadirannya. Sehingga mereka rapat bersama di tengah hutan belantara bersama hyena, musang sampai ular sawah. Topik mereka, "Bagaimana menjatuhkan si durjana?"

Tetapi Ahok adalah seekor singa. Ia tidak perduli. Ia mengaum menggetarkan banyak telinga yang diam-diam memendam benci padanya. Bukan. Bukan mereka yang benci saja yang ingin menyingkirkannya. Tetapi juga Pengusaha-Pengusaha besar oportunis yang sama rasnya. Mereka yang merasa terjepit dengan batas-batas yang dibangun Ahok, dan tidak lagi leluasa seenaknya.

"Pemahaman nenek lu !" Teriak Ahok. Ketika ia menerima rancangan anggaran yang jelas-jelas menipu dengan bahasa "kita sudah saling paham", ia menyalak sekeras-kerasnya. Ia tidak mampu menyembunyikan ketidak-sukaannya terhadap gaya munafik yang selama ini dipertontonkan di depan publik. Ia meradang jika ada maling yang berlagak teman seiring. Ia terlalu terbuka, terlalu mudah diserang dari banyak arah.

Lalu, didapatlah titik lemahnya. Yaitu lidahnya yang selalu menyala..

Dengan satu kata saja, "jangan mau dibohongi Pake Al Maidah.." bergeraklah semua mahluk hutan yang selama ini resah karenanya.

"Penista agama !" Teriak mereka yang merasa sudah pasti mendapat hak di surga. Dan tanpa sadar mereka membela keyakinan mereka yang merasa dihina dengan yel yel, "Bunuh bunuh, bunuh si Ahok.. Bunuh si Ahok sekarang juga."

Gelombang tsunami datanglah, semakin lama semakin besar. Hilang semua karya dan pengabdian Ahok dalam sekejap mata. Setetes nila merusakkan susu sebelanga. Ayat dan mayat keluar tanpa malu dengan konsep membela agama. Entah mana sebenarnya sang penista karena semua mendadak menjadi penista sesungguhnya.

Dan mereka menang. Ahok kalah dan masuk penjara...

Meski begitu, ia tetap membawa kehormatannya. Ia hadir di persidangan tanpa rasa takut dan kepala tegak berwibawa. Hati yang remuk redam pun disembunyikannnya. Meski akhirnya jebol juga pertahanan dan keluarlah setitik airmatanya.

"Kalaupun saya mati demi memperjuangkan kebenaran dan menegakkan keadilan, kalian tidak akan pernah bisa membeli cara mati saya.. " begitu tekadnya. Dan hancurlah pertahanan terakhirnya.

Matinya keadilan di Indonesia diperingati dengan nyala lilin dimana-mana. Inilah perayaan kematian terbesar di Indonesia. Sebuah momen yang tidak akan pernah hilang dalam benak, bahwa "Pernah ada seorang pejuang di negeri ini dan ia kalah oleh tekanan ruang sidang yang merasa sudah menjadi wakil dari keadilan Tuhan.."

Ahok kalah. Fisiknya terpenjara. Tetapi spiritnya menyebar kemana-mana. Spirit yang muncul di dada anak anak muda, yang satu waktu akan membawa ideologi Ahok kemanapun ia berada dan berjuang tanpa rasa takut untuk kebaikan negaranya.

Ahok adalah bagian dari bab pelajaran Tuhan yang dikirim kepada manusia Indonesia, bahwa "tidak pernah akan berubah nasib suatu bangsa, tanpa bangsa itu sendiri yang mengubahnya..". Dan sekarang adalah hari ulang tahun ke 52 nya.

Selamat ulang tahun, Ahok. Semoga sehat selalu dan terus berkarya untuk negeri tercinta. Suatu saat kita akan duduk dan ngopi bersama, sambil bercerita tentang nikmatnya perjuangan yang kita lalui dalam suka dan duka.

Salam hormat dari saya, seorang pengagum dari nilai-nilai yang engkau tularkan kepada sesama. (wn-ab)

Siapa Sih Lawan Jokowi Sesungguhnya?

Siapa Sih Lawan Jokowi Sesungguhnya?

Oleh Muhammad Catur Wahyudi

WAWASANews.com - Gencarnya serangan yang dilakukan terhadap Jokowi oleh ketiga partai Gerindra, PKS dan PAN serta ditambah partai Demokrat membuat pentas politik kita seolah olah dikuasai hiruk pikuk perpolitikan partai-partai itu saja; partai yang memusuhi Jokowi.

Namun yang sebenarnya menjadi musuh sesungguhnya (the real enemy) Jokowi yang bergerilya di masyarakat, bukanlah para petinggi partai itu, tapi kekuatan lain yang mengatas namakan agama, mengatasnamakan pemurnian agama dan mengatasnamakan tauhid, yakni kelompok wahabi atau wahabi salaf dengan berbagai wujud organisasinya yang terang serangan atau berbentuk kelompok militer teroris.

Mereka inilah yang bergerilya menanamkan dan menyebarkan kebencian kepada Jokowi dan kelompoknya. Mereka inilah yang menggunakan partai-partai oposan terhadap Jokowi sebagai organisasi payung mereka.

Persoalan mereka membenci Jokowi berakar pada mimpi mereka hendak membentuk pemerintahan bersyariat Islam ataupun khilafah. Mereka menganggap Jokowi dan para pendukungnya adalah penghalang terhadap usaha usaha mereka mencapai tujuannya.

Mereka wahabi itu tidak hanya bergerak untuk menguasai Pilpres. Semua lini Pilkada juga mereka berusaha mencalonkan tokoh-tokoh sebagai bagian dari strategi taktik menguasai NKRI.

Pergerakan mereka juga tidak semata-mata berfokus pada pusat pusat kekuasan tapi merebut basis-basis kekuasaan di masyarakat dengan jalan menguasai setiap masjid, mengisi penceramah di setiap pengajian dan tablig tabligh akbar dan juga menempati posisi posisi penting di masyarakat plus struktur aparat birokrasi.

Mereka pun sudah masuk menjelajah ke pedesaan dan merekrut pemuda-pemuda desa untuk dibina dan dilatih oleh mereka. Inilah the real enemy (musuh nyata) sesungguhnya yang mencoba meruntuhkan dan mengganti Jokowi dan juga mengganti gubernur, bupati, walikota dengan calon calon kepala daerah mereka.

Untuk mencapai tujuan mereka, maka mereka berusaha mendiskreditkan lawan-lawannya atau tokoh lawannya dengan cara:

1. Jika lawannya non Islam, maka mereka sebut kafir dan melarang memilih pemimpin kafir atau pemimpin kafir harus diganti dengan berbagai macam cara termasuk intimidasi kepada masyarakat.

2. Jika lawannya Islam atau sesama muslim maka mereka tuding lawannya pro Yahudi dan Kristen atau didukung oleh Yahudi dan Kristen.

3. Lawannya dituding antek cukong atau dibandari oleh cukong cina, antek asing/aseng yang hendak melestarikan penjajahan ekonomi oleh cina.

4. Lawannya dituding Syiah, Ahmadiyah atau aliran sesat.

5. Lawannya dituding sekuler dan liberal atau Neo liberal

6. Lawannya dituding komunis atau sosialis, antek komunis atau keturunan komunis.

7. Lawannya dituding melecehkan Islam atau menghina Al-Qur'an.

8. Lawannya dituding mendukung LGBT

9. Lawannya dituding berkonspirasi hendak melenyapkan dan membasmi Islam

10. Lawannya dituding mengkriminalisasi ulama dan menangkapi ulama.

11. Lawannya dituding mendzolimi umat Islam, ormas Islam dan pejuang pejuang Islam.

12. Lawannya dituding memberatkan usaha usaha ekonomi umat Islam dengan pajak atau peraturan peraturan lainnya.

13. Lawannya dituding hendak menghapus pelajaran agama Islam di sekolah sekolah.

14. Jika lawannya membuat program pengembangan budaya daerah atau kearifan lokal,maka dituding pemimpin yang musyrik.

15. Menuding lawannya menjual aset aset negara dan bangsa serta koruptor.
Demikian langkah langkah para wahabi mendiskreditkan lawannya atau siapapun yang dianggap lawan oleh mereka.

Semua ini mereka jadikan doktrin kepada para pengikut dan simpatisannya. Mereka lakukan cara cara di atas itu dengan sistematis dan massif, baik secara sembunyi-sembunyi, terang-terangan ataupun dengan tehnik tehnik yang halus.

Sekali lagi ini berlangsung nyata di masyarakat maupun di medsos atau media media lainnya. Merekalah kekuatan sesungguhnya yang menopang para partai politik hingga menjadikan Jokowi sebagai musuh atau anti Jokowi.

Mereka maunya sebelum pemilu 2019 ingin Menggusdurkan Jokowi atau meruntuhkan Jokowi sebelum 2019. Namun mereka tak berhasil dan berusaha menggalang kekuatan di pilpres 2019. (wn-ab)

Muhammad Catur Wahyudi, pengamat politik jalanan