Wisata Bencana

Cerpen

Oleh Eko Hartono

        Wajah-wajah memelas dan penuh beban derita berjajar di pinggir jalan. Mereka menengadahkan tangan atau membawa wadah dari kaleng dan kardus, meminta sumbangan kepada para pengendara kendaraan yang melintas di jalan raya. Bukan hanya kaum ibu dan anak-anak, tapi juga para laki-laki dewasa. Mereka sebenarnya bukan pengemis, mereka adalah korban bencana alam.
       Mereka membutuhkan bantuan segera, karena rumah dan semua harta benda mereka hanyut terbawa banjir. Sebuah bendungan jebol dan memuntahkan seluruh isinya ke daerah pemukiman. Beberapa jiwa melayang dihanyutkan oleh air bah, sementara beberapa lainnya berhasil selamat. Namun nasib mereka yang selamat tak kalah mengenaskan. Mereka seakan dijungkirkan pada titik nadir. Mereka harus memulai kembali semuanya dari nol alias tidak punya apa-apa. Mereka harus berjuang untuk melangsungkan hidup. Tapi bukan perkara mudah bangkit dari sebuah keterpurukan. Apalagi beberapa dari mereka masih shock dan trauma dengan bencana yang datang secara tiba-tiba. Mereka butuh waktu dan pemulihan secara perlahan untuk membuat semuanya kembali normal.
        Maka, bisa dimaklumi jika mereka terpaksa menengadahkan tangan alias meminta-minta. Mereka mengharapkan belas kasihan orang-orang yang melintas di jalan raya. Bantuan dari pemerintah yang sangat mereka harapkan tak juga turun. Ada saja alasan yang dikemukakan, yang katanya terkendala transportasi, administrasi, birokrasi, dan tetek bengek lainnya. Mereka yang menjadi korban bencana tak bisa bersabar lagi. Mereka membutuhkan bantuan segera. Bukan hanya makanan, tapi juga tempat penampungan dan obat-obatan. Tak sedikit dari mereka yang jatuh sakit dan harus tidur di tempat tak layak. Tampaknya sudah menjadi tradisi di negeri ini segala urusan selalu terlambat dan berbelit-belit, tak terkecuali urusan membantu korban bencana!
       Kami sekeluarga sebenarnya sedang dalam perjalanan melancong. Sudah lama kami merencanakan kegiatan ini. Kebetulan aku sedang cuti dan anak-anakku juga sedang libur sekolah. Mereka mengajak berwisata ke sebuah obyek wisata di pusat kota. Mobil yang kami tumpangi kebetulan lewat di sekitar daerah bencana. Empatiku terbetik saat melihat pemandangan orang-orang berdiri di sepanjang pinggir jalan raya menengadahkan tangan atau kotak sumbangan. Aku segera meminggirkan mobilku dan berhenti.
       Lho, Pa, kenapa berhenti di sini?” tegur istriku kaget.
       “Sebentar, Ma. Aku ingin melihat keadaan di tempat bencana,” jawabku.
     “Ya, ampun, Pa. Kenapa mesti melihat-lihat segala? Memang papa ini menteri apa? Sudahlah, Pa. Kalau mau nyumbang, nyumbang saja. Tidak usah berhenti dan melihat-lihat. Bencana bukan tontonan!”
    “Iya, nih! Papa jangan buang-buang waktu. Nanti kita bisa kesorean sampai di tujuan. Kalau mau melihat keadaan di tempat bencana, papa kan bisa melihat di televisi!” ujar Robi, anak sulungku.
      “Kita ini mau melancong atau mau melihat bencana alam sih, Pa?” gerutu Dewi, putri bungsuku.
     “Dua-duanya! Apa salahnya kita menengok sebentar keadaan di tempat bencana. Papa memang ingin menyumbang, tapi papa juga ingin melihat keadaan para korban bencana alam. Mereka tidak sekadar membutuhkan dukungan materi tapi juga dukungan moril dan semangat!” tegasku.
      Tapi, Pa, selera melancong kita bisa hilang kalau harus melihat-lihat dulu pemandangan bencana alam. Maunya menghibur diri, malah jadi bersedih hati!” ujar istriku senewen.
      “Lho, Ma, yang namanya melancong tidak harus ke obyek wisata tapi juga bisa ke obyek bencana alam. Dengan melihat pemandangan bencana alam dan menyaksikan penderitaan para korban bencana akan membangkitkan rasa kemanusiaan dan solidaritas kita kepada sesama. Hal ini sangat baik untuk pendidikan anak-anak. Mereka tidak cukup hanya menonton bencana alam melalui televisi, lalu memberikan sumbangan melalui kotak-kotak amal. Seolah dengan menyumbang dan bersimpati saja sudah cukup menyelesaikan persoalan. Tidak, Ma. Banyak hal di balik bencana alam yang bisa dipelajari dan dipetik hikmahnya oleh anak-anak. Mereka bisa melihat betapa berat dan besarnya resiko yang ditanggung oleh para korban bencana alam. Dari situ akan tumbuh kesadaran untuk menjaga lingkungan agar tidak sampai terjadi bencana serupa!” tuturku panjang lebar seperti seorang dosen.
  Istri dan anak-anakku tak punya kata-kata lagi untuk membantah argumentasiku. Mereka akhirnya menuruti keinginanku. Mereka ikut turun dari mobil. Meski dengan wajah sedikit manyun, mereka mengikuti langkahku menyusuri puing-puing rumah dan bangunan yang terhempas oleh air bah. Di sana-sini masih terlihat genangan lumpur dan kotoran. Orang-orang sibuk membersihkan sisa-sisa kehancuran rumah mereka. Beberapa orang juga masih sibuk mencari para korban tewas yang kemungkinan terlewatkan dan tertimbun di balik puing-puing. Suara tangis dan ratap kesedihan masih terdengar di beberapa sudut. Suasana di sekitar tempat itu sungguh amat mencekam dan memilukan.
     Bulu kudukku merinding menyaksikan bekas-bekas kehancuran yang hampir merata mengenai seluruh wilayah perkampungan padat penduduk ini. Terbayang suasana kala kejadian bencana berlangsung. Orang-orang panik dan ketakutan bukan main saat air bendungan yang selama ini begitu akrab dengan kehidupan mereka mendadak meluapkan isinya. Jerit histeris dan kepanikan melanda warga. Mereka pun sibuk menyelamatkan jiwa masing-masing dan tak sempat menolong para kerabatnya. Mungkin seperti itulah gambaran saat kiamat besar nanti terjadi!
    Kami terus berkeliling ke sekitar wilayah bencana. Istri dan anak-anakku menutup hidung mereka, sepertinya tak sanggup menghirup bau tak sedap yang menyengat hidung. Entah berasal dari manakah bau ini. Apakah dari sisa-sisa puing yang menumpuk atau bau mayat yang belum ditemukan? Aku tak terlalu memikirkan hal itu. Dalam benakku yang terpikir adalah nasib para korban bencana. Kulihat rona mereka tampak muram dan sayu. Luka dan kepedihan sangat jelas terlukis di wajah mereka. Yang lebih menyayat lagi, beberapa orang terlihat masih mencari anggota keluarga yang belum ditemukan.
   Seorang bapak-bapak tampak mengais sisa-sisa reruntuhan rumah. Dia membolak-balik puing-puing yang berserakan. Wajahnya pucat dan letih. Badannya berlepotan lumpur. Sinar matanya redup. Aku yakin, bapak-bapak itu tak sempat beristirahat, bahkan mungkin tak sempat tidur. Ketika aku menghampirinya dan bertanya apa yang sedang dilakukannya, dengan lugas bapak-bapak itu menjawab sedang mencari putrinya yang hilang. Aku meneguk ludahku, pahit. Terbayang seandainya kejadian seperti ini menimpa diriku. Anak adalah harta paling berharga, lebih dari segalanya!
    Sementara itu kulihat beberapa orang dengan membawa karung plastik mengais di bekas reruntuhan. Mereka memasukkan benda apa saja yang didapat. Melihat gerak-gerik mereka sepertinya mereka bukan warga kampung yang terkena bencana. Mereka tak peduli dengan situasi yang ada di sekitarnya. Mereka sibuk mencongkel, membongkar, dan membolak-balik puing-puing yang berserakan. Sesekali wajah mereka terlihat berbinar saat memasukkan benda yang ditemukan ke dalam karung plastik, tapi lebih sering mereka menampakkan wajah dingin. Ketika aku mendekati mereka dan bertanya apa yang sedang dilakukan, mereka diam tak menjawab. Mereka malah buru-buru pergi.
    Dalam hati aku menggerundel. Ternyata di tengah bencana masih ada orang-orang yang mengais keuntungan di tengah penderitaan orang lain. Mereka mencari kesempatan di tengah kesempitan. Mereka tak peduli bila barang-barang yang mereka pungut masih ada pemiliknya. Sekalipun barang itu sudah tak berwujud atau hancur, tapi bagaimana pun itu adalah milik para korban. Apalagi bila barang itu terhitung barang berharga seperti emas, perhiasan, barang elektronik, perkakas rumah tangga, sertifikat tanah, dan benda berharga lainnya. Tak sepantasnya mereka mengambilnya. Itu sama halnya dengan mencuri!
     Memandangi bekas reruntuhan bencana kita seperti melihat serpihan luka dan penderitaan anak manusia. Semua itu mengingatkan dan menyadarkan betapa kerdilnya kita. Betapa kecilnya manusia di hadapan kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka, sungguh tak pantas bila kita menyombongkan diri, bersikap angkuh, berperilaku semena-mena, melanggar perintah Tuhan, mengerjakan sesuatu yang dilarang-Nya. Mereka tidak menyadari bila bencana sewaktu-waktu datang membinasakan mereka tanpa ada yang mampu menahan dan menghalangi!
      Setelah puas melihat-lihat pemandangan bencana alam, kami lalu kembali ke mobil. Tapi sebelumnya kami mampir dulu di posko-posko yang banyak bertebaran di sepanjang jalan masuk menuju lokasi bencana. Posko-posko bencana alam itu didirikan oleh beberapa pihak yang peduli pada nasib para korban bencana alam. Mereka tidak hanya berasal dari instansi pemerintah, tapi juga swasta dan LSM-LSM, bahkan ada yang dari partai politik. Aku cukup salut dengan pendirian posko-posko itu.
      Tapi di balik kekaguman dan rasa salut terselip juga rasa kecut. Benarkah posko-posko yang didirikan itu semata-mata didasari keikhlasan dan ketulusan untuk membantu? Jika mereka memang menjadi sukarelawan dan membantu para korban bencana, kenapa masih ada beberapa warga yang berdiri di sepanjang pinggir jalan menengadahkan tangan meminta sumbangan? Kenapa orang-orang itu tidak ditampung di posko-posko? Jangan-jangan mereka yang datang dengan menamakan diri sebagai sukarelawan itu hanya sekadar setor muka, cari publisitas, dan memanfaatkan bencana alam untuk kepentingan pribadi?
    Aku agak bingung ke mana mesti menyalurkan bantuan. Setiap posko membuka kotak amal, setiap posko menawarkan diri menyalurkan bantuan. Tapi seperti yang sering terjadi dan mencuat di media massa banyak bantuan yang terlambat atau tak sampai kepada para korban. Yang lebih memprihatinkan lagi bantuan yang diwujudkan barang atau makanan kadang rusak atau kadaluwarsa!
     Tiba-tiba aku melihat seorang perempuan dengan dua anak perempuannya yang masih kecil duduk di sudut. Wajah mereka tampak memelas. Aku segera menghampiri mereka. Tanpa banyak kata aku segera merogoh kantong dan menyodorkan sejumlah uang kepada mereka. Aku tak menghitung lagi berapa jumlahnya. Perbuatanku diikuti oleh istri dan anak-anakku. Tak tahan lagi berada dalam situasi yang serba memilukan aku lalu mengajak keluargaku segera pergi. Sesampai di mobil, tak ada lagi yang bersuara.
   Entah, apa yang ada dalam pikiran istri dan anak-anakku. Pengalaman menyaksikan sisa-sisa kehancuran bencana alam sepertinya cukup menyentuh hati mereka. Ketika aku berkata, “Yuk, sekarang saatnya kita bersenang-senang!” mereka malah diam. Istriku menyahut dengan suara lirih nyaris tak terdengar. “Kita pulang saja, Pa…”
       “Lho, kenapa?”
       “Patutkah kita bersenang-senang sementara saudara-saudara kita banyak yang kesusahan?” 
      Aku tersenyum. Perlahan aku melajukan mobilku, bukan lagi menuju ke tempat wisata seperti rencana semula tetapi pulang ke rumah. Belum berapa lama mobil kami keluar dari wilayah bencana, tiba-tiba aku melihat di sepanjang pinggir jalan orang-orang berdiri menengadahkan tangan dan menyodorkan kotak sumbangan. Ya, Tuhan. Bencana apa lagi yang terjadi? Batinku bertanya-tanya. Tiba-tiba aku membayangkan seandainya keluargaku berada di tengah barisan orang-orang itu. Dan hal itu bukan mustahil terjadi!


Eko Hartono. Lahir di Wonogiri, 16 Juni 1969. Kegiatan sehari-hari adalah menulis: cerpen, puisi, artikel, drama, skenario, novelet, dan novel. Karyanya  pernah dimuat di beberapa media massa diantaranya: Kartini, Swara Cantika, Kawanku, Aneka, Suara Karya, Nova, Kedaulatan Rakyat, Wawasan, Cempaka, Solopos, Alkisah, Bobo, Talenta, Panjebar Semangat, Seputar Indonesia (SINDO), Tribun Jabar, Tabloid NYATA dan lain-lain.
         
Pernah meraih beberapa penghargaan dalam lomba mengarang diantaranya: Pemenang Harapan Sayembara Novelet Majalah Kartini, Jakarta, 1996, judul: Pilkades. Juara II Penulisan Naskah Buku Cerita Keagamaan, judul: Anak-anak Hutan, Depag RIJakarta, 2000. Juara II Nasional Penulisan Naskah Buku Cerita Keagamaan untuk siswa SMP/MTs, judul: UkhuwahDepag RIJakarta, 2002. Juara III Penulisan Naskah Drama BerbahasaIndonesia tingkat Jateng, judul: Imbang, Dinas P & K, Provinsi Jawa Tengah, Semarang, 2007. Tiga buah cerita anak menjadi Pemenang Harapan Lomba Dongeng dan Cerita Misteri di majalah Bobo (2006-2007) judul: Ketika Seorang Pencuri Diadili, Memecahkan Kasus Perampokan, dan Pangeran Sial. Pemenang Harapan Lomba Menulis Cerkak, Yayasan Karmel, Malang, 2008, judul: Purik. Pemenang Harapan Lomba Menulis Cerpen dalam rangka 100 tahun Kebangkitan Nasional, Perhimpunan INTI DKI, Jakarta, 2008, judul: Menghapus Dendam Masa Lalu. Puisi berjudul: Ini Adalah Dunia Nyata masuk dalam 30 antologi puisi terbaik, KSI (Komunitas Sastra Indonesia) cabang Semarang, 2008.

Tiga novel anak berjudul: Misteri Bangunan Tua, Lari Dari rumah, dan Anak-anak Rimbaditerbitkan PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo, 2005. Novel Cerpen Berdarah,penerbit LeutikaPrio, Yogyakarta, 2011.


Post a Comment