Puisi-Puisi Bahrul Ulum A. Malik

Puisi


Secangkir Kopi dan Senggama Rokok Kematian

bagiku, sampoerna mild adalah kelembutan yang mampu
merangsang sahwatku berkelana sampai ke ujung sukma
mengepulkan cinta dengan gairah dan nafsu yang tak tertahan
menjelma desahan waktu mencapai kenikmatan tertentu
sesekali bercumbu merayu mengantarkanku menuju rindu

sedang gudanggaram adalah bumbu yang mampu menyejukkan
hawa dalam kulkas nyawa-nyawa berdansa
lirikan matanya candu bagi perindu senggama antara bara
dan darah segar yang mengaliri sungai nadiku
berenang menyelam dalam lautan ajalku

kopimiks adalah seduhan tangan tuhan
menyajikan wangi mawar kematian
di bawah ilalang bendera alam yang tak pernah lekang
memagari diri dengan mantra-mantra pemacu kuda
tujuh arah titik rembulan perawan

kau kira semua adalah racun
bagiku itu adalah madu yang mampu menawar
luka bait-bait airmata dan derasnya duka
fakta bukanlah mimpi siang hari
bagi pemalas pemetik kembang di tangkai hati

apakah kau masih berfikir tentang hidup dan mati
sedang semua ada di tangan tuhan
penggenggam surga neraka
yang kau kira tempat senggama
bahwa sesungguhnya tak ada yang abadi diajalmu


Langit Kendal, 05032013/ 21.21


Aku Terkapar di Antara Pasir Padang Savana

aku terkapar di antara pasir padang savana
mencari-cari telaga fatamorgana
berkilauan antara badai dan matahari
pasir berbisik menyembunyikan rahasia
karun yang tertimbum dalam gelapnya cahaya
meneropong nyawa yang sering memuja berhala
diri seumpama rayap yang membangun istana
dari tanah rapuh nan peluh

aku terkapar dalam gelap wangi matamu
mengerlingkan isyarat-isyarat duka yang bertahta
dalam jiwa dalam-dalam
aku kelabu yang tak tahu warna diri
meneteskan bulir aroma yang menyesakkan doa
tak sampai ke langit hingga atmosir bolong

aku terkapar
seumpama gagak yang mengajari qabil yang mengubur habil
sehabis pembunuhan yang mengatasnamakan cinta
terkadang diri butuh mati
sebelum ajal meminta sukma tuk kembali
bertanya pada surga yang kehilangan bidadari

aku selalu terkapar
padamu yang tertidur dalam malamku
bukan bintang pun rembulan
hanya kunang-kunang yang mengeja cahaya

Langit Kendal, 13032013/ 21.51


Wajah dan Rimba Penyair yang Tak Bertuan #1
: Kepada Penyair

bagiku penyair adalah orang-orang tersesat dalam rimba belantara. tanpa matahari dan kompas pedoman. oh bukan, ia bukan orang tersesat, namun dengan sengaja menyesatkan diri dalam lembah kata-kata yang bisa juga menghacurkan bahkan membunuh dirinya sendiri.

ia adalah orang-orang dungu yang bangga atas kata-kata yang tak bermakna, membaca menulis hingga berulang-ulang dengan pena dan huruf yang sama, meski terkadang angka-angka ia selipkan pada laci hatinya. ia adalah pembohong besar yang selalu dipuja-puja wanita. menawarkan sesuatu yang fatamorgana. tanpa kepastian dan harapan. ia hanya punya ludah yang kadang ia ambil kembali untuk menghilangkan dahaga nafsunya.

penyair sama seperti cacing dalam perut. tak pernah berhenti makan dari darah dan nanah. bahkan tinjapun ia telan mentah-mentah. menjijikkan.

jika kau hanya punya kata-kata, pulang sajalah kau ke tempat di mana kau pernah terkubur dalam tanah merah yang anggap kau tahanan tak bertuan. pelarian yang tak tertangkap oleh bayangan sendiri. membatu meludah di sembarang wadah. awas, jika kau hanya bisa menulis dan membaca, kuadukan kau pada sang raja!!

Langit Kendal, 15032013/ 00.03


Wajah dan Rimba Penyair yang Tak Bertuan #2
: Kepada Penyair

kecuali kau punya cermin retak tempat kau bersolek
tentang malam-malam yang selalu menggairahkan
bagi perawan yang memuja rahasia di saku celana
yang sama sekali tak pernah kau cuci dengan pewangi
engkau hanya diam dan terkunci dalam botol aqua
menganga berisyarat lewat kerling yang memanggil nama
mengiba dan kembali ke tempat muasal cahaya

setelah kau membaca dan menuliskan kembali
doa yang selama ini kau gantungkan pada pintu
tempat tamu-tamu itu menyapa namamu
dan kau cemburu mengisi tujuh warna pelangi
yang hingga di kepala penyair penyair tua
yang telah menjadi langit dan bintang setiap malam

ya, seharusnya kau selalu tersenyum
sebelum dan sesudah nyawamu bermimpi

Langit Kendal, 20032013/ 22.57


Kita Sama-sama Menunggu Musim Rindu


seperti pertama kali kita bertemu
pada waktu dan ruang yang sama sekali tak terencana
kau dan aku sama
sama-sama menunggu dan kehilangan
orang-orang terkasih dalam setoples kenangan
kita lupa bahwa semua adalah udara yang di mana saja
mampu menjadi angka yang menyela dalam pori-pori jiwa

kau dan aku sama
sama-sama menunggu musim rindu
yang bermekaran di kelopak mawar
yang setiap pagi dan sore kita siram dan pupuk
tidak kurang pun tidak lebih
sederhana saja bukan

mungkin seperti malam tubuhmu
dan kembang yang tak pernah kau petik
karena gugur duluan di antara rumput
tanah hijau tempat kau terlahirkan
dari mata ibu yang tak pernah malu

kau dan aku sama
sama-sama menunggu musim rindu


Langit Kendal, 16032013/ 22.12

Bahrul Ulum A. Malik, lahir di Kendal 16 Juli 1983. Pendiri Plataran Sastra Kaliwungu (PSK), Sekjen Forum Kantong-Kantong Budaya Kendal (FK2BK) dan Sekjen Dewan Kesenian Kaliwungu. Puisinya dibukukan dalam antologi “Gus Durku, Gus Durmu, Gus Dur Kita” (PAC IPNU/IPPNU Kaliwungu, 2010), antologi puisi Pendhapa#13 “Dongeng Tentang Batu” (Taman Budaya Jawa Tengah, 2012), antologi puisi dwi bahasa “Flows Into The Sink Into The Gutter” (Shell Jagat Tempurung, 2012), Buletin Sastra Rumah Diksi (2012) dan antologi puisi “Sogokan Kepada Tuhan” (Lestra Kendal, 2012). Antologi puisi pribadinya berjudul “Persetubuhan Maut” (KejoraPress, 2005) dan “Bumi di Atas Langit” (WedangKopiJahe, 2008). 


Post a Comment