Mengajar dengan Bahasa tubuh

Oleh Ahmad Asrof Fitri

Judul          : Buku Pintar Bahasa Tubuh untuk Guru
Penulis       : Fahmi Amrullah
Penerbit     : DIVA Press
Cetakan     : I, Desember 2012
Tebal         : 192 halaman
ISBN          : 978-602-7640-60-3

Bagi seorang guru, mengajar bukan hanya persoalan menyampaikan materi pelajaran secara lisan kepada murid. Agar memberikan pemahaman yang lebih mudah dimengerti, guru terkadang harus memperagakan penjelasannya. Materi yang disampaikan dengan disertai body language bertujuan untuk mendapat perhatian murid. Dengan begitu, murid akan tertarik dan selanjutnya dapat menyerap materi dengan cepat. Namun, tidak banyak guru mengetahui hal tersebut. “Buku Pintar Bahasa Tubuh untuk Guru” karya Fahmi Amrullah hadir sebagai  solusi sekaligus panduan kepada guru dalam berinteraksi dengan murid melalui gaya non-verbal.
Proses interaksi antara guru dengan murid di dalam kelas tidak berbeda jauh dengan pola interaksi sosial dalam arti luas. Di dalam kelas, kemampuan guru dalam berkomunikasi secara verbal bukanlah satu-satunya cara untuk membangun suasana belajar-mengajar yang efektif. Saat bercakap dengan murid, kita bisa mendeteksi perasaan dan pikirannya melalui bahasa tubuh. Ketika murid sulit memahami pelajaran misalnya, murid akan menggaruk-garuk kepala.
Pada dasarnya, komunikasi non-verbal dapat didefinisikan sebagai komunikasi yang tidak menggunakan kata-kata atau bahasa lisan yang mempunyai makna-makna tertentu. Biasanya komunikasi non-verbal disebut juga dengan bahasa tubuh yang berfungsi untuk memberikan penekanan terhadap komunikasi verbal. Yang termasuk komunikasi non-verbal antara lain ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, intonasi, postur tubuh dan gaya berjalan, serta gerak isyarat. (hlm. 37-39)
Namun, ada kalanya komunikasi non-verbal secara baik masih belum bisa memberikan pemahaman yang baik kepada murid. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, hambatan lingkungan berupa kondisi ruangan yang tidak nyaman, gangguan visual, interupsi, dan kebisingan. Kedua, hambatan verbal berupa bicara terlalu cepat, tidak mampu menjelaskan masalah, menggunakan bahasa asing yang tidak dimengerti, dan singakatan yang tidak lazim. Ketiga, hambatan antarindividu berupa salah paham dan sengaja menciptakan situasi yang ambigu. (hlm. 46-47)
Melatih kemampuan berbahasa baik verbal maupun non-verbal pada dasarnya merupakan salah satu upaya mengembangkan kemampuan berkomunikasi, yaitu kemampuan menyampaikan dan menerima pesan dalam arti luas. Dengan kata lain, semakin baik seseorang berkomunikasi, pendengar akan semakin memahami apa yang disampaikan. Dalam hal ini, gerak tubuh dapat membantu menarik perhatian sekaligus memberikan pemahaman atas sebuah pesan. Ini karena manusia dewasa maupun anak-anak seringkali membutuhkan visualisasi dalam memahami suatu masalah. Buku anggitan Fahmi Amrullah ini penting untuk dibaca semua kalangan, tidak hanya para guru sebab buku ini memandu kita agar lebih baik dan menarik dalam berkomunikasi.

Ahmad Asrof Fitri,
mahasiswa Konsentrasi Ilmu Falak IAIN Walisongo Semarang

Post a Comment