Puisi-Puisi Habibur Rahman

Puisi


Cinta Di Akhir Senja

Dikala mentari mulai memerah
Aku duduk sambil mendengarkan suara adzan
Yang dikumandangkan dirumah-rumah Tuhan
Dalam sijingkat waktu rembulan pun
Muncul seketika
Seraya multuku membisu
Dan tak bisu bicara satu kata pun
Bahkan seluruh tubuhku
Seakan tak bisa bergerak apa-apa
Aku cuma bisa menghisap sebatang rokok
Dan ditemani dengan manisnya kopi
Aku hanya bisa berfikir
Mengapa rembulan itu datang seketika
Padaku......................!!!!
Sumenep, 2013


”Purnama Telah di Bunuh”

Dalam sijingkat waktu
Hujan masih basah di pekarangan
Pikirkan segala resah
Menjunjung langit di atas piramida kaca neraka
Sulaman cinta lewat baris syair yang dirumuskan pada langit Fatamorgana
Terhimpit manis janji punggawa
Semakin dimabukkan saja
Dengan pamflet-pamflet murahan
Pada jalan-jalan kampung tempat bernaung kita
Para pemuka agama.
Semua masih aku simpan dan aku letakkan di dalam foto kamarku
Sumur kering
Jalanan licin karena hujan
Menghantarkan aroma sedap mewangi
dan sesajin para pemimpin yang meradang dalam nada sumbang
Perut lilit, mata sipit, jadi buncit
Hutang jadi kredit
Lantaran engkau yang memaniskan kata pada kami

Sumenep, 2013

Tahun Baru

Malam sudah mulai petang
Tahun baru sebentar lagi sudah berganti
Para remaja pun bersorak-sorai
Dengan deruan sepeda yang ditumpanginya
Tetapi detik demi detik
Menit demi menit
Bahkan jam demi jam
Aku tidak tahu tentang makna tahun baru
Bagi para remaja yang begitu gembira
Dan aku terus mengeja aksara baru ini
Dengan ditemani dengan gerimisnya hujan
Tetapi masih saja tidak menemukannya
Aku sudah bosan dengan pikiran itu
Lalu...........
Aku berpikir sejenak
Apakah mampu merangkai
kata-kata itu dengan jelas .....????
Sumenep, 2013


Habibur Rahman, penulis adalah alumnus Sanggar Conglet dan SMA Pesantren Al-In’am Banjar Timur Gapur, Sumenep, Madura. Sekarang melanjutkan Studyi di STIA Sumenep.

Post a Comment