Cinta Masa Lalu dalam Rintik Salju

Oleh Moh. Romadlon

Judul buku    : Salju di Langit Soul
Penulis          : Kim Ha Sun
Penerbit        : Laksana
Cetakan        : I, April 2013
ISBN            : 978-602-255-081-5

Waktu bisa menggulung layar kehidupan dari satu musim menuju musim baru. Angin bisa juga  melempar angan dan keinginan insan sejauh mungkin. Tapi cinta dan kesetiaan punya caranya sendiri untuk menemukan takdirnya kembali. Ia terlalu perkasa untuk dibekukan oleh setumpuk salju sekalipun.
Kisah kekuatan cinta dan kesetiaan itulah yang dirajut manis nan romantis oleh Kim Ha Sun dalam novel bertajuk Salju di Langit Soul ini. Kesetiaan ini pulalah yang ditunjukan ibu Park Ji-Shoo kepada suaminya. Meski bapak Park Ji-Shoo telah meninggalkannya demi perempuan lain, namun setelah 23 tahun berlalu tak ada alasan lagi untuk terus memendam dendam karena bagaimana pun dia adalah ayah kandung anak tunggalnya itu.
Karena kesetiaan dan kebesaran hati sang ibu itu juga yang membuat Park Ji-Shoo tersentuh. Dia berusaha mengalahkan rasa bencinya pada Tuan Lee Shin Woo, ayah kandungnya sendiri. Dia bersedia memenuhi permintaan ibu untuk mencari Tuan Lee Shin Woo di Soul dan segera mengajaknya ke New York, kota tempat ia dan ibunya tinggal.
Selama di Soul, Park Ji-Shoo tinggal di rumah atap, bertetangga dengan rumah seorang gadis yang ternyata satu ruangan di kampus tempat ia menjadi mahasiswa baru. (hlm.46).
Di mata Park Ji-Hye, Park Ji-Shoo betul-betul cowok menyebalkan, begitu juga sebaliknya. Meski awalnya Park Ji-Hye terus mengutuk sang tetangga tapi belakangan dirinya luluh juga oleh kehangatan sikapnya. Bahkan ia pun membantu Park Ji-Shoo menemukan sang ayah. Kedekatan mereka ternyata menumbuhkan serupa cinta. Tapi seperti Park Ji-Shoo, Park Ji-Hye percaya itu bukan cinta, karena cinta mereka hanya untuk masa lalunya.
Setelah bersusah payah, usaha Park Ji-Shoo membuahkan hasil. Sayang tak terlalu manis. Meski sudah bertemu ayah tapi di rumah sakit, sehingga ia tak bisa membawanya ke New York. Menurut keterangan Lee Young Ae, wanita yang telah merampas ayah dari sang ibu, Tuan Lee Shin Woo kecelakaan mobil beberapa hari lalu dan belum sadarkan diri hingga sekarang. Lee Young Ae mengatakan juga kalau selama ini Tuan Lee Shin Woo selalu memikirkan dirinya dan ibu. (hlm.235-248).
Sejak itu, Park Ji-Shoo selalu datang ke rumah sakit, menunggui sang ayah. Dia ingin sekali mendengar suara beliau, dia ingin memanggil beliau ayah, panggilan indah yang belum pernah diucapkan selama ini. Dan ternyata tak pernah ia ucapkan selamanya.
Sejak itu hingga Tuhan memanggil,Tuan Lee Shin Woo tak pernah tersadar. Hati Park Ji-Shoo terasa berkeping menerima kenyataan pahit ini. Terlebih beliau wafat saat ia tidak berada di dekatnya. Ia sedang pergi ke Jihan. Ke panti asuhan, tempat dulu tinggal sebelum pindah ke New York. Di tempat itu pulalah ia bertemu dengan gadis masa lalunya, dan berharap di sana bisa bertemu kembali. Seandainya ia tahu hal ini akan terjadi, ia bersumpah tak akan meninggalkan ayah sedetik pun. (hlm. 336)
Hanya pada Park Ji-Hye dia bisa menumpahkan duka jiwanya. Menidurkan remah hati dalam pangkuannya. Saat Park Ji-Shoo benar tertidur, ada panggilan masuk di ponselnya. Park Ji-Hye yang mengangkatnya kaget, penelpon yang mengaku paman Park Ji-Hye menebaknya sebagai Lee Hyun Kyo, masa lalu Park Ji-Shoo, yang merupakan nama masa kecilnya juga. “Aku bahkan tak pernah bertemu lagi sejak 13 tahun lalu. Ini tak mungkin,” batin Park Ji-Hye. (hlm.349).
Dan matanya seketika terbelalak saat menangkap foto yang menjadi wallpaper ponsel itu. Setelah menyadari kalau gadis kecil (yang bersama anak laki-laki) dalam foto itu memang dirinya, ia membekap mulutnya dengan sebelah tangan. Ia terisak. Bahkan terus menghebat saat ia membaca huruf Hanguel dalam foto itu. Hatinya kacau. Tetapi saat kembali menatap Ji-Soo yang masih lelap ia sangat bahagia dengan kenyataan itu. Ternyata benar, Park Ji-Shoo adalah Lee Hyun Jin, masa lalunya.
Melupakan masa lalu yang penuh luka memang suatu keniscayaan. Namun membalut luka lama dengan dendam juga hanya menyeret kita dalam kelam yang tak berkesudahan. Meski butuh ketabahan, hanya dengan memaafkan masa lalu semua kembali menjadi terasa membahagiakan.

Moh. Romadlon, penulis lepas. Aktif di TBM Sumber Ilmu.
Tinggal di Kebumen.

Post a Comment