Puisi-Puisi M. Adib Susilo

Puisi


Peluh dalam Kata

Terasa lelah ku bertahan
Menyusuri  jalan-jalan  kerinduan
Dalam janji terbuai mimpi
Terbalut rayu terangkai sunyi

Aku dan jiwaku adalah satu
Namun keinginan dan kenyataan tak lagi mampu menyatu
Nalarku menggerutuk semu
Pada janji kepala-kepala batu

Ego dan harga diri membumbung jauh
Mengekor pada kebijakan lusuh
Demi meneguk setetes nikmat yang membasuh
Meski kesejukan hanya sebatas keringnya peluh

Tiada kata mampu terlukis, mengurai beban derita yang mengakar
Dalam sunyi letih menyapa, dalam gemuruh kehidupan raga terbakar
Tanpa sanggup berteriak lantang pada kemelaratan
Tanpa daya berkuasa pada kesenjangan

Ini lah potret penghuni alamku
Lukisan peluh tak berwajah, nyanyian derita tak bernada
Bagai pilu bersemburat tawa, enggan menyerah pada jalan terjal nan berliku

Dengan keringat terkucur mereka melangkah tanpa mau mengalah


Aku dan Kehidupan

Hidupku hanyalah sekeping raga yang terbuang
Dilempar kemewahan dari istana kemapanan
Hidupku cerminan ribuan orang
Yang mengais janji dalam kepasrahan

Aku adalah secercah cerita untuk anak-cucu generasi penerus bangsa
Kehidupanku menjelma kisah yang tak habis ditelikung masa
Disebar dalam buaian mimpi-mimpi penuh tawa
Harapan tulus teriring jua, agar kelak tiada lagi tunas pupus sia-sia

Rinduku pada kehidupan menggores jejak bersanding do’a
Pada langit yang mendengar, pada Bumi yang menyaksikan
Aku dan kehidupan tak kan terberai terhempas luka
Luka kemelaratan berbalut keterbatasan.


Kala Sajak Sunyi Menyapa

Siang dan malam adalah ketentuan alam
Masa dan kehidupan suratan Tuhan
Kala mentari menjejak bumi, peluh tertarik pagi
Bulan menghalau sunyi, dalam sajak do’a berkepanjangan

Kenikmatan adalah ujian,
Kesengsaraan bagian dari cobaan
Tak kan ada hidup tanpa rintangan
Meski kenyataan terhampar jalan, lurus nan datar

Kesemuan tak kan selamanya menjejal nalar
Sajak Sunyi lambat laun kan menyapa
Pada raga-raga letih berpeluh durja
Tuk panjatkan do’a dalam untaian dzikir bersendi asa

Dalam gelap menjalar sepi
Kehampaan sirna tersebab datang cahaya-Nya
Uluran kasih tak kan mampu tertangkap indra
Hanya hati yang kan membaca bait-bait rahmat-Nya.

Membimbing diri tuk menuju Jalan
Meski duri dan kerikil tajam senantiasa terinjak
Namun,  Tuhan tak kan berpaling
Dari hamba-hamba-Nya yang tak lelah bermunajat do’a di sepanjang malam

Semarang, 2013

--------------------------------------------
M. Adib Susilo, mahasiswa IAIN Walisongo Semarang. Anggota Forum Lingkar Pena Semarang. Beberapa karyanya telah dimuat di beberapa media, Purnama di Kota Atlas (dibukukan dalam Antologi Cerpen Mutiara Berdebu), Rumah Kertas (dimuat Majalah Santri), Puing Kelam Kota Lama dan Langit Muram di Atas Tanah Tak Bertuan (dimuat di Majalah Magesty). Puisi Parade Mimpi di Negeri Dongeng pernah dimuat di Media Mahasiswa dan Puisi Embun Pun Kehilangan Tempat Berpijak dimuat di Eramadina.

Post a Comment