Iklan

Puisi-Puisi Lutfiyah Nurzain

WAWASANews.com
Sabtu, 22 Desember 2012 | 01.45 WIB Last Updated 2012-12-21T18:46:46Z
Puisi-Puisi Lutfiyah Nurzain

(Ya’)

Mushaf-mushaf kecil koyak berhamburan
Alif, Ba, Ta, dan Tsa-nya mati menakutkan
Kisah dalam mushaf perlahan hilang ditelan peradaban
Kami seolah tak lagi mengenal-Mu, Tuhan!
Syahadat tlah kami ikrarkan,
tapi mulut dan ucapan bak rekaan
Kalimat-kalimat suci-Mu tlah kami senandungkan,
tapi kami bertingkah lupa tuk menegakkan
 ﻱ ...
Kami buta dan tuli, Tuhan
Akankah Kau semayamkan sebutir benih pengampunan?
Agar kami bersyukur, agar kami tak kufur
Bila tidak,
inilah akhir perjalanan kami dalam fana,
terpenjara di lubang yang menyeramkan,
menua dan mati mengenaskan,
layaknya mushaf yang terdustakan itu, Tuhan.


Di antara Sunyi Malam

krik, krik, krik,
tiga bunyi itu mampir ke telinga, jelas bagiku
tiga bunyi itu sahut menyahut, terasa olehku
tiga bunyi itu mengadu nyali, berpikirlah aku
terus terdengar tiga bunyi itu, kian ganjil di mataku

bunyi, tak tertangkap indera mata
tapi gaungnya mengena 
krik, krik, krik, 
dalam malam kelam
ada sisa-sisa kehidupan
terkadang lupa terpikirkan
bahkan sempat terabaikan

diantara bumi, langit, dan reruntuhan jiwa
diantara ruang-ruang sepi
berbalut refleksi dan rindu 
jangkrik-jangkrik itu setia bersenandung
senantiasa berikhtiar
seraya memanjatkan do'a pada Tuhan
agar teman-teman seperjuangannya tetap tegar
memekikkan nada-nada suci di tengah malam
meski terdengar agak sumbang


Kidung Cinta Sang Waktu

Detik berlari hingga tak disadari
Saling berlomba, adu nyali
Menapaki beragam dimensi penuh uji
Tapi mereka tetap dua sejoli
Selalu bersanding karna saling memahami
Tegar berdiri walau diterpa badai dan tsunami

Lihatlah...
Yang satu tinggi, sedang yang lain rendah
Yang satu hitam, sedang yang lain merah
Yang satu berusaha, sedang yang lain berpasrah
Yang satu berlari cepat, sedang yang lain lambat
Yang satu patah arah, sedang yang lain berikan semangat

Mereka selalu saling melengkapi
Bahkan tak pernah mereka peduli
Hingga kapan mereka bersanding di sana
Atau mungkin sampai manusia tak lagi ada
Ya, begitulah sang waktu
Bergerak seiring irama dan melodi rindu
Rindu akan bertemu Sang Maha Tahu


Setangkai Do’a

Ketika si kecil masih bergelut dengan takdir...
Ia ingin berterima kasih pada Mama,
Wanita tangguh yang tak pernah mengeluh,
Wanita shalihah yang selalu berpasrah,
Wanita hebat yang kan slalu dijadikan kiblat,
Wanita penyayang yang kan slalu dikenang.

Bagi si kecil, Mama adalah kepercayaan Tuhan.
Di dalam rahim Mama, ia dititipkan.
Entah berapa lama Mama harus tegar hadapi penderitaan,
Sementara si kecil selalu saja bertingkah dalam kandungan.

Kala si kecil melawan ingin segera menatap dunia.
Mama tersenyum.
Dibelainya si kecil penuh cinta.
Mama mengerti keinginan si kecil.
Tak pernah sedetikpun ia lalai.
Bahkan Mama selalu hati-hati soal nutrisi.

Saat tiba masanya si kecil memenuhi takdir...
Lahir

Seluruh energi Mama terkuras,
Di atas pembaringan, Mama terkulai lemas.
Sedang si kecil bahagia berada di samping Mama.

Si kecil nan mungil,
terus berusaha membuka kelopak mata,
menggerakkan anggota tubuhnya,
walau tak sempurna.

Setelah nyawa mulai terkumpul.
Mama angkat si kecil,
Ia berikan kecupan mesra,
dan mendekapnya dalam kehangatan.
 Duhai bahagia si kecil...
Ia bermandikan cinta dan kasih sayang.

Ketika si kecil sama sekali tak berdaya...
Ia ingin persembahkan kado spesial untuk Mama.
Tapi,
Hendak  berlari, berdiri pun tak mampu
Hendak  berkata-kata, berbicara pun tak bisa

Si kecil sempat gelisah dan hampir pasrah
Segala daya telah ia kerahkan
Hanya kegagalan yang ia temukan
Berkali-kali pula si kecil kelabakan
Mengorek daya yang “mungkin” masih tersisa

Beruntunglah si kecil...
Ia masih dapat tertawa
Tawa itulah yang kan menghiasi hari-hari Mama
Dan si kecil hanya bisa bermunajat kepada Tuhan,
agar keikhlasan Mama dibalas surga-Nya


Waktu Hujan
                                                                                      
Tuhan jawab pinta manusia lewat hujan
Minta rezeki?
Minta damai?
Minta cinta?
Minta apa lagi?
Semua tlah Tuhan ramu dalam hujan
Andai manusia mengetahui


Waktu Pancaroba

Bumi yang kita pijak ini sungguh ajaib, kawan...
Musim kemarau pergi, tibalah musim hujan
Di antara kedua musim, ada musim peralihan,
Panca-rob-a

Tapi aku tak bicara soal cuaca, kawan...
Karna itu sudah kuasa Tuhan

Mau tahukah engkau, kawan?
Aku tengah menggerutu zaman
Zaman peralihan nan menyesatkan

Sadar atau tidak
Kita semua tengah dijadikan tumbal kebiadaban
Oleh penguasa yang gila kekuasaan

Dulu kita kaya,
Tapi kini satu sen pun kita tak punya
Dulu kita dikabarkan makmur,
Tapi kini kita babak belur
Dulu kita dikenal jujur,
Tapi kini aset kita banyak yang mabur

Ah, zaman macam apa ini!
Segala kearifan negeri kita beralih entah ke tangan siapa
Mau diberi apa anak-cucu kita nanti?

Andai pula mata kita terbuka,
pikiran kita berdinamika,
mulut kita mau bicara,
tangan dan kaki kita bergerak leluasa
Tentu saja Tuhan mau dengarkan do’a kita
Tuk kembali hidup seperti sediakala


Lutfiyah Nurzain, lahir 29 Januari 1994 di Desa Slarang Lor, Dukuhwaru, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, masih aktif kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang dan crew LPM EDUKASI.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puisi-Puisi Lutfiyah Nurzain

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF