Iklan

Puisi-Puisi Muhammad Faizun

WAWASANews.com
Selasa, 01 Januari 2013 | 19.29 WIB Last Updated 2013-01-01T12:32:38Z
Puisi

Khalwat

Usai membacakannya pada hujan aku membatin kembali mantra-mantra yang usang. Selembar daun jambu luruh di hatiku oleh kelelawar, “Sebiji pun tak pantas buatmu.”

Mega telah kembali berpancar dari layar malam menuju bawah mimbar. Aku selagi menang memerangi dingin dan angin, kunyalakan suluh. Merangkai gayuh hati. lafaz talbiyah berhamburan bersama peluh. Hanya peluh.
Lalu selembar daun jambu tiba-tiba jatuh di depan sajadahku, “Beribu biji pun tak berharga bagi kelelawar.” 

Semenjak itu aku menekuri hakikat khalwatku sembari menakari debu di gumpal kalbu yang deru. 


Semarang, 7 November 2012 

Elegi Surau

Senja telah jatuh dari kelopak bocah. 
Tawa renyah yang rekat sekali dengan halaman dan sawah. 
Layang-layang selesai melayang. 
Mendarat pada tiang malam yang sunyi. 
Padahal berpendar bulan. 
Namun bocah-bocah entah kemana 
menyembunyikan sarung dan peci. 
Atau malah sembunyi dalam lemari. 

Seorang guru ngaji mencari-cari. 
Ia tak menemukan apa-apa kecuali tasbih dan mushaf 
di bangku sudut musola yang penuh debu.
Dirapalkan dan dihafalkannya.  
Disimak sepi yang laun menjelma mimpi.


Demak–Semarang, November 2012 

Rengek Bocah

Seorang bocah merengek meminta ikan dan kolamnya. 
Seorang ayah pun tak kuasa. Senantiasa membanting tulang. 
Sehabis kuasa, dibelinya lautan dan isinya. 
Diberikan kepada anak yang tak bisa berenang itu
hingga tenggelam di dalamnya bersama karang. 
Namun sang ayah tak pernah merasa bahwa telah membunuhnya. 


Semarang, 12 November 2012

Lagu Ajal

Lagu itu begitu keras mencengkeramku 
mencengkeram dengan kukunya yang meneteskan sisa usia.
aku mendekam dengan selimut yang berbalut do’a
terhimpit dalam sepi yang menyempitkan nyali 
terus memutar dan memugar titian tasbih 
tercacar di relungku lalu berkabung dalam zikir sharih.

Ya tuhan, lirih-lirih lagu itu menindih
namun begitu keras mencengkeram 
dengan kukunya yang setajam ketakutanku
pada-Mu.


Semarang, 8 November 2012 

Irama Qur’an

Kunikmati alunan musik qur’an,
puisi yang belum cukup kupaham
Tapi iramanya telah bersuruk dalam
kedalaman hatiku yang dangkal.


Semarang, November 2012 

Tasbih Yang Berkunang

Lama kurapalkan nama-nama indah dan mantra
yang katanya bisa mendekatkan diri pada-Nya
di serambi mushola yang hanya diam
selain suara hati mencoba bertahan dari sepi
dan beberapa kantuk yang meneriaki.
“Hei, tasbihmu hilang dicuri kunang-kunang”


Semarang, November 2012 

Terompet Akhir Tahun

Seorang bocah  memilah terompet
Yang berjajaran di trotoar.
Beraneka warna dan bentuk.
Warna ungu ingin dikasihkan kepada ayahnya 
yang entah di mana.
Warna biru pada ibunya
yang ia kenal dari bosnya.
Sedangkan warna-warni pada gurunya.

Tiba-tiba ia murung.
Karung di punggung cuma cukup buat makan.

Lalu sang pedagang memberinya terompet warna merah
berbentuk garuda cuma-cuma. Ia girang.
Matanya nyalang di langit
Terbang menuruni bukit.
Sambil tetap membawa karung
Ia terus meniupkan terompet itu ke hamparan peta
di mana para telinga hanya menempel buat
terompet-terompet tahun baru 
milik bocah-bocah bersama ayah dan ibunya.


Semarang, 25 Desember 2012 

Muhammad Faizun, 
bergiat di Soeket Teki, SKM Amanat IAIN Walisongo, FLP Ngaliyan Semarang, dan menjadi ketua LFC (Library Fans Club) di perpustakaan Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo. Tinggal sebagai merbot di mushola Al-Ikhsan, Purwoyoso Ngaliyan. 


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puisi-Puisi Muhammad Faizun

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF