Iklan

Ahmad Taufiq: Kaligrafer yang Pernah Dikecewakan Kerajaan Brunei

WAWASANews.com
Sabtu, 09 Februari 2013 | 15.18 WIB Last Updated 2013-02-09T08:20:26Z
Kudus-WAWASANews.com
Tambun tubuhnya, tapi ramah. Itulah Ahmad Taufiq (31), lelaki kelahiran Demak yang dianugerahi tangan gemulai oleh Tuhan sehingga ketika menggoreskan ayat-ayat Al-Qur’an dan Sabda Nabi, memiliki daya artistik luar biasa. Anda bisa mampir ke galeri lukisnya di Jl. Mayor Kusma, Kudus, untuk sekadar melihat-lihat atau sekalian pesan sate buatan istrinya, Nurul Hidayah (31).
Ya, Taufiq, alumnus Madrasah TBS Kudus ini, selain jualan lukisan Kaligrafi Arab di galery-nya, juga nyambi jualan sate kambing dan ayam. Murah, hanya Rp. 10.000 untuk 10 tusuk sate kambing. “Baru satu tahun kami buka galery di Kudus,” kata Taufiq.
Kepada WAWASANews.com, dia menuturkan kalau usaha buka galery kaligrafi tersebut awalnya hanya untuk mengisi waktu luang selain mengajar di sekolah dan menggoreskan pena-nya di rumah. Taufiq menekuni seni kaligrafi sejak tahun 1999, kala masih nyantri di Pondok Pesantren TBS asuhan KH. Ma’mun Ahmad. Setiap hari Jum’at, dia belajar menulis huruf demi huruf di Lembaga Tahsinul Khoth Aroby asuhan Ust. H. Noor Aufa Shiddiq, Kudus (Alm.).
Menurutnya, belajar menulis kaligrafi itu tidak murni untuk menciptakan keindahan rangkaian huruf-huruf yang ditulis. Lebih dari itu, belajar kaligrafi ternyata dapat menumbuhkan pribadi yang sabar, disiplin, kreatif, waspada, terampil dan bersih. “Kaligrafi itu tidak bisa digores ngebut kayak menulis berita,” katanya.  
Untuk menghasilkan karya yang super indah, menurut Taufiq, harus ada keterkaitan antara tinta, kalam (ujung pena), kertas, hasil goresan, dan kepribadian seorang kaligrafer. Dia menyitir sebuah literatur bijak untuk menggambarkan keterkaitan itu, yang artinya: “seperempat (indahnya) tulisan ada pada hitam tinta pena, seperempat-nya pada keindahan huruf dari kaligrafer, seperempatnya lagi dari keserasian potongan pena, dan seperempat lainnya ada pada kualitas kertas.”  
Karena rumitnya menghasilkan karya yang indah itulah, orang-orang yang memesan hasil karya cipta Taufiq harus sabar menunggu hingga seminggu lamanya. “Kalau yang sudah ada contohnya paling seminggu jadi. Tapi kalau memesan motif yang belum pernah saya buat, mereka harus sabar lebih lama, kayak yang ini,” katanya sambil menunjuk sebuah karya yang tengah mulai digarap sekitar dua minggu lalu. 

Hiasan Dinding dan Kubah Masjid
Pernah, suatu kali, dia diminta untuk jadi team dalam proyek pembuatan mushaf Al-Qur’an ukuran raksasa pesanan salah satu keluarga dari Kerajaan Brunei Darus Salam. Katanya dipesan untuk mahar pernikahan. Dengan beberapa orang di kampusnya, Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ), Wonosobo, dia mulai mengerjakan pesanan itu. Tarif awalnya, kalau jadi sesuai pesanan, akan dihargai Rp. 2 milyar. Rencananya, dana itu nantinya akan digunakan kampus untuk membangun laborat Al-Qur’an.
Namun sayang, setelah semuanya jadi, pemesan tak memenuhi janji. Uang muka senilai Rp. 400 juta tidak ditambah-lunaskan hingga Rp. 2 Milyar. Alasannya, kata Taufiq, karya buatannya itu banyak menggunakan tips-X, alias banyak yang kesalahan hurufnya dihapus-tambal menggunakan cat putih. Itu, menurut pemesan, disebut haram dalam penulisan Al-Qur’an. “Tak tahulah, pokoknya ketika itu kami kecewa. Tapi akhirnya kami paham kalau sebuah karya memang harus indah, dan, juga, bersih,” lenguhnya.   
Daripada mengurus pesanan orang-orang kaya yang tetap menang karena uang, lebih baik memang membuat karya sendiri, tanpa beban pesanan. Karya kaligrafi tanpa pesanan di galery Taufiq rata-rata dibuat dari gabus (strofom), kanvas, kaca cermin, dengan pigura yang terbuat dari kayu pinus atau fiber. “Harganya mulai Rp. 100 ribu untuk ukuran 27x55 cm hingga 2 juta-an untuk ukuran 100x85 cm,” ujarnya. Taufiq sengaja tidak membuat kaligrafi berbahan dasar kayu jati karena kelemahan di bagian ukir kayunya.
Selain membuat karya sendiri di rumah, dan kemudian digalery-kan, Taufiq yang pernah belajar kaligrafi di Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka) Sukabumi ini, juga menerima pembuatan kaligrafi hiasan dinding dan kubah masjid dengan cat. “Saya sudah beberapa kali membuat kaligrafi kubah masjid dan hiasan dinding di beberapa kota,” tuturnya. Anda ingin mengetahui berapa tarif per meter-nya? Rp. 700 ribu. Silakan hubungi redaksi bila berminat. (Badri)


BIOGRAFI SINGKAT:

Nama Lengkap      : Ahmad Taufiq, SH.I
TTL                     : Demak, 10-10-1981
Istri                     : Nurul Hidayah (31)
Anak                    : Zakiya Khoirin Nada (1,5 tahun)
Alamat Galery       : Jl. Mayor Kusma, Kudus

Pendidikan:
  • Madrasah Tasywiqth Thullab Salafiyyah (TBS), Kudus (2003)
  • Fakultas Syari’ah Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ), Wonosobo (2009)
Prestasi:
  1. Juara I Lomba MTQ Kaligrafi Penulisan Naskah di Kab. Sukabumi (2004)
  2. Juara II Lomba MTQ Kaligrafi Penulisan Naskah di Cilegon Banten (2004)
  3. Juara II Lomba MTQ Kaligrafi Lukis di Kota Sukabumi (2004)
  4. Lomba Festival Istiqlal Harapan II Piala Menteri Agama RI (2004)
  5. Juara II Lomba MTQ Kaligrafi Penulisan Naskah di Garut (2005)
  6. Juara III Lomba MTQ Kaligrafi Penulisan Naskah di Kota Bogor (2005)
  7. Juara II Lomba MTQ Kaligrafi Tingkat Provinsi Banten (2005)
Pengalaman Karya:
  1. Pembuatan Kaligrafi Dinding dan Kubah Masjid “Baitur Rahman”, Jember Jawa Timur (2009)
  2. Tim Pembuatan Mushaf Akbar ukuran 200 meter x 300 cm di UNSIQ Wonosobo, Jawa Tengah (2008)
  3. Tim penulis Al-Qur’an Akbar untuk Kerajaan Brunei Darus Salam (2008)
  4. Pameran Kaligrafi di STAIN Kudus (2009)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ahmad Taufiq: Kaligrafer yang Pernah Dikecewakan Kerajaan Brunei

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF