Iklan

Menanti Penyair dalam Politik

WAWASANews.com
Rabu, 27 Februari 2013 | 09.53 WIB Last Updated 2013-02-27T02:54:02Z
Oleh Arafat AHC


Bila politik kotor, puisilah yang akan membersihkannya,” John F. Kennedy

      Bila kita mengunggah pernyataan di atas, lalu menguploadnya kembali pada realitas perpolitikan negara saat ini (rasanya sah-sah saja), mengingat kondisi politik saat ini begitu miris bila itu dikatakan perpolitikan orang-orang. Puisi memang berperan dalam membersihkan suatu kotoran yang terkandung dalam politik: meluruskan politik yang bengkok.
Terlepas dari itu, politik sarat dengan kongkalikong (bohong-bohongan), sebab politik sendiri secara bahasa arab berarti “aku bohongi kamu”, yang berasal dari kata “fawallaituka”. Jadi, apabila politik penuh dengan kongkalikong bagi saya itu suatu hal yang lumrah. Puisi adalah tempat kejujuran seseorang (penyair), sehingga wajar apabila seorang penyair tidak berada pada daerah perpolitikan. Dalam peta kepenyairan dan sejarah kepenyairan, jarang ditemui seorang penyair menduduki kursi politik, atau bahkan nihil.
Oleh sebabnya politisi bisa dikatakan antagonis dari penyair, atau sebaliknya. Lalu, apakah hal tersebut akan terus mengakar sampai bumi ini digiling Sang Pencipta, sedangkan posisi penyair adalah pembersih, pelurus politik? Kalau para penyair kekal menjadi musuh dari politisi lalu bagaimana negara ini menemukan titik kemajuan, sedangkan para penyair kita hanya menjadi kritikus maupun demonstran kepada pemerintah lewat puisi-puisinya.
Pasca kemerdekaan Indonesia, politik mulai hidup/barangkali dimulai. Rezim Soeharto merupakan masa penjamuran perpolitikan yang kotor dari kolusi, korupsi, nepotisme, pembohongan, hingga penyelewengan sejarah yang merupakan dosa paling besar bagi saya. Saat yang sama juga terlahirlah Pramoedya Ananta Toer, Wiji Thukul, Chairil Anwar sebagai pahlawan perlawanan penjajah seselimut (baca: rezim Soeharto), penyair. Mereka hanya disenjatai puisi-puisi untuk melawan agresi pencucian otak: penyelewengan sejarah dari sekutu-sekutu Soeharto.
Namun disayangkan ketika perlawanan para penyair hanya sebatas iklan dalam buku-buku sejarah. Mereka hanya menempati kedudukan kesekian kali di mata masyarakat kita, setelah para militer, politisi, dan rekan-rekannya. Memang penyair tak pernah pamrih dalam berkarya juga berjuang menyatakan kejujuran, melawan penindasan, menolak kesewenangan. Namun setidaknya, penghargaan, meski mereka tak pernah berharap, kita dedikasikan. Dengan cara apa?
Tentunya penyair abad ini, bisa dikata penyair muda, terlalu kenyang dengan sejarah nenek moyang kepenyairan di negaranya. Apa masih kita teruskan perjuangan seperti Wiji Thukul, hanya demo, mencipta puisi kritis terhadap pemerintah saja, tanpa ada action masuk ke laut perpolitikan? Bukannya saya melecehkan Wiji thukul sebagai nenek moyang saya, akan tetapi saya hanya mengkritisi keadaan yang tak pernah berubah di negara kita.
Negara kita sebenarnya menanti kiprah para penyair sebagai agen aspirasi rakyat. Namun sampai saat ini peran penyair nihil kepada negara, selain lewat puisi-puisi saja. Politik merupakan jalan untuk bisa memegang tatanan suatu negara dengan jalan komunitas politik (baca: parpol). Lalu kalau penyair tidak berpolitik apa puisi-puisi masih bisa menjadi jalan untuk merubah tatanan negara yang amburadul?
Meminjam pendapat penulis buku Pada Suatu Mata Kita Menulis Cahaya, A Ganjar Sudibyo, bahwa politik sedang menjenuhkan dan puisi tumbuh bukan karena politik. Memanglah benar apa yang dikatakan Ganz (panggilan A Ganjar Sudibyo), namun kalau kejenuhan terus berjalan maka akan ada kemungkinan Indonesia menjadi Indo(Am)nesia, kelupaan jati diri sebelum dilahirkan sebagai Republik Indonesia.
Maka saya sendiri, meskipun sampai sekarang merasa wegah dengan politik, namun kalau tidak penyair yang memulai terjun dalam politik, setidaknya politik akan selalu sama:  jenuh, kotor, bengkok. Dan saya meyakini kalau penyair berpolitik maka setidaknya sebagian sisi yang diisi para penyair akan lurus dan aspirasi rakyat bisa ditempatkan pada kelayakannya.
Negara berbudaya, berkesenian akan menjadikan negeri ini lebih berkarakter-sesuai kampanye kementerian pendidikan menerapkan pendidikan karakter, tanpa menambah materi pelajaran pelajar dengan materi pendidikan karakter- berbudaya, beradab pula.
Sebelum mengakhiri essay, saya lebih bahagia mengkritisi sesama penyair daripada mengkritisi pemerintahan yang tak beralamat. Penyair lebih obyektif berfikir daripada pemerintah saat ini.


Arafat AHC, warga negara Indonesia yang mencintai dunia kepenulisan, kebudayaan, kesusastraan, kesenian, dan sangat mencintai arti kehidupan. Lahir dengan nama HABIB ARAFAT di Demak, Jawa Tengah. Selalu berjalan sampai lelah di pembaringan berbalut kafan.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menanti Penyair dalam Politik

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF