Iklan

Puisi-Puisi Anis Samara

WAWASANews.com
Jumat, 01 Februari 2013 | 16.52 WIB Last Updated 2013-02-01T10:00:30Z
Puisi

Pertemuan
kepada SH

pernahkah perasaanmu menjelma penyakit
yang tidak bisa diobati
kecuali dengan puisi
yang selalu gagal dimengerti
pernahkah kau lihat kekasihmu menangis
di siang bolong
lantaran belum juga ia temukan
sebuah kesedihan
yang menjelma
bunga rampai asmara
pernahkah kau lukis kisahmu sendiri
di sepotong kain
yang tak sanggup menutupi kenaifanmu
bagiku pertemuan ialah takdir ajaib
tetapi mengapa tidak bagimu
Rumah Puisi, 2013


Sanggar Puisi

kutemukan puisi di dompetmu
kubaca perlahan sambil rebahan
di atas kasur
yang berseprei kegelisahan

aku tidak bisa memaksa diri
menulis satu puisi untuk kekasih
aku mulai malas memikirkan masa depan
tiba-tiba kuteringat ketika nafasku
tak beraturan
jantungku berdegup sekencang
        getaran puisi oleh diksi
dan keributan menjadi lunak
        dalam benak
o, adakah lembaran dalam dompetmu
        cukup untuk mendirikan sanggar puisi

Rumah Puisi, 2013
Bebisik Mengusik

aku mendengar bebisik mengusik
tentang puisi kehilangan diksi
penyair kehilangan secangkir kopi
dan kisah sunyi
yang tak temukan tempat sembunyi

Rumah Puisi, 2013


Nostalgia

puisi mengajariku berbincang
        tentang waktu yang tak sama
dari puisi kumengerti
mengapa setiap diksi
harus dicatat dengan tinta ingatan
kuziarahi masa lalu
        dengan puisi—ia abadi,
sebagaimana kisah dilahirkan
        untuk dikenang

Rumah Puisi, 2013


Negeri-Negeri Jauh

rupanya, hujan membawa manusia
        ke negeri-negeri jauh
dan namamu ingatkanku soal
        tetesan air langit di bumi renta
adakah dermaga bagi dahaga—
samudera puisi ialah dahaga itu sendiri
inilah kecemasan yang dilahirkan
        dari rahim puisi
dan puisi akan melunasi hutang kita
        pada matahari

Rumah Puisi, 2013



Kegelisahanku

pada puisimu kegelisahanku lahir
        menjadi kata-kata paling purnama
hari ini kuhitung kesedihan
dan kucatat dengan tinta waktu
esok kubangun singgasana
        dengan puisi—sejak kau bilang
                puisi itu abadi, aku selalu gemetar
                        oleh kata-kata yang mampu
                                merajut kalimat seumpama
                                        senandung jiwa para pujangga

Rumah Puisi, 2013


Anis Samara, lahir di Jakarta pada 11 Juli 1992. Mahasiswi Tafsir dan Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini karyanya pernah dimuat di media cetak maupun online, diantaranya bulletin Amanah, Arena, Djournal, Humaniush, Kedaulatan Rakyat, Kompas.Com, Shoufana, Wall Magazine, dll. Kini, bergiat di Komunitas Rudal, Masyarakat Bawah Pohon dan Matapena, di Yogyakarta.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puisi-Puisi Anis Samara

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF