Iklan

Puisi-Puisi Muhtar S. Hidayat

WAWASANews.com
Sabtu, 02 Februari 2013 | 20.49 WIB Last Updated 2013-02-02T13:58:27Z
Puisi


Balada Akhir Tahun

Biarkan tahun ini meninggalkan
Aku tetap masih di sini
Mungkin terlalu konyol dan edan
Biar, tak mengapa

Hidup ini memang penuh kekonyolan
Dan harus edan untuk sekedar makan
Tak habis kuberpikir tentangmu
Sampai kapan akan terus begitu

Secuil senyum terhalang kabut itu kian menghilang
Purnama wajahmu telah buram
Ah,,, tak mengapa
Teruskan langkahmu

Biarkan aku di sini memaknai senyummu siang tadi.

Penghujung 2012

Tangan

Aku tak tahu mengapa ini dikatakan tangan
Sejak kapan penamaan tangan pada tangan
Siapa orang yang pertama kali menamakan tangan
Apakah adam yang menamainya
Bukan, adam tidak menamai ini tangan
Apakah kakekku yang menamai ini tangan
Kelihatanya juga bukan kakek
Dia juga cuma mendapat warisan kalau ini namanya tangan
Mengapa tidak dinamakan pedang atau parang
Karena setiap hari hanya menebas
Hak-hak orang lain

2012

Kesendirian

Rembulan menangis di serambi masjid
Meneteskan air penyesalan
Lolong burung malam
Menusuk jiwa yang sepi
Duka yang lapuk membentur atap-atap kubah
Jeritan terpantul melawan sepoi angin
Aku melihat iblis bersorak di pinggir trotoar
Sambil menertawakan dosa anak ingusan yang berlalu
Asaku terdampar di pulau yang aku tak tahu
Bahkan juga, kau
2012

Jati Blora
Mengenang tragedi penjarahan hutan blora:

Kakekku menyemai pohon jati satu demi satu
Kini pohon itu kian tumbuh mengharu biru
Orang kampungku hidup dari hutan
Cukup menjual daun jati untuk makan
Tiap hari terdengar kicau burung  diiringi rengekan kera lapar
Hutan blora bagai surga terdampar
Kau butuh apa di sini ada
Tanpa harus mencuri, cukup kau meminta
Tak seperti manusia di kota-kota
Sesama saudara tak saling tegur sapa
Hidup tak ubahnya robot yang tak punya perasaan dan cinta
Kau butuh apa, datanglah ke pinggiran hutan Blora
Namun kini betapa hancur hati kami
Dari kota
Kau hujamkan golok tepat di jantung pohon jati
Hingga terkuai tak berdaya

Blora, 19/06/2012

Orde Biru

Sebelum empat belas tahun yang lalu
Selama tigapuluh dua tahun masyarakat ditindas
Orde baru, dengan penindasan baru
Rakyat miskin digilas, remuk berkeping-keping seperti gelas
Perselingkuhan penguasa pribumi dengan antek-antek kapitalis menorehkan luka yang teramat dalam
Menganga seperti bara api pembakaran Hanoman
Empat belas tahun yang lalu telah tumbang
Impian reformasi merubah nasib kehidupan tak kunjung tampak
Konflik berdarah sepanjang sejarah reformasi
Masih tearasa ninir bau-bau anyir
Atas nama demokrasi mereka bertindak semaunya sendiri
Atas nama rakyat mereka khianat
Atas nama Tuhan, mereka menghancurkan semuanya
Masjid dibakar, gereja dibakar, restoran dibakar
Sedangkan suap-menyuap langgeng melenggang
Perselingkuhan teknokrat makin erat
Penindasan yang dilakukan oleh bangsa sendiri
Penipuan, konspirasi, korupsi mengubur harapan gelandangan
Orde baru menjelma menjadi
Orde BIRU
Tunggu
Sebentar lagi kau akan tumbang

Yogyakarta, 19/05/2012

Agama Tuhan

Atas nama Tuhan kau hancurkan segalanya
Atas nama agama kau porak porandakan semuanya
Dalih membela Tuhan kau tikam hingga tak bernyawa
Dalih menegakkan agama kau perkosa ayat-ayat tak berdaya
Tuhan dan agama kau lukis begitu bengis
Kau berkata demi membela agama Tuhan yang dilecehkan
Apakah Tuhan beragama
Tanyaku

Yogyakarta, 04/06/2012


Mengejar Bayang Sendiri

mengejarnya seperti mengejar bayangan sendiri
tidakkah kau berlari saja menuju cermin
tangkap saja dia di sana
jika tidak bisa hancurkan saja
biar berkeping-keping dan bertambah mengejek kebodohanmu

jangan berlari ke utara jika engkau ingin unggul darinya
karena dia sudah lama berada di utara
pergilah engkau ke selatan, ke barat, atau ke timur
bahkan engkau tak perlu lari kemana-mana
bangun saja menara yang tinggi dalam jejak moyangmu
semua akan terpantau dengan jelas

masih kurang apa dengan negeri ini
air kencingmu pun sanggup untuk menumbuhkan biji jagung
kenapa masih ada ayam mati di lumbung padi?
semua masih pada bingung dan limbung

sudah jangan banyak berbicara
keluar sana tantang matahari
jangan takut mati
semua sudah ada waktunya

22/01/2013



Muhtar S. Hidayat, lahir di Blora, pernah aktif di Teater MAGNIT Ngawi, pernah menjadi aktor dalam teater berjudul: Tuyul (2006, lomba di UIN Malang), Perewangan (2007, di Ngawi), Saksi Mata (2006, di Ngawi), Monolog Wong-Wongan Sawah (2009, UIN Suka), dll. Untuk puisi, hanya sebatas konsumsi pribadi dan komunitas. Belum pernah dimuat media massa. WAWASANews.com adalah media massa yang pertama kali memuat puisinya. Kini, ia tinggal di Yogyakarta dan aktif dalam komunitas Sanggar Seni Azzahra
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puisi-Puisi Muhtar S. Hidayat

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF