Iklan

Lari dari Tamu Plus-Plus

WAWASANews.com
Minggu, 03 Maret 2013 | 08.54 WIB Last Updated 2013-03-04T13:14:43Z
Cerbung Episode ke 24…

Oleh Sofi Muhammad

Keringat dingin mengucur deras mulai pelipis hingga seluruh bahu sebelah belakang. Sentuhan tangan-tangan itu, aku benar-benar serasa tak sanggup. Ingin berteriak namun kutahu bahwa itu akan mempermalukan diriku sendiri. Hingga yang terjadi hanyalah diam saja mulutku ini seolah lumpuh tak mampu berkata-kata.
Di ruang tempatku memandu lagu, sudah gerah sekali rasanya. Meski sudah ada AC yang dinyalakan cukup rendah tapi tetap tak berpengaruh apa-apa. Tamu itu adalah tamu kedua di hari ketujuhku bekerja. Badannya tinggi tegap dan berkumis agak tebal. Dia itu, sungguh-sungguh mengingatkanku pada peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam.
Perawakannya yang tinggi berotot dan berbulu cukup lebat pada setiap pergelangan tangannya membuat pikiranku mengingat kembali si bebandot sialan yang biasa dipanggil Pak Letnan oleh Mami.
Sebelum, tamuku di Jasmine Room memang sesuai dengan yang kuharapkan. Beberapa pasang keluarga dengan anak-anak yang sangat lucu pernah singgah beberapa kali. Sekadar untuk mengakrabkan diri dan menjaga komunikasi, barangkali.
Kalau agak-agak parahnya ya bisa juga beberapa pemuda namun dengan pasangannya masing-masing. Lelaki-perempuan, mereka bisa bebas melakukan apa pun yang mereka mau bahkan tanpa harus dipandu pun. Hingga aku merasa sangat senang sekali karena dapat gaji utuh tanpa harus giat bekerja.
Tapi kini, di hari ketujuhku bekerja ini, aku mulai menemukan awal dari ketidaksukaanku pada pekerjaanku menjadi seorang lady escort.
Di pojok sebelah kiri, kulihat Santi sedang menikmati belaian lelaki garang yang mengenai paha putihnya yang semakin berkilauan tertimpa cahaya lampu. Sementara di pojok satunya, ada aku yang semakin deras mengucurkan keringat dingin lantaran mendapati belaian menjijikkan dari bebandot sialan yang mulai merayuku ini.
“Jangan malu-malu, lah,” ujarnya penuh birahi sambil mendekatkan mulutnya yang berbau rokok ke arah wajahku.
“Maaf, Pak,” kataku seraya menepis pelan tangannya yang telah melingkari bahuku.
“Kok Pak, sih. Panggil Mas saja,” katanya mencoba selembut yang dia mampu.
“Aku mau ke toilet dulu, Pak, eh, Mas,” ucapku cepat dan segera keluar dari ruangan yang semakin memanas itu.
Hanya alasan memang, karena setelahnya, aku tak juga kembali masuk. Entah apa hukuman yang akan aku terima nanti dari Mas Hadi jika tahu akan hal itu. Tapi, aku toh sudah mempersiapkan batinku sedari dini. Dipecat pun, aku tidak peduli!
Kupikir, tak ada seorang pun yang menyadari keluarnya aku dari ruangan itu. Selanjutnya, aku hanya bisa bersembunyi di salah satu ruang yang jarang digunakan karena setahuku memang gudang penyimpan barang-barang bekas.
Ceklek.
Ketika kubuka pintunya yang tak pernah dikunci, kudapati se-set sofa agak tua yang sudah tidak terpakai. Selain itu, ada juga sound system yang telah patah kaki-kakinya. Sambil menunggu waktu keluarnya kedua bebandot tua itu dari Jasmine Room, kurebahkan diriku di atas sofa tua.
Di sana, tiba-tiba saja air mataku mengucur deras. Malang sekali nasibku ini. Kenapa pula hidup harus ditakdirkan untuk menjadi budak lelaki biadab. Di mana pun tempatnya, sejauh apa pun aku berlari, yang ada hanya para lelaki gila yang punya banyak sekali harta. Dengannya, mereka bebas memperturutkan nafsu binatangnya.
Semakin lama, semakin tak tertahan saja tangisku ini.

***
Kelelahan menangis, tak sadar jika ternyata, aku pun ketiduran. Cukup lama karena pada dua jam kemudian, ketika kulirik jam di layar HP, aku baru bangun. Mataku yang sembab terasa agak panas oleh sisa-sisa air mata. Sambil kusapu bekas-bekasnya, kuingat pula dengan Santi yang kutinggalkan sendiri di dalam sana tadi.
Apa kedua bebandot itu sama-sama merayu Santi sebagai gantiku yang telah pergi? Lalu Santi, dia pasti memarahiku habis-habisan. Mengata-ngataiku kacangan, tidak profesional, menyebalkan!
Iyalah, terserah kalian saja. Jika aku ini menyebalkan, tak apa. Menyebalkan atau tidak, apa pula artinya. Sama-sama tak ada harganya. Sedari lahir pun aku sudah tidak berharga. Apa gunanya lagi mengharapkan belas kasihan untuk sekadar dihargai.
Mati-matian kupertahankan keperawananku tidaklah untuk dihargai. Hanya demi cintaku pada Arya sajalah maka aku sampai mati akan berusaha. Jika pun ada yang menginginkannya maka yang terpenting adalah aku ingin menyerahkan yang pertama untuk Arya; sebagai ganti dari nyawanya yang ia pertaruhkan untukku yang tak berharga ini. Entah cinta atau apa pun namanya, aku tidak peduli. Inginku hanya seperti itu dan tak ada yang bisa memaksaku, memperkosa kebebasan yang satu-satunya masih kumiliki ini.
“Santi di mana, Mbak?” tanyaku pada Mbak Tia, resepsionis di Star Karaoke ini.
Sejenak, kupikir enak juga jika jadi seperti Mbak Tia ini. Apa mentang-mentang dia hamil maka langsung ditempatkan di resepsionis?! Setahuku, dulu pas pertama kali ke sini, resepsionisnya cowok kok.
“Lanjut ke hotel katanya, Ras,” jawabnya singkat.
Aku menghela nafas.
“Eh, la kamu kan seruangannya to?” tanyanya menyadari sesuatu.
“Em, tadi aku kebelet, Mbak. Mencret,” kilahku. “Malu aku bolak-balik ke toilet, Mbak.”
“Habis makan apa sih memangnya?”
“Makan rujak semalem.”
“Oalah…”
Lumayan aman kayaknya. Mbak Tia sepertinya tak menyimpan kecurigaan apa pun dari tindakanku. Maklum, baru sekali itu aku berbuat kurang ajar pada pelanggan. Jika ini sampai terulang beberapa kali mungkin aku dapat SP, Surat Peringatan. Setelahnya, SP lagi yakni Surat Pemecatan!
Akh, biarlah. Tapi, aku memang tak boleh jadi pengangguran lagi. Beberapa hari belakangan ini, aku memang cukup aman dari gangguan Rio yang saban detik bisa saja muncul di pelataran rumah.
Setidaknya, aku ada alasan lembur atau main ke mall dengan teman-teman baruku, teman kerjaku. Itu juga yang menyenangkan, dapat teman. Meski hanya teman urakan tapi setidaknya aku punya. Tak terlalu sepah-sepah amat jadinya.
Seminggu ini, aku bahkan tak pernah sempat melihat batang hidung Rio lagi. Ketika sesekali dia SMS, tinggal tak kubalas saja. Saat dia telpon, tinggal tak kuangkat saja. Akh, mudah sekali rasanya.
Tapi, Mas Hadi mulai main-main ini kayaknya. Padahal sudah sangat jelas kukatakan berkali-kali dulu, kuwanti-wanti agar jangan sampai aku dikasi tamu yang berpotensi untuk minta yang plus-plus. Tapi, dia berkhianat, menghianatiku dari belakang. Awas saja kamu!


Baca juga: 
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Lari dari Tamu Plus-Plus

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF