Iklan

Puisi-Puisi Irfan M. Nugroho

WAWASANews.com
Kamis, 07 Maret 2013 | 20.17 WIB Last Updated 2013-03-07T13:17:49Z

Puisi

Pemintal Doa
          - Achid BS

lelaki yang menjatuhkan daun keningnya ke lantai
telah menuntaskan sakramen di rumah sunyi
di antara detak-detik waktu yang terahasiakan

mengucap ayat pada sembah yang panjang
atau mungkin mantra pekasih
lantaran cinta yang ditanam tak juga menjelma mawar

tapi sehelai sajadah yang menampung guntingan rindu
pasti akan selalu menjadi cahaya
danmengantarnya ke ujung rambut di belah tujuh
untuk menjadi penghuni taman
di mana khuldi pernah tertanam

Purwokerto, 2012


Syair Rindu

bacalah baris rinduku untukmu
kugurat pada garis puisi di sudut batin
meninabobokkan kantuk malam dan gigil subuh
kutulis untuk memujamu yang lebih tinggi dari sunyi
bacalah kekasih,
syair rinduku lebih merdu dari jeritan malaikat

Purwokerto, 2012


Narasi Luka

mulanya ia adalah daun hijau yang jatuh
dihempas angin dan terurai di remah batin

lalu matahari menghujankan airmata paling api
yangmeranggaskan kematiannya

dan kau menyihirnya jadi duri paling pisau
yang tumbuh di angka-angka penanggalan

sehingga menjadi sejarah luka yang piatu
dibatinku

Purwokerto, 2012



Di Bukit Ini, Aku Mengingatmu
        - Cipendhok

di bukit ini, tumpukan batu-batu selalu basah meratapi dingin
sebab waktu mengirim kabut dalam iklim nestapa
sementara daun gugur, seumpama ingatan tiap helai perjumpaan
yang usianya tak pernah lebih dari jarak setiap dahan

di sebuah kedai tempat orang-orang memesan kopi
aku menatap nanar punggungmu yang mulai hilang
punggung yang sejenak rebah pada kulit-daging
seperti hujan yang melihai jemari si perupa
merubahjejaknya menjadi pisau tajam

di bukit ini, sungai membawa jernih airmata
dari julang-curug yang tak pernah berbahasa kata
dan dirimu pelan terhanyut oleh sebilah arus

selembar daun jatuh dengan suara yang hening
sebab hari-hari hanya tinggal retak-sejarah

Purwokerto, 2012


M. Portnoy

jari-jaritangannya digetarkan
seperti akan memulai sebuah upacara
melingkar kepal pada gagang stik
yang memeram dendam konser sunyi

permainan dimulai, memecah hening
menyentuh renyah simbal yang lama diam
sementara pijakan kaki pada pedal,
seperti seekor kadal yang lari
dari kejaran hidup yang datang
dengan ketukan ganjil.

mungkin permainan kian hambar
ditusuk runcing bunyi penghianatan
pada pertempuran di atas pertunjukan mimpi.

tapi hidup sebuah pilihan
antara pertama dan kedua
sama-sama menyimpan sesal

bagi diri kita.

Purwokerto, 2012



Tukang Obat

semestinya kau telah belajar menjadi pemetik daun tanpa melukai dahan
sebabmemetiknya pastilah membuat luka sayat atau sekadar
gores pada dahan-dahan yang mungkin sudah terlanjur tua untuk bicara
atau malah terlalu muda sehingga belum mengerti bahasa luka

barangkali daun itu merupa tukang nujum yang mengirim hantu
kepada orang-orang sakit lantaran mengunyah obat yang kau ramu
atau sebenarnya dirimu yang digerogoti cemas paling rampas

sehingga kau jual segala ramu seharga keringat yang lahir
dari pemanjat tebing tanpa sehelai tali

sedangkan aku masih di digerimis tanya
kenapa harus ada tebusan dari tiap gaibnya

Purwokerto, 2012


Lemari

kutitipkan segala pakaian padamu. kecuali luka,
aku masih ingin mengenakannya di tiap pesta
sebab cinta selalu membawa luka seusai perjamuan

dan luka,selalu kembali membawa cinta
yangkurenda dengan airmata paling hati

dan biarlah tubuhmu menyimpan nestapa
karena terlalu banyak beban cinta yang kutitipkan
setiap pulang pesta

Purwokerto, 2011



Irfan M. Nugroho, lahir di Purwokerto, 16 Agustus 1992. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Bergiat di Diskusi Angkringan Malam Senin dan Komunitas Penyair Institute.Aktif di Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Tulisannya dipublikasikan pada beberapa media masa seperti Minggu Pagi, Merapi, Suara Merdeka, Tabloid Cempaka, Majalah Mayara, Satelit Post, Padang Ekspres, Riau Post, Metro Riau, Majalah Frasa, Banjarmasin Post, Buletin Serayu, dll.Juga  terpublikasi dalam antologipuisi Suara-suara Dari Negeri Lumpur (Teater Saron, 2008), Tajam Tatap Mata (Soedirman, 2008)danPilarisme(An-Najah Press, 2012). Dan sedang menyiapkan antologi puisi tunggalnya yang bertajuk Kereta Yang Menjemput Ruh.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puisi-Puisi Irfan M. Nugroho

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF