Iklan

Ngaji Kitab Kuning Ke Kiai Bule

WAWASANews.com
Rabu, 10 April 2013 | 23.36 WIB Last Updated 2013-04-10T16:39:43Z
Oleh Ahmad Faozan

Judul Buku     : Berguru Ke Kiai Bule: Serba-serbi Kehidupan Santri di Barat
Penulis           :Sumanto, dkk
Penerbit          :Naura Books
Tebal              : 275 halaman
Tahun             : 2013
Harga             : Rp. 45.900
ISBN              :978-602-7816-06-0


Selama berabad-abad pesantren menjadi miniatur bagi lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Terlebih pesantren yang memiliki predikat Salafiyah, yang masih kental dengan pengajaran kitab kuningnya, ia memiliki posisi yang unggul dan selalu memiliki pengaruh besar bagi sebagian masyarakat Indonesia. Meskipun gelombang modernisasi tak dapat dibendung masuk ke negeri ini, lembaga pendidikan seperti pesantren dianggap sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang masih tetap berdiri kokoh.
Seiring dengan beralihnya peradaban keilmuan dari negeri Timur ke Barat, kini banyak lulusan kaum sarungan ”santri” yang berlomba-lomba mencari beasiswa untuk memperdalam keilmuan keislaman di negeri Barat. Mereka tidak lagi mengaji kitab kuning kepada para kiainya untuk memperdalam kelimuaan keislaman, melainkan kepada mereka para kiai bule dari negera-negara sekuler. Tentu saja, hal itu menerobos keluar ke kultur masyarakat tradisional. Konon, lembaga pendidikan di Barat seperti kampus tidak saja menarik simpatik para pelajar di belahan dunia, namun juga para dosen-dosen muslim dari Asia dan Afrika.
Buku bertajuk “Berguru Ke Kiai Bule: Serba-serbi Kehidupan Santri di Barat” karya Sumanto Al-Qurtuby dkk, yang dulunya jebolan pesantren-pesantren Salafi di Jawa mencoba menuliskan pengalamannya selama belajar di Barat. Merasa tak cukup ilmu dan pengalamannya, lantas mereka melakukan rihlah ilmiah untuk memperdalam keilmuan keislamannya di Barat seperti Amerika, Kanada, Meksiko, Jerman, Belanda, dll.
 Menurut kontributor penulis buku ini, meskipun bukan di negeri kaum muslim, banyak para profesor dan pakar ilmu kesilaman yang mengajar di kampus-kampus top dunia. Seperti Prof. Boner, ahli sejarah Islam dan mahir berbahasa Arab. Intregritasnya tak dapat diragukan, khususnya kitab-kitab fiqh klasik yang selama ini menjadi bahan ajar di seluruh pesantren-pesantren. Kemudian, Prof. Jakson, ahli fiqih dan ushul fiqh. (hlm. 9)
Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan di dunia Barat saat ini, menjadikan salah satu alasan bagi para pelajar untuk berhijrah ilmiah ke Barat. Bahkan, demi untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas mereka harus bersaing dengan ribuan orang. Padahal, jika kita kembali memutar roda sejarah, pada abad pertengahan (4 Hijriyah) dan melihat bagaimana peradaban yang berkembang di dunia Eropa  saat itu masih primitif. Semangat keilmuan dari para kaum sekuler patut untuk diberikan apresiasi, mengingat kini peradaban Islam yang dulu pernah berjaya sedang mengalami kemunduran.
Ditengah kondisi umat Islam Indonesia yang kini sedang di gempur dengan gerakan Islam radikal, yang menggembor-gemborkan hidup harus Islami dan memeluk Islam harus secara kaffah(kesempurnaan), menjadikan Al-Qura’an dan hadis sesuai dengan penafsirannya sendiri-sendiri dan tidak mau melihat tafsir orang lain. Tak pelak, Islam yang mereka praktikan kaum radikal tidak ramah dan toleran. Mereka juga rajin berdalil berbuih-buih, mengabaikan nalar sehat, menolak sejarah, dan mengabaikan literatur serta logika yang runut.
 Ironisnya, mereka juga menyerang para santri lama (NU dan Muhammadiyah), yang dianggap kurang islami dan tidak sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadist. Padahal salah satu ibadah yang paling diutamakan dalam Islam adalah menuntut ilmu tanpa memandang agama maupun guru. Mereka juga meninggalkan ilmu lainnya seperti, tafsir, fiqh, kalam, filsafat, tasawuf,  ilmu nahwu-shorof, dan mantiq.

Ahmad Faozan, alumnus PP. Tebuireng Jombang
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ngaji Kitab Kuning Ke Kiai Bule

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF