09 May, 2013

Stop Kekerasan Seksual Terhadap Anak

BACA DAN SHARE JIKA BERMANFAAT!
Oleh Dito Alif Pratama

Memprihatinkan, dalam kurun waktu terakhir tindakan kekerasan sesksual terhadap anak kian parah. Agung Laksono, Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) mengatakan, berdasarkan data terakhir yang diperoleh dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) 2012, sebanyak 3.871 kasus kekerasan terhadap anak yang dilaporkan oleh masyarakat. Sedangkan kekerasan yang dihimpun KPAI melalui media sebanyak 2.471 kasus. (Merdeka.com, 02/03/13).
Tentu kita masih ingat dengan tragedi kematian gadis berinisial RI (11), siswi kelas V SDN 22 Pulo Gebang, Jakarta Timur, yang diduga diperkosa dan telah menjalani perawatan selama seminggu di RSUP Persahabatan, Rawamangun Jakarta. (Suara Merdeka, 16 /1/13).  Sangat disayangkan, RI harus meninggal dunia setelah menjadi korban syahwat manusia-manusia biadab yang tidak bertanggung jawab.
Fenomena semacam ini sudah seharusnya dijadikan pelajaran berharga bagi kita bersama, khususnya bagi para orang tua dan guru di sekolah untuk selalu meningkatkan kewaspadaan dan senantiasa memberikan penjagaan dan pengawasan ekstra (ekstra protection) terhadap putra putrinya. Orang tua harus selalu mengetahui kegiatan dan hal apa saja yang dilakukan oleh anak saat berada di dalam maupun di luar rumah. Pun menjadi tugas guru mengawasi anak didiknya saat mereka berada di sekolah. Tidak hanya orang tua dan guru, fenomena ini pun mengindikasikan bahwa negara ini telah gagal menjaga dan memberikan tempat yang nyaman bagi anak untuk berkreasi dan mengukir prestasi demi meraih  masa depan yang lebih cerah.
Sebagaimana dipahami, Pelecehan seksual terhadap anak merupakan segala bentuk tindakan atau ancaman tindakan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa, remaja, atau anak yang lebih tua pada anak berusia di bawah umur. Praktek semacam ini bisa berupa memegang alat kelamin anak, menyuruh anak memegang alat kelamin orang dewasa, hingga kontak mulut ke alat kelamin maupun penetrasi vagina atau anus anak. Bentuk lain lain dari tindakan ini bisa berupa menunjukkan alat kelamin orang dewasa kepada anak, menunjukan gambar-gambar atau video porno hingga menjadikan anak sebagai objek untuk melakukan hal-hal yang berbau porno. Dan umumnya, pelecehan seksual terhadap anak dilakukan oleh orang terdekat yang telah lama mengenal anak ataupun sering kontak mata dengan anak, dan bahkan tidak menutup kemungkinan dilakukan oleh sanak saudara dekat maupun jauh.
Kekerasan seksual terhadap anak bukanlah suatu hal yang tidak mendatangkan dampak negatif bagi anak dan masa depan, mereka yang pernah mengalami kekerasan seksual bukan tidak mungkin akan mengalami depresi dan tekanan mental berkepanjangan, kalau sudah begitu akan berdampak negatif terhadap masa depan anak. Karenanya, hal semacam ini sudah seharusnya kita berantas bersama dan sudah menjadi tugas kita untuk terus melakukan upaya pencegahan (preventif) dari hal yang tidak kita inginkan tersebut.

Pengawasan Intensif dari Orangtua
Banyak hal yang harus kita lakukan untuk menjaga anak dari maraknya aksi kejahatan seksual, pengawasan intensif dari orang tua harus selalu menjadi garda terdepan dalam membentengi anak dari segala jenis virus kekerasan dan kejahatan, termasuk kekeresan seksual.
Penguatan karakter dan ketahanan diri pada anak harus terus dilakukan, Butuh pengawasan intens dari orang tua untuk terus mengenali putra-putrinya, mulai dari kebiasaannya hingga apa-apa yang mereka lakukan di dalam maupun di luar rumah hingga di sekolahnya. Bentuk kasih sayang orang tua tidak serta merta dengan membiarkan anak bermain bebas begitu saja hingga bergaul dengan siapa saja kapanpun dan dimanapun, bagaimanapun jiwa anak akan selalu membutuhkan pengawasan, perhatian dan kasih sayang dari orang terdekat, khususnya orang tua terlebih dari sosok seorang ibu.
Anak di bawah umur umumnya lebih terbuka dan lebih mempercayai sosok ibu untuk dijadikan tempat “curhat” dan menceritakan hal apa saja yang baru dialami dan dikerjakanya. Karenanya, bimbingan dan nasehat seorang ibu akan memberikan kenyamanan dan ketentraman dalam jiwa anak, itulah yang sejatinya sangat diharapkan.
Tidak hanya itu, anak kiranya juga harus diberikan pengenalan tentang hak dan tanggung jawab terhadap kesehatan reproduksi sejak dini juga beberapa organ tubuh vital yang sensitif yang harus benar-benar dijaga dan tidak boleh diperlihatkan begitu saja kepada orang lain, upaya ini bisa dilakukan langsung oleh orang tua maupun guru di sekolah di sekolah.
Dalam hal ini, pemerintah pun tidak boleh tinggal diam, harus ada langkah konkret dan tegas untuk bisa memberantas aksi kekerasan terhadap anak anak. Bagaimanapun masa depan anak juga merupakan tanggungjawab dan tumpuan negara.
Penegakan hukum secara tegas bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak kiranya perlu diterapkan sejak saat ini. Sebagaimana diutarakan oleh Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak, hukuman yang pantas bagi pelaku tersebut minimal 20 tahun penjara dan maksimal seumur hidup. (Kompas.com, 13 Januari 2013). Hal ini juga kiranya perlu dipertimbangkan lebih matang oleh pemerintah dan secepatnya direalisasikan. Dengan begitu akan ada payung hukum yang jelas dan siap mengawal anak dari hal-hal negatif yang tidak diinginkan.
Dan hemat saya, sistem penanganan pemerintah dalam mengatasi kasus kejahatan seksual terhadap anak tidak boleh hanya terpusat pada upaya menghukum pelakunya saja, sehingga mengabaikan kepentingan si korban dan keluarga korban. Dalam artian, pemerintah tidak boleh hanya fokus memberikan efek jera hukuman kepada pelaku tetapi juga mau berupaya membantu memulihkan korban dari penderitaan seumur hidupnya, baik dari depresi maupun tekanan mental yang dirasakan korban maupun keluarga korban.
Namun akhirnya yang harus kita sadari adalah bahwa kekerasan seksual terhadap anak-anak kita bisa saja terjadi kapanpun dan dimanapun, meminjam pernyataan bang NAPI, dalam sebuah acara di salah satu stasiun televisi-, kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat  pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan, waspadalah!. Harapannya, kita selalu meningkatkan kewaspadaan kita dan tidak sedikit pun memberikan celah dan ruang gerak kepada orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk merenggut kebahagiaan dan merusak masa depan anak-anak kita dan generasi terbaik bangsa ini.

Dito Alif Pratama,
pemerhati Sosial dari “Farabi Institute” IAIN Walisongo Semarang

0 komentar:

arrow_upward