Iklan

Perang Politik Popularitas Pilpres 2014

WAWASANews.com
Jumat, 28 Juni 2013 | 00.53 WIB Last Updated 2013-06-27T18:04:31Z

Oleh Furaida Ayu Musyrifa

Judul       : Perang Bintang 2014, Konstelasi dan Prediksi Pemilu dan Pilpres
Penulis       : Burhanuddin Muhtadi
Penerbit     : Noura Books
Cetakan     : I, Februari 2013
Tebal         : 335 halaman

Genderang politik menuju Pemilihan Presiden (pilpres) 2014 telah ditabuh. Dana triliun rupiah dipertaruhkan untuk menyongsong pesta demokrasi itu. Segala keberlimpahan digadaikan dan kekuasaan ditasbihkan. Pertandingan politik semakin ditunggu ditengah kejumudan negeri ini yang tak kunjung lepas dari hiperrealitas politik.
Rakyat sadar dan hendak bangkit dari ruang yang sarat dengan kebohongan terencana, pemutaran fakta dan disinformasi. Pilpres secara demokratis yang dimulai sejak 2004 ternyata tak memuluskan proses reformasi di Indonesia. Masalah demi masalah selalu hadir bergelantungan menghantui bangsa. Ada kecenderungan rakyat pada Pilpres 2014 yang berduyun-duyun menganut deparpolisasi. Analisis itulah yang dikemukakan oleh Burhanuddin Muhtadi dalam buku ini.
Deparpolisasi atau “emoh partai” muncul akibat figur yang muncul dalam geliat Pilpres 2014 adalah nama-nama figur lama. Menurut pengajar ilmu polik UIN Jakarta ini, publik Indonesia dihadapkan pada dua pilihan sulit. Pertama, pemilih dihadapkan pada pilihan capres dari stok yang itu-itu saja. Capres populer yang muncul belum diterima publik karena masalah akseptabilitas, integritas dan track record yang kurang baik. Kedua, nama-nama baru yang dinilai memiliki kemampuan yang baik, bersih dari korupsi, namun belum juga muncul kepermukaan.
Dalam buku ini, Burhanuddin menyajikan kajian politik ilmiah-empiris yang dalam dua dasawarsa jarang ditemukan di Indonesia. Menurut pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia ini, pilpres 2014 adalah etape krusial yang akan mempertontonkan pertandingan politik yang paling seru. Tak hanya kaum tua yang bisa mengadu nasib, namun elite-elite muda juga terbuka lebar. Pilpres 2014 adalah pasar bebas karena tak ada calon dominan seperti tahun 2009. Namun tak semudah itu, ada rumus 3D yaitu dikenal (popularitas), disuka (likeability), dan dipilih (elektabilitas). Tigas rumus itu menjadi kunci dalam gelanggang perebutan kursi orang nomor satu di republik ini.
Survei yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada pertengahan 2012 menempatkan Prabowo Subianto pada posisi teratas, disusul Megawati Soekarno Putri dan Jusuf Kalla, lalu Aburizal Bakrie. Megawati relatif paling bisa dipercaya dan memiliki empati, namun dinilai lemah terutama dari sisi kompetensi dan ketegasan (hanya sekitar 25-26%). Prabowo unggul dalam soal ketegasan namun kalah dalam empati kepada masyarakat. Sementara Abu Rizal meski telah mendeklarasikan diri menjadi capres dengan seabrek sosialisasi, kualitas personalnya kalah dibanding Probowo, Mega dan Kalla.
Lalu, adakah bintang politik baru yang bersinar di tengah iklim kepartaian yang bernuansa oligarki dan transaksional saat ini? Dalam analisis pengamat politik yang moncer dan sering muncul di media itu, ada banyak tokoh baru yang bermunculan namun mereka masih memiliki tingkat popularitas yang rendah. Dari survei belakangan ini, muncul nama Mahfud MD, Dahlan Iskan, dan Gita Wiryawan. Tapi, nama-nama tersebut tingkat popularitasnya hanya mencapai 30%.
Implikasinya, jika figur-figur baru tersebut belum mampu tampil menjadi alternatif, maka kontes politik 2014 hanya akan berkutat pada dua pilihan dilematis. Pertama, rakyat tetap memilih diantara pilihan-pilihan yang buruk. Kedua, rakyat akan memutuskan golput sehingga semakin mengurangi legitimasi pemilu. Ini akan mengakibatkan  deparpolisasi yang memunculkan alienasi politik dan otomatis menambah deretan panjang golput dalam pemilu 2014 nanti.
Temuan Burhanuddin sungguh menarik. Menurutnya, yang terjadi sekarang adalah ketimpangan popularitas. Calon-calon presiden yang populer tapi jika kualitasnya dinilai buruk maka tidak akan dilirik pemilih. Hal ini tengah menggerogoti para capres diantaranya Abu Rizal yang terlilit kasus lapindo, juga Probowo yang terekam dalam kasus penculikan aktivis demokrasi menjelang kejatuhan Soeharto.
Sebaliknya, calon-calon presiden alternatif yang memiliki kualitas baik, integritas dan rekam jejak yang bagus, tetapi tidak dikenal luas oleh populasi pemilih yang beragam, juga tidak akan memiliki elektabilitas yang memadai. Maka, geliat politik 2014 saat ini sebenarnya masih dalam pertarungan sengit untuk mengejar popularitas. Tantangan bagi figur-figur baru kedepan adalah meningkatkan popularitas sebelum menunjukkan kualitasnya dalam memenuhi ekspektasi publik.
Buku ini berteriak lantang untuk tidak sekadar mengikuti pesta demokrasi dan menjalankan hak suara, lebih dari itu, buku ini mengajak untuk mengetahui rekam jejak para petarung politik. Dengan analisis dan data-data akurat yang bisa dipertanggungjawabkan, buku ini sangat cocok untuk dibaca semua kalangan dalam rangka proses pematangan berpikir dalam dunia politik.

Furaida Ayu Musyrifa,
Mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
IAIN Walisongo Semarang

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Perang Politik Popularitas Pilpres 2014

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF