Iklan

Puisi-Puisi Anis Samara

WAWASANews.com
Rabu, 10 Juli 2013 | 18.34 WIB Last Updated 2013-07-10T11:34:39Z
Puisi



Patah*

pada jarak masa kanak,
mengingatkanku pada sepasang sepatu hias
yang masih belajar menghitung langkah
bersama bayang-bayang memanjang
mengiringi langkah sepasang pengantin

kau biarkan rambutku tergerai
melebihi kisahmu tentang sisir, tentang
sanggul melati, dan manik-manik kebaya
yang membiaskan cahaya doa

sambil lalu kau tembangkan lagu pengantin
bagi usiaku yang ranum, siap dipetik
dari tangkai kelahiran

Jogja, 2013
*sebuah istilah dalam bahasa Jawa untuk menyebut dua anak kecil perempuan yang menyertai pengantin.


Perjamuan Rasa

sebab bagiku,
pertemuan ialah takdir ajaib
tetapi mengapa tidak bagimu?

perasaan yang menjelma penyakit
yang tidak bisa terobati
kecuali dengan puisi yang selalu gagal
memanjatkan arti

lantaran belum juga kautemukan
sebuah kesedihan menjelma bunga
melukis kisah keharuman sendiri
dari sepotong kain yang tak sanggup
menutup kenaifanmu

Jogja, 2013



Nafas Puisi

kutemukan puisi dalam dompetmu
kuambil, lalu kubaca
tiba-tiba kuteringat nafas puisi
pada getaran diksi yang membuat
lunak benak ini
perlahan seprai dan bantalku basah
ketika kurebahkan tubuh pasrahku ini

di sini,
suaraku menjadi tangisan paling asing
sejak kukenal bunga rampai puisi
yang kuinapkan dalam almari

kekasihku pasti marah
katanya dengan senyum memerah
seketika, dua pasang mata kita beradu tatap
aku semakin dekat, dia pun merapat
dan kita pun saling berucap, puisi
memanggil ingatan diri
dari negeri-negeri yang jauh

Jogja, 2013


Lagu Pejalan Kaki
: penghujung tahun 2012

aku mendengar ricik air mata
roda-roda bus itu terus berputar,
dia telah mengantarkanmu pulang
dan kembali, kembali dan pulang

di penghujung tahun ini,
kita saling menggenapkan sepi
membunuh masa lalu
dengan bernyanyi dan berpesta

ada orang menghidupkan masa depan
dengan menamai waktu yang baru lahir;

setiap pergantian tahun ia menghilang
dalam nama-nama keabadian

entahlah, masihkah ada lagu pejalan kaki
di musim hujan ini?
aku meninabobokkan hari esok
dengan sepasang mata terpejam
di penghujung tahun,
namun masih saja
kulihat roda-roda bus itu terus berputar
menandai setiap kepulangan
yang pasti akan kembali


Jogja, 2012


Anis Samara, lahir di Jakarta pada 11 Juli 1992. Mahasiswi Tafsir dan Hadits Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini karyanya pernah dimuat di media cetak maupun online, diantaranya bulletin Amanah, Arena, Djournal, Humaniush, Kedaulatan Rakyat, Kompas.Com, Shoufana, Wall Magazine, dll. Kini, bergiat di Komunitas Rudal, Masyarakat Bawah Pohon dan Matapena, di Yogyakarta.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puisi-Puisi Anis Samara

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF