Iklan

Menjadi Guru PAUD Yang Inovatif

WAWASANews.com
Sabtu, 31 Agustus 2013 | 16.40 WIB Last Updated 2013-08-31T09:40:23Z
Oleh Moh Romadlon

Judul Buku     : Kesalahan-Kesalahan Guru PAUD Yang Sering Dianggap Sepele
Penulis          : Lily Alfiatul Jannah
Penerbit        : Diva Press
Cetakan         : I, Agustus 2013
ISBN             : 978-602-7695-21-4

Sebagian orang masih memandang menjadi tenaga pengajar yang berkecimpung pada usia dini (PAUD) itu mudah. Bisa dilakukan sembarang orang, karena tidak menuntuk banyak hal. Asal bisa bernyanyi, bermain, dan selesai!
Secara pintas memang telihat begitu praktis dan mudah, namun bila guru melakukan sedikit saja kesalahan bisa berakibat fatal. Oleh karena itu profesionalitas guru PAUD merupakan suatu keniscayaan. Dalam arti, seorang guru PAUD harus mampu menjalani profesi sesuai prosedur, menjunjung tinggi etika dan ilmu, selalu berlaku kreatif inovatif, serta harus memahami betul cara mengajar yang baik dan benar, jangan sampai melakukan atau menganggap sepele sekecil apapun kesalahan saat mengajar.
Lewat buku ini, penulis mencoba memaparkan fakta dan data terkait beberbagai kesalahan guru PAUD yang berakibat fatal namun sering dianggap sepele dan terabaikan. Pemaparan itu tak lain bertujuan membantu para tenaga pendidik agar lebih profesional dan kreatif inovatif.
Anak dan mainan adalah sesuatu yang tak terpisahkan. Aktifitas bermain inilah yang merupakan pemacu kreativitas anak. Namun tak jarang ini dimaknai lain oleh guru PAUD sehingga guru pun akan selalu mengatur, membatasi atau melarang gerak anak. Padahal protektif dan otoriter ini akan memupuskan daya kreatif anak. Sebagai contoh, saat anak ingin bermain lumpur, sebaiknya tidak dihalangi, sekedar diawasi dan diarahkan ke berbagai hal yang mengandung nilai positif. Sebagai alternatifnya, guru harus bersikap bijak dan memupuk kesadaran pendidikan di masa-masa PAUD masih berupa trial and eror (percobaan dan kesalahan). (hlm. 25-28).
Namun begitu, bukan berarti guru boleh memanjakan anak didik dengan selalu menuruti kemauannya tanpa mempertimbangkan lebih jauh. Ada banyak dampak buruk yang ditimbulkan akibat sikap buruk ini, diantaranya anak jadi kurang mandiri, egois, otoriter, memiliki kepribadian yang apatis, tidak peduli pada norma atau aturan yang ada, dll.(hal40).
Oleh karenanya, harus terjalin komunikasi yang mesra di antara guru dan anak didik. Maka, guru harus betul-betul memahami bahasa si kecil. Untuk mensiasatinya, para pendidik harus mengetahui dan memahami kilas-balik beragam literatur tentang seluk beluk inti bahasa yang ideal bagi si kecil itu sendiri.(hlm. 44).
Kesalahan lainnya yang sering terabaikan adalah saat menangani kenakalan anak. Guru sering hanya menggunakan satu langkah, yakni langkah preventif dengan memberi nasehat yang bersifat keras dan berbagai hukuman. Ini terlihat efektif, namun keliru dan bahkan bisa berdampak negatif pada perkembangan anak.
Yang perlu dipahami bahwa dalam dunia pendidikan tidak dikenal istilah anak nakal, yang ada anak kreatif, karena kenakalan di usia dini merupakan pijakan menuju kreatifitas kelak. Kenakalan adalah bagian integral dari kreativitas anak yang ingin mengetahi dan mencoba berbagai hal baru. (hlm. 155).
Secara logika, cara mudah mengatasi anak nakal adalah dengan melibatkan diri, menilai baik pada semua anak serta memahami bahwa perbuatan yang tampak sebagai kenakalan itu pada dasarnya merupakan bentuk ungkapan anak untuk menunjukan potensi diri mereka. (hlm. 119)
Masih ada banyak kesalahan fatal yang dilakukan para guru PAUD saat menjalankn tugasnya antara lain kurang memahami gaya belajar anak, mengacuhkan kedisplinan guru, tidak cerdas meramu dongeng, terlalu monoton dalam mengajar, dll.
Pendidikan usia dini adalah pondasi. Layaknya sebuah pondasi, saat gedung sudah megah berdiri ia tidak akan kelihatan dan cenderung terlupakan. Namun perlu diingat, semegah dan secanggih apa pun gedung itu sekarang terlihat, pasti sangat ditentukan oleh kekokohan dan ketepatan sebuah pondasi. Oleh karena itu, guru PAUD sebagai peletak pertama pendidikan anak dituntut harus memiliki rasa pengabdian, keikhlasan, moralitas, integritas dan rasa kasih sayang yang lebih berkualitas dibanding guru-guru dijenjang berikutnya.  

Moh Romadlon, penulis, tinggal di Kebumen.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menjadi Guru PAUD Yang Inovatif

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF