Iklan

Trik “Busuk“ Blusukan

WAWASANews.com
Sabtu, 31 Agustus 2013 | 16.16 WIB Last Updated 2013-08-31T09:16:01Z
Oleh Fachry Uciha
       
Blusukan Jokowi
Istilah blusukan dipopulerkan oleh Jokowi saat Pilgub Jakarta beberapa waktu yang lalu. Blusukan adalah aktifitas politik turun langsung ke kampung-kampung  untuk menemui warga dalam rangka mencari suara.
        Dalam masa kampanye, blusukan memang efektif untuk mendongkrak rating elektabilitas. Kemenangan Jokowi atas Fauzi Bowo adalah sebuah bukti. Bahwa seorang pendatang baru yang sederhana, mampu mengalahkan Incumbent yang sudah punya nama dan lebih dahulu memiliki garis “’start” politik. Cara blusukan memang terbilang “nyleneh”, tapi justru sebab itu, nama Jokowi bisa melejit karena dikenal banyak warga.
Metode ini dinilai sangat efektif untuk merebut hati masyarakat. Sebab selama ini,  sangat  jarang pemimpin kaliber turun ke bawah hanya untuk mendengarkan keluh-kesah. Awalnya memang aktifitas politik, namun lebih dari itu, blusukan nampaknya memberikan pengetahuan terhadap calon pemimpin atas kondisi riil sebagai bahan proyeksi kepemimpinan ke depan. Hal ini tentu akan mempengaruhi arah kebijakan yang akan ditetapkan, agar tepat sasaran.
        Setelah terpilih menjadi Gubernur, blusukan berubah fungsi menjadi metode pendekatan interaktif atas kebijakan yang akan Jokowi ambil. Ini bertujuan agar kebijakan yang diterapkan tidak sepihak dan menimbulkan banyak konflik. Seperti relokasi PKL Tanah abang, revitalisasi waduk Pluit, penertiban rumah kumuh dan segala hal mengenai problematika Jakarta, Jokowi selalu mengedapankan sikap “salam-sapa”. Singkatnya, aktifitas blusukan terlihat telah menghancurkan bangunan kelas sosial “atas-bawah”, antara otoritas dan masyarakat.
        Blusukan kian “cetar membahana” saat trik ini dipraktekan juga oleh para politisi yang ingin naik “kursi”. Salah satunya adalah Cagub Jatim, Khofifah. Cagub yang berkali-kali kalah kompetisi ini melakukan blusukan ke pemukiman warga untuk menggalang dukungan (13/08/13). Belajar dari Jokowi dalam Pilgub Jakarta, Khofifah tentu tak ingin menelan kekalahan kesekian kali. Oleh karena itu, ia menggunakan trik yang sama dengan harapan hasil yang sama pula. Jelang tahun politik 2014, blusukan sudah menjadi trend wajib. Meski nasib keberhasilan mereka belum tentu secemerlang Jokowi, yang jelas blusukan telah menjadi “primadona” bagi setiap kalangan yang haus kekuasaan.

Behind Blusukan
          Politik adalah bagaimana cara agar menjadi juara dalam perhelatan perebutan kekuasaan. Dalam rangka tersebut, manufer-manufer brilian selalu diterapkan agar bisa keluar sebagai pemenang. Dan fakta membuktikan, bahwa blusukan adalah alat politik yang lebih canggih dari “mesin pencari suara”. Sebab, blusukan merupakan pendekatan kultural yang mencitrakan pelakunya sebagai sosok yang bersahabat dengan masyarakat. Citra inilah yang menjadikan seseorang dipilih menjadi pemimpin oleh masyarakat.
        Namun, politik tetaplah politik. Aktifitas blusukan adalah simbol kemunafikan. Blusukan adalah revolusi dari janji-janji gombal politisi, modus lama dalam balutan  yang ideal. Sebab, banyak sekali pejabat yang tiba-tiba mendadak ramah-tamah dan basa-basi dengan masyarakat, meminta dukungan untuk menjadi seorang pemimpin. Namun setelah mendapat dukungan, justru tidak mendukung kesejahteraan rakyat dan tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi. Meski blusukan memberikan informasi riil di lapangan, namun pada dasarnya blusukan hanya politik sesaat yang sesat.
         Kalaupun blusukan tetap dilakukan saat masa kepemimpinan, itu tak lebih dari proyeksi kontiunitas politik ke depan, guna mendongkrak elektabilitas untuk kepentingan lanjutan. Apalagi Pilpres 2014 kian dekat, “blusak-blusuk” pun kian marak dilakukan untuk membangun kekuatan. Dinamika perpolitikan bangsa ini memang lucu, suka munafik bila hadir tahun politik. Tahun  2014 adalah tahun para pejabat untuk menjadi “manusia sok baik” dalam kenyataan masyarakat yang semakin tercekik, dengan kinerja pejabat yang tak kunjung membaik.
        Jika membaca  sejarah Islam, terdapat kisah masyhur tentang keasketisan Umar bin Khattab. Umar adalah “Presiden” Arab yang gencar blusukan malam diam-diam, untuk mengetahui kondisi rakyat yang sebenarnya. Dalam ekspansi tersebut, Umar banyak menemui warganya yang masih miskin-kelaparan. Dengan tanpa memperdulikan statusnya, Umar rela menggotong karung gandum dari gudang Negara untuk dibagikan kepada warganya
        Dari kisah diatas dapat disimpulkan, bahwa blusukan haruslah dengan hati nurani, tulus dengan orientasi memperbaiki kondisi. Bukan karena nafsu jabatan tinggi, kepentingan dan tanpa solusi. Kerinduan masyarakat akan pemimpin yang idealis-realistis harusnya diobati dengan pembuktian yang nyata, bukan hanya dengan “blusak-blusuk” saja.

Pemilu yang Lebih Baik
          Standar pemilu berkualitas bisa diukur dari kualitas pemimpin yang dihasilkan. Jika disepakati pemimpin yang baik melahirkan kondisi yang baik. Maka Indonesia adalah representasi dari hasil kepemimpinan yang buruk. Sebab, kondisi di segala dimensi belum juga membaik seiring silih bergantinya pemimpin, sejak Orde lama sampai Reformasi.
        Pemilu selama ini terlalu banyak diwarnai dengan trik-trik egois jangka pendek, salah satu contohnya adalah blusukan.  Politisinya bermental “kuasa-materi” dan terlihat tak peduli. Buktinya, banyak politisi yang berkali-kali mencalonkan diri sebagai pejabat tinggi, meskipun berkali-kali gagal. Padahal, dana untuk mencalonkan diri sebagai pejabat tinggi itu tidak sedikit. Alangkah baiknya bila dana tersebut digunakan untuk kepentingan rakyat yang membutuhkan. Menghambur-hamburkan uang hanya untuk jabatan bukanlah cermin pemimpin yang ideal.
        Pilpres 2014 akan segera dihelat, mengharap aktivitas blusukan tidak hanya sekedar misi pencitraan.  Melainkan panggilan hati yang terdalam sebagai bentuk rasa kepedulian. Oleh karena itu, blusukan harusnya tidak dilakukan saat ada kepentingan pencalonan saja, melainkan dijadikan rutinitas kemanusiaan agar masyarakat merasa dianggap sebagai bagian yang harus dipertimbangkan dalam mengambil kebijakan. Jangan habis manis sepah dibuang.  

Fachry Uciha, peneliti muda di LPM IDEA UIN Walisongo Semarang
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Trik “Busuk“ Blusukan

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF