Iklan

Membongkar Jack The Ripper Sesungguhnya

WAWASANews.com
Minggu, 31 Agustus 2014 | 07.24 WIB Last Updated 2014-08-31T00:24:09Z
Oleh Moh. Romadlon

Judul buku        : The Lodger
Penulis             : Marie Balloc Lowdes
Penerbit           : PT. Tangga Pustaka
Cetakan           : I, 2013
ISBN               : 979-083-076-9

Sejarah membuktikan, kapan pun dan di mana pun bila popularitas penduduk tidak seimbang lagi dengan ketersedian pekerjaan dan kelayakan pelayanan publik pasti memicu tindak kriminal. Perampokan, kekerasan, prostitusi, dan alkohol merupakan pelarian yang paling praktis di tengah atmosfir hidup yang tidak sehat itu.
Inilah yang dialami London pada tahun 1880. Masalah rasisme, kriminalitas, dan kemiskinan memunculkan anggapan bahwa Whitechapel merupakan tempat paling mengerikan di London. Persepsi ini dikuatkan dengan terjadinya rentetan pembunuhan yang keji dan mengerikan. Beberapa peneliti kriminal dan penyidik menyakini pelakunya tunggal; Jack The Ripper.
Terlepas benarkah teror itu dilakukan oleh Jack The Ripper, tapi misteri itu terus melegenda dan tetap diyakini keberadaannya. Nah, Novel besutan Marie Balloc Lowdes merupakan salah satu versi kisahnya.
London belum terusik. Koran-koran lokal pun masih memuat berita pembunuhan pertama dan kedua itu dalam satu paragraf kecil, di bagian pojok. Baru pada pembunuhan ketiga dan keempat masyarakat gempar. Pada pakaian korban disematkan kertas segitiga yang tertulis “Si Penuntut Balas” dengan tinta merah. Semua korbannya adalah para perempuan malam yang suka mabuk. (hal.10).
Setelah itu London mencekam. Dari balik kabut, sang penjagal terus melancarkan aksi terornya. Setiap malam korban-korban pun terus bersusulan. Scotland Yard (Markas Kepolisian London) terus berpatroli. Koran-koran pun menempatkan aksi brutal ini menjadi menu utama.  Demontrasi terjadi di mana-mana. Masyarakat menuduh Scotland Yard lambat menangani kasus ini. Meski begitu, “Si Penuntut Balas” tetap terlihat begitu leluasa mencincang tiap korban-korban berikutnya.
Scotland Yard merasa dipermainkan. Diturunkan 5000 personel untuk menjaga kota London. Hasilnya, dua pembunuhan malah terjadi selang waktu beberapa menit. Joe Chandler, seorang dektektif senior yang dipekerjakan 24 jam pun hanya bisa mengumpulkan sedikit bukti, tak juga bisa mengendus keberadaannya.
Kabut kota London terus menyimpan rapi tragedi pembantaian paling sadis ini. Jumlah korban “Si Penuntut Balas” terus bertambah, menjadi sebelas perempuan. Semua penyuka alkohol dan suka berkeliaran malam.
Kisah mencekam ini berbalut manis dengan kisah cinta yang terjalin antara sang dektetif, Joe Chandler dengan Daisy, putri dari keluarga sahabat ayah Joe, Robert.
Sebelum kasus pembantaian ini, Joe memang sudah dekat dengan keluarga Robert, bahkan ia sering memberi bantuan kepada mereka setelah tahu Robert tidak lagi bekerja. Tapi perekonomian Robert kembali membaik saat ada ilmuwan yang akhirnya menyewa beberapa kamar besar di rumahnya.
Meski Tuan Sleuth, sang penyewa terbilang aneh tapi istri Robert, Ellen senang karena setidaknya penyewa itu telah menopang perekonomian mereka. Sehingga dia selalu melayani dan tidak banyak bertanya. Sebagai seorang ilmuwan, Tuan Sleuth akan berada seharian penuh di kamarnya untuk melakukan eksperimen yang rumit dan membaca Al-Kitab. Dia akan keluar saat semua orang terlelap. Dia akan berjalan menyusuri kabut yang teramat dingin, dan baru pulang saat menjelang pagi.
Dan setiap itu pula, saat orang-orang bangun pagi pasti akan digemparkan dengan korban-korban itu. Meski tingkah Tuan Sleuth tambah aneh, namun Ellen tetap tak berpikir lebih jauh tetangnya. Seperti semua orang, dia pun berpikir perbuatan biadab itu pasti dilakukukan oleh ‘monster’, tidak mungkin oleh orang  terhormat, seperti sang penyewa kamar. Tapi anehnya saat Tuan Sleuth tiba-tiba pergi tampa pamit, pembunuhan itu pun terhenti. Dan ini pun tak membuat ia dicurigai hanya karena satu hal; ia tampak terhormat.
Novel ini memberi pelajaran bahwa penjahat yang berseragam pejabat, yang bertopi layaknya orang terhormat sering lebih biadab dan sulit ditangkap karena tak terlihat oleh otak para pemangku keadilan. Dan sayangnya, Jack The Ripper-Jack The Ripper model baru sekarang banyak berkeliaran di tengah-tengah kita.

Moh. Romadlon,
pengurus TBM Sumber Ilmu, Staf Pengajar di TPQ Baitul Awwabin
Kebumen, Jawa Tengah
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Membongkar Jack The Ripper Sesungguhnya

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF