Iklan

Sajak-Sajak Afifah Zahira Hadhari Madura

WAWASANews.com
Minggu, 24 Maret 2019 | 02.43 WIB Last Updated 2019-03-23T19:54:16Z
contoh puisi untuk kiai san santri
Ilustrasi kiai membaca puisi. Foto: istimewa.
ZIARAH KIYAI
-k.warits ilyas

Melewati jalan bebatu dan terjal
Dibawah hembusan daun bambu yang membelai
Kita masuki lahan sejuk surgawi
Dengan kaki telanjang dan hati tenteram.

Kita bersama-sama merunduk berucap doa
Dengan isak-isak kecil perlahan melanda
Kita tidak  membawa apa-apa kiyai
Hanya fatihah dan sesurat yasin ditangan
Bukan melati atau rekah mawar yang mewangi.

Bismillah padamu kiai
Bersatu dalam khusu’
Menyatukan kenang dalam ingatan.

Teruntkmu kiai dari kami para santri
Membangun jembatan doa menuju ilahi
Harap kelak bersua dan berpayung barokah.

Masih berpendar terang
Riwayat panutan kami
Tersusun rapi pada buku-buku kenang
Meski engaku tak dapat kami temui.

Pandanglah kami kiai
Meski ditempat  yang berbeda
Semoga barokah dan ilmumu
Luruh mengalir dihat kami.

Annuqayah; Haul kiyai 30 Desember 2018


NGAJI KITAB
Kitab kuning masih rebah
Didepan tubuh kami yang mulai lelah
Rasa kantuk kian menyergap
Ingin untuk belajar masih merekah.

Pada kaki subuh,
Sebentar lagi akan tenggelam
Melepas sisa-sisa fajar semalam

Kita dengar,
Bacaan bait bait baet kitab
Pada tiap sisi sudut ruang
Masih saja berpendar terang

Kitab masih kubuka lebar
Juga ma’naan pena begitu pekat
Siap kubaca nanti malam
Selepas isya’ berkumandang.

Annuqayah; 16 januari 2019
Malam Kamis


MERINDUKAN MALAR
-k.tsabit habibi 

Waktu kembali menuliskan perjumpaan kita kiyai
Setelah jarak terpetak sangat jauh
Menjauh dari ruang masa lalu

Dahulu aku berlindung dirumahmu kiyai
Terlahir dari semasa kanak-kanak dahulu
Hingga remaja menjemput.

Mash kuingat,
Rindangan mahoni dihalaman itu
Tempat mengabadikan catatan kami para santri
Sesekali memerhatikan deru air sungai
Juga rinciknya yang memancing perhatian para santri.

Masihkah ada?
Gedung berlapis hijau, juga rindang-rindang
Pohon pisang atau tiyang listrik di tepi jalan itu
Peneang gelap hati kami
Meneuju serambi rumahmu.

Kenangan yang terus berputar
Pada perosotan berwarna kuning
Juga ayunan pada dahan pohon
Rumah tempat melepas penat.

Malar,
Tempatku merangkai kisah
Hingga bertemu cinta
Juga kawan kawan yang berlarian
Dibawah nyanyian hujan.

Annuqayah 15 Januari 2019


GELOMBANG DUKA

Kabar duka mulai bertebaran
Sebab gelisah yang tak bermuara
Juga tanah air masih berpayung kelabu

Raungan jiwa juga berai air mata
Meringkus beku padahati kati kami
Para ibu, bapak ,anak kecil ,jugalansia

Harta benda tak lagi berusia
Berlari membawa diri
Dari kejaran mautyang melanda

Berapa ribu lagi jiwa,
Yang harus menjadi korban,akibat ulah manusia
Sebab dosa dan kerakusandiambang mata

Sungguh, negeriku bermandikan air mata
Setelah gempa meruntuhkan Lombok
Lalu tsunami menjalar dikaki palu
Ikut hanyut diperairan jawa timur

Getaran kembali
Menyeberangi suramadu
Pada tanah madura pulau kecilku.

                                 Annuqayah; lk- 11 januari 2018

DEWATA KEKASIHKU
-kanza

Dewata begitu memikat
Pantainya yang jernih
Juga hiasan-hiasan laut dipinggirnya
Ombak berkejaran dikejauhan
Berlari mengejar rindu yang tak sampai ditepian.

Dibawah cemara pasir putih
Kubangun Istana pertemuan kita
Layang-layang terbang bersisian
Ada wajah kita diatas sana

Aroma limun mengguyur dahaga
Sedang kelapa muda bertengger memesona
Tersimpan jutaan kesejukan didalamnya

Dibawah gazebo pada naungan daun pohon
Kita bersua menikmati secangkir kopi cinta
Menyeruput bersama-sama
Menikmati kehangatan cinta didalamnya.

Pada rumput laut dikedalaman laut
Kuikat nama kita
Tak kubiarkan ia mengering dan larut
Hanya ada keabadian didalam sana.

Annuqayah; lkc06, 17-Nov-18

RISALAH KITA
-al

Telah kususun segala macam bentuk cerita,
Perihal asa juga janji mengikat
Pelepas ragu memburu, juga cemburu yang bisu.
Seperti apa warna cinta,
Sewarna kelabu atau seterang cahaya
Seperti apa rupa cinta,
Seharum melati, atau sekar jami yang berduri.
Bacalah kembali lembar sajak putih
Termaktub dalam bab jarak dan waktu
Dimana rindu tinggal sembunyi
Sebelum rindu benar-benar terjaga lalu pergi.


-------------------------------
Afifah Zahira Hadhari, lahir di Tetala, Sumenep 15 April 1998. Alamat: Daleman Ganding Sumenep. Ia merupakan santri aktif di PP. Annuqayah Lubangsa Putri. Aktif juga di club kepenulisan Lubri (LK). Mahasiswa aktif Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Keislaman An-Nuqayah Guluk-guuk Madura. Bisa dikunjungi di afifahzahira04@gmail.com

(wn-ab)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Sajak-Sajak Afifah Zahira Hadhari Madura

Trending Now

Iklan

Jual Flashdisk Isi Ribuan Buku Islam PDF