Anak Soemitro, Amerika Serikat dan Upaya Membalikkan Sejarah Indonesia
Cari Berita

Advertisement

Anak Soemitro, Amerika Serikat dan Upaya Membalikkan Sejarah Indonesia

WAWASANews.com
Kamis, 03 Oktober 2019

Foto Hashim Djojohadikusmo.

WAWASANews.com - Hubugan baik tokoh pemberontak PRRI (Soemitro Djojohadikusumo) dengan Amerika Serikat ini ternyata terus dilanjutkan oleh anak-anak Soemitro Djojohadikusumo, terutama Hashim Djojohadikusumo.

Selain terlibat banyak hubungan bisnis multinasional, ada juga lembaga khusus yang didirikan di Amerika Serikat dengan mengambil nama Pusat Kajian Soemitro Djojohadikusumo. Lihat videonya:


Saat Prabowo Subianto maju sebagai calon presiden, keluarga Soemitro Djojohadikusumo juga bersikap terang-terangan bahwa Prabowo bersikap sangat pro Amerika Serikat. Hal ini diungkap secara blak-blakan oleh Hashim Djojohadikusumo saat dialog di Amerika Serikat dalam pertemuan USINDO.



Namun, untuk menutupi kedekatan keluarga Soemitro dengan Amerika Serikat tersebut, tim kampanye Prabowo tampaknya sengaja menyusun narasi-narasi seolah-olah Prabowo anti asing. Hal ini sejalan dengan upaya-upaya sistematis dalam memutarbalikkan sejarah pemberontakan PRRI yang telah dilakukan berbagai pihak sejak lama.

Usaha massif untuk menyembunyikan sejarah pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Permesta tahun 1950an ini dilakukan melalui penerbitan buku-buku, seminar maupun pernyataan berita Koran.

Salah satu alibi yang sering dipaparkan dalam buku-buku maupun seminar, PRRI dianggap bukan pemberontakan, tapi merupakan kritik terhadap pemerintah pusat. Abdul Mun’im DZ juga pernah mengusik hal ini dalam kolom berjudul “Usaha Menyembunyikan Sejarah” di situs nu.or.id.  Bahkan, menurut Abdul Mun’im, ada upaya pihak tertentu yang ingin memutarbalikkan sejarah.

Karena itu, jangan heran bila dalam Pilpres 2019 lalu ada banyak kegaduhan yang diduga sengaja diciptakan. Harap dicatat, peristiwa pembakaran bendera Hizbut Tahrir berawal dari adanya upaya provokasi yang sistematis.

Harap dicatat pula, di Amerika Serikat kini ada lembaga khusus yang diberi nama Pusat Kajian Soemitro Djojohadikusumo. Apa gunanya lembaga itu jika tidak dipakai untuk kepentingan Amerika Serikat di Indonesia?

Perlu Kesadaran Sejarah Indonesia


Menurut Abdul Mun’im, kesalahan sejarah PRRI itu tidak akan hilang karena ditutupi, “Sebab semua orang sudah tahu dari sumber paling otentik bahwa PRRI Permesta itu adalah pemberontakan yang bersekongkol dengan agen dan tentara kolonial untuk mengganti pemerintah dan Negara RI,” tegas Abdul Mun’im.

Dengan adanya kesadaran itu orang tidak akan terkecoh berbagai teori, berbagai analisis serta pandangan yang tidak sesuai dengan realitas historis itu. Ingatan publik jauh lebih kuat dibanding manipulasi elit yang hendak memanipulasi, karena itu penulisan dan analisis sejarah semacam itu harus dikontrol sejak dini.

Pendek kata, jika masa depan Indonesia tidak ingin dikuasai lagi oleh para antek Amerika Serikat (kroni Soemitro Djojohadikusumo), maka perlu kesadaran sejarah yang kuat dari para generasi muda. Paling tidak, para generasi muda harus punya banyak referensi untuk membedakan mana tokoh nasionalis sejati dengan antek Amerika Serikat.

Demikian pula dalam Pilpres 2019, para pemilih harus tahu siapa tokoh pembela Indonesia yang sejati dengan antek asing yang sesungguhnya. Bukan begitu? (wn/ab)