![]() |
| Cover terjemah Ratib Al-Haddad. |
WAWASANews.com - Ratib Al-Haddad mengambil nama dari penyusunnya, Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, seorang ulama besar Hadramaut yang dikenal sebagai mujaddid dan memiliki banyak karya berupa doa serta zikir. Di antara karya beliau, Ratib Al-Haddad menjadi salah satu ratib yang paling masyhur dan diamalkan oleh kaum Muslimin hingga hari ini.
Menariknya, ratib ini tidak lahir sekadar sebagai kumpulan zikir, tetapi berawal dari sebuah permintaan seorang Amir dari keluarga Bani Sa'd yang tinggal di sebuah kampung di Shibam, Hadramaut. Ia meminta Imam Al-Haddad menyusun wirid dan zikir yang dapat diamalkan penduduk kampung agar mereka memiliki pegangan untuk menjaga diri dari berbagai ajaran sesat yang sedang melanda Hadramaut ketika itu.
Setelah mendapatkan izin dan ijazah dari Imam Abdullah Al-Haddad, Ratib ini pertama kali dibaca di kampung Amir, kota Shibam. Kemudian pada tahun 1072 Hijriah atau 1661 Masehi, Ratib Al-Haddad dibaca di Masjid Al-Imam Al-Haddad di Al-Hawi, Tarim.
Baca: Buku Siroh Nabi dan Biografi Tokoh (200 Judul)
Sejak saat itu, pembacaannya berkembang menjadi tradisi yang dilakukan secara berjamaah, umumnya setelah salat Isya, dengan doa dan lafadz-lafadz yang telah disusun oleh Imam Al-Haddad. Pada bulan Ramadhan, ratib ini juga dibaca sebelum shalat Isya untuk menghemat waktu agar masyarakat dapat segera melaksanakan salat Tarawih. Tradisi tersebut menunjukkan bagaimana Ratib Al-Haddad tumbuh sebagai amalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, bukan sekadar teks yang tersimpan dalam kitab.
Keistimewaan lain dari Ratib Al-Haddad adalah luasnya penerimaan terhadap amalan ini. Ketika Imam Al-Haddad berangkat menunaikan ibadah haji, ratib tersebut juga dibaca di Makkah dan Madinah. Bahkan disebutkan bahwa Ratib Al-Haddad dibaca setiap malam di Bab Al-Safa di Makkah dan Bab Al-Rahmah di Madinah.
Dalam tradisi para ulama, ratib ini kemudian terus diwariskan dan diamalkan dengan penuh keyakinan. Salah satu pesan penting yang disebutkan dalam kisah tersebut adalah anjuran memperbanyak bacaan La ilaha illallah, bahkan hingga seratus kali. Ini memperlihatkan bahwa inti Ratib Al-Haddad bukan sekadar banyaknya bacaan, tetapi penguatan tauhid, zikir, doa, dan ketundukan kepada Allah.
Baca: Buku Novel dan Sastra Islami (27 Judul)
Dalam beberapa cetakan Ratib Al-Haddad terdapat perbedaan, terutama pada bagian setelah Fatihah yang terkadang mengalami tambahan pembacaan. Para ulama juga memberikan perhatian terhadap cara pengamalannya. Al-Habib Ahmad Masyhur bin Taha Al-Haddad, misalnya, memberikan ijazah untuk membaca Ratib ini dan menganjurkan pembacaannya pada masa-masa sulit.
Di dalam ratib tersebut terdapat rangkaian ayat Al-Qur'an, hadis, doa, dan zikir yang disusun sedemikian rupa agar mudah diamalkan secara berulang. Bahkan bilangan bacaan dalam ratib umumnya dibuat sederhana, sehingga masyarakat dapat mengamalkannya secara rutin tanpa merasa terbebani.
Karena itu, Teks Ratib Haddad dan Terjemahnya layak menjadi tambahan koleksi bacaan bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat wirid yang telah lama hidup dalam tradisi ulama dan masyarakat muslim. Kehadiran terjemahan membuat pembaca tidak hanya membaca lafadz Arabnya, tetapi juga memahami makna doa, dzikir, dan ayat yang dilantunkan. Jika ingin mendownloadnya, silakan ke sini:
Silakan download teks Ratib Haddad beserta terjemahnya dan jadikan sebagai bahan bacaan serta panduan untuk mengenal salah satu ratib yang paling populer dalam tradisi Islam. (wn-ab)






