![]() |
| Sejarah Kristen Koptik Sejak Mesir Kuno Hingga Sekarang. |
WAWASANews.com - Kata Koptik berasal dari bahasa Yunani, yakni Aigyptos yang bersumber dari kata Hikaptah, salah satu nama lain dari Memphis, kota pertama di Mesir kuno. Kata Koptik sekarang lebih merujuk pada orang Kristen Mesir, seperti yang terdapat dalam naskah terakhir dari bahasa Mesir kuno. Kata ini juga menjelaskan pemisahan seni dan arsitektur yang berkembang pada awal kekristenan.
Gereja Koptik berdasarkan ajaran dari St. Markus yang membawa ajaran Kristen ke Mesir dalam masa pemerintahan Kaisar Nero dari Roma pada abad pertama, belasan tahun setelah kenaikan Yesus Kristus ke surga. Dia adalah salah satu dari empat penginjil dan penulis Injil kanonik tertua.
Ajaran Kristen menyebar di Mesir dalam waktu setengah abad setelah St. Markus tiba di Alexandria seperti yang jelas tertulis dalam Perjanjian Baru yang ditemukan di Pahnas, Mesir Tengah, sekitar 200 M. Juga dari fragmen Injil Yohanes yang ditulis dalam bahasa Koptik, yang ditemukan di Mesir Atas dan diperkirakan ditulis sekitar pertengahan abad kedua.
Baca: Paket Terjemah Muslimah, Keluarga Sakinah dan Parenting
Gereja Koptik yang usianya kini lebih dari 19 abad adalah salah satu subjek dari banyak ramalan dari Perjanjian Lama. Nabi Yesaya dalam Bab 19 ayat 19 mengatakan, "Pada waktu itu akan ada mezbah bagi Tuhan di tengah-tengah tanah Mesir dan tugu peringatan bagi Tuhan pada perbatasannya".
Walaupun sudah berintegrasi dengan negara modern Mesir, Gereja Koptik dapat bertahan sebagai agama yang mengembalikan kontribusi bagi agama Kristen. Gereja Koptik ikut ambil bagian sebagai pembela iman Kristen dalam Kredo Nicea, yang menyebarkannya ke seluruh Gereja di dunia, yang salah satu orang kebanggaannya adalah St. Athanasius, Paus Alexandria selama 46 tahun, dari 327-373 M. Status ini layak diberikan, dan bahkan, Mesir merupakan tempat penampungan bagi Keluarga Suci (Yesus Kristus, Bunda Maria, dan St. Yusuf) saat lari dari Yudea (Matius 2: 12-23).
Gereja Koptik Mesir memberikan kontribusi yang banyak dalam sejarah Gereja. Sejak berdiri, Gereja Koptik berperan penting dalam teologi kekristenan, dan utamanya untuk melindungi ajaran Gereja dari ajaran sesat Gnostik. Gereja Koptik menghasilkan ribuan teks, baik dalam studi biblical maupun teologi.
Sistem monastik (membiara) lahir di Mesir dan merupakan karakter dari Gereja Koptik yang mengedepankan ketaatan dan kesederhanaan, berkat ajaran dan tulisan dari Bapa Agung dari Gurun Mesir (The Great Fathers of Egypt’s Deserts). Monastik dimulai pada akhir abad ketiga dan berkembang pada abad keempat.
Baca: Kumpulan Terjemah Karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah
St. Anthony adalah rahib Kristen pertama orang Koptik yang berasal dari Mesir Atas. St. Pachom yang menetapkan aturan mengenai hidup membiara adalah orang Koptik. Orang Koptik yang terkenal lainnya adalah St. Makarios, St. Moses the Black, dan St. Mina yang Menakjubkan. Para bapa Gereja lainnya adalah Paus Cyril VI dan muridnya UsKup Mina Abba Mina. Pada akhir abad keempat, terdapat kira-kira ratusan biara dan ribuan celah dan gua yang ada di bukit di Mesir.
Di bawah kekuasaan Kerajaan Romawi Timur, yakni Konstantinopel (yang merupakan tandingan dari Kerajaan Romawi Barat), para Patriarkh dan Uskup Alexandria berperan penting dalam teologi kekristenan. Mereka diundang ke berbagai tempat untuk berbicara mengenai iman Kristen. St. Cyril, seorang Uskup Alexandria, adalah kepala dari Konsili Ekumenis yang diadakan di Efesus pada 430 M. Dalam Konsili itu dikatakan bahwa para Uskup dari Gereja Alexandria tidak melakukan kegiatan apapun selain mengadakan rapat. Namun, peran penting ini kemudian menjadi tidak adil lagi ketika politik memasuki Gereja.
Semua ini bermula ketika Kaisar Marcianus mengintervensi mengenai persoalan iman di Gereja. Namun, St. Dioscorus, Uskup Alexandria, yang kemudian dikeluarkan dari Gereja, mengatakan bahwa: Anda tidak punya urusan apa pun dengan Gereja. Motif politik ini kemudian makin kelihatan ketika dalam Konsili di Kalsedon pada 451 M, ketika Gereja Koptik secara tidak adil dituduh sebagai pengikut ajaran Eutyches, yang percaya pada monofisitisme. Doktrin ini mengajarkan bahwa Tuhan Yesus Kristus hanya mempunyai satu bentuk, yakni sebagai Tuhan semata, tidak dua bentuk, yakni manusia dan sebagai Tuhan sekaligus.
Baca: Paket Terjemah Ushul Fiqih, Syari'ah dan Fiqih
Gereja Koptik tidak pernah percaya pada ajaran monofisit seperti yang digambarkan dalam Konsili Kalsedon. Dalam Konsili itu, monofisitisme berarti manusia percaya Tuhan hanya punya satu bentuk, yakni Tuhan itu sendiri. Sedangkan Gereja Koptik sendiri percaya bahwa Tuhan adalah sempurna sebagai Tuhan dan juga sempurna sebagai manusia, tetapi sisi Ketuhanan dan sisi Kemanusiaan Tuhan ini bersatu dalam satu bentuk yang disebut dengan firman Allah yang Hidup, yang diulang kembali oleh St. Cyril dari Alexandria.
Orang Koptik percaya bahwa dalam dua bentuk, yakni manusia dan Tuhan ini adalah satu “tanpa kebingungan, tanpa berselang-seling” (dari Pengakuan Iman di bagian akhir Liturgi Gereja Koptik). Kedua bentuk ini “tidak pernah terpisah walau dalam sekali kedipan mata” (Juga dari Pengakuan Iman di bagian akhir Liturgi Gereja Koptik).
Gereja Koptik memang salah dalam memaknai inti dari Konsili Kalsedon pada abad kelima. Mungkin Konsili mengerti betul akan arti Gereja, tetapi mereka yang ingin mengasingkan Gereja, dan mengisolasinya dan menghilangkan orang Mesir, Paus, yang memperjuangkan bahwa gereja dan negara harus dipisahkan.
Walaupun demikian, Gereja Koptik tetap bersikukuh dan tabah dalam imannya. Apakah ini adalah konspirasi dari Gereja Barat untuk mengeluarkan Gereja Koptik sebagai akibat menolak politik di dalam Gereja, ataukah Paus Dioscurus tidak punya waktu yang banyak untuk menjelaskan bahwa Gereja Koptik tidak menganut ajaran monofisit, Gereja Koptik tetap memandatkan untuk melakukan rekonsiliasi mengenai perbedaan semantik yang ada di dalam Gereja.
Baca: Terjemah Tafsir Ath-Thabari (26 Jilid)
Hal ini tepatnya dikatakan oleh penerus St. Markus ke-117, yakni Paus Shenouda III: “Kepada Gereja Koptik, iman adalah sesuatu yang sangat penting dari apapun, dan yang lain harus mengetahui bahwa masalah semantik dan terminologi bukanlah suatu perkara besar bagi kami.”
Dalam abad ini, Gereja Koptik sudah berperan penting dalam gerakan Ekumenis. Gereja Koptik adalah salah satu pendiri Dewan Gereja Dunia (WCC) dan menjadi anggotanya sejak 1948. Gereja Koptik juga adalah anggota Dewan Gereja Afrika (AACC) dan Dewan Gereja Timur Tengah (MECC). Gereja berperan penting dalam pergerakan kekristenan dengan memimpin dialog dengan tujuan menyelesaikan masalah teologi dengan Katolik, Orthodox Timur, Presbiterian, dan gereja evangelis.
Selama empat abad penaklukan Mesir oleh Arab, Gereja Koptik tumbuh subur dan ajaran Kristen masih tetap berlangsung di Mesir. Hal ini disebabkan posisi Gereja Koptik yang menguntungkan. Nabi Muhammad Saw, yang mempunyai istri seorang Mesir Koptik, Maria Al-Qibthiyah, berpesan kepada para sahabatnya: "Ketika kalian menaklukkan Mesir, berbaik hatilah kamu kepada orang Kristen Koptik karena mereka adalah sanak saudara dan keluargamu yang harus dilindungi".
Orang Kristen Koptik kemudian diizinkan dalam menjalankan kegiatan keagamaannya kemudian diberikan perlakuan khusus, yakni diberikan pajak khusus yang disebut Gezya (jizyah), agar bisa diberikan status Ahl Zemma (ahlu al-dzimmah) berarti yang dilindungi.
Orang Kristen yang tidak mampu membayar pajak ini akan diberikan dua pilihan apakah meninggalkan iman Kristen dan berpindah keyakinan menjadi Islam, atau kehilangan hak-hak sipil khusus. Peraturan ini kemudian ditambahkan lagi kepada orang Kristen Koptik dalam 750-868 M dan 905-935 M di bawah pemerintahan Dinasti Abbasiyah ketika Gereja mengalami masa paling tenang.
Baca: Ambil 200+ Kitab Makna Pesantren dan Pegon Jawa
Posisi Gereja Koptik mulai meningkat pada awal abad ke-19 di bawah Dinasti Muhammad Ali yang bertoleransi kepada orang Kristen Koptik. Komunitas Kristen Koptik diberikan kembali hak-hak administratifnya, dan pada 1855 pajak Gezya dihilangkan dan orang Koptik pun bisa ikut masuk dalam Tentara Nasional. Pada 1919, identitas Mesir ditunjukkan bahwa Mesir modern terdiri dari Muslim dan Koptik.
Saat ini (sebagaimana dokumen ini ditulis pada 1992), ada lebih dari 9 juta orang Kristen Koptik (jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Mesir yang berjumlah 57 juta) yang berdoa dan ikut dalam komuni dalam misa harian di Gereja Koptik di Mesir. Ini tidak termasuk orang Kristen Koptik lainnya yang berjumlah 1,2 juta jiwa yang juga berdoa di ratusan Gereja di Amerika Serikat, Kanada, Australia, Inggris Raya, Prancis, Jerman, Austria, Belanda, Brasil, dan banyak negara di Afrika dan Asia.
Di negara Mesir sendiri, orang Kristen Koptik ada di tiap provinsi dan di tiap provinsi ini mereka bukanlah kaum mayoritas. Budaya, sejarah, dan harta iman mereka menyebar di seluruh Mesir, bahkan di oasis paling terpencil sekalipun, Oasis Kharga yang berada di gurun bagian barat. Sebagai individu, orang Kristen Koptik sudah mencapai prestasi akademis yang membanggakan di mata dunia. Salah satu di antaranya adalah Dr. Boutros Boutros Ghali sebagai Sekretaris Jenderal PBB (1992-1997). Orang Kristen Koptik lainnya adalah Dr. Magdy Yacoub, seorang dokter bedah jantung.
Gereja Koptik mempunyai tujuh sakramen: Baptis, Krisma, Ekaristi, Penitensi, Pengutusan, Pernikahan, dan Pemberian Minyak Suci kepada yang sakit. Sakramen Baptis dilakukan beberapa minggu setelah kelahiran dengan menggunakan air sebanyak tiga kali, Krisma diberikan segera setelah sakramen Baptis diberikan. Penitensi dilakukan dengan imam secara pribadi yang penting untuk menerima Ekaristi. Kadang-kadang dalam keluarga, penitensi juga dilakukan dengan menunjuk imamnya sendiri. Dari ketujuh sakramen ini, hanya sakramen Pernikahan yang tidak bisa diberikan selama dalam masa puasa. Poligami adalah ilegal, walaupun dilegalkan oleh negara.
Baca: Terjemah Musnad Imam Ahmad (22 Jilid)
Gereja Koptik merayakan tujuh hari Suci Besar dan tujuh hari Suci Kecil. Perayaan Pengangkatan Salib, Natal, Teofani, Minggu Palma, Paskah, Advent, dan Pentakosta. Natal dirayakan setiap tanggal 7 Januari. Gereja Koptik menetapkan jumlah hari Kebangkitan Yesus Kristus (Paskah) sama banyaknya dengan hari kenaikan ke Surga. Kalender Martir Koptik penuh dengan perayaan mengenang para martir (St. Markus, St. Mina, St. George, St. Barbara) dalam sejarah Koptik.
Gereja Koptik mempunyai cara perhitungan kalender puasa yang berbeda dibandingkan dengan komunitas Kristen lainnya. Dalam 345 hari, orang Kristen Koptik berpuasa selama lebih dari 210 hari. Selama puasa, tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan dari hewan (daging, unggas, ikan, susu, telur, dan seterusnya). Dan, selama berpuasa tidak diperkenankan makan selama matahari terbit sampai matahari terbenam. Semua aturan yang ketat ini yang akhirnya menghasilkan resep masakan Koptik yang sangat enak selama berabad-abad—biasanya diberikan kelonggaran oleh imam kepada orang yang lemah atau sedang sakit.
Shaum, yang juga dikenal dengan Puasa Agung, dirayakan juga oleh orang Kristen Koptik. Perayaan ini dimulai dengan satu minggu pra-Shaum, yang kemudian diikuti dengan puasa selama 40 hari untuk mengenang Puasa Yesus di atas gunung, yang kemudian diikuti dengan Minggu Suci, yang merupakan minggu paling suci (disebut dengan Pascha) dalam Kalender Koptik, yang puncaknya adalah Penyaliban pada Jumat Agung dan berakhir dengan perayaan Paskah. Puasa lainnya yang dikenal dalam Gereja Koptik adalah Puasa Advent (Puasa Kelahiran Yesus Kristus), Puasa para Rasul, Puasa Bunda Maria, dan Puasa Niniwe.
Baca: Terjemah Riyadlus Sholihin (2 Jilid)
Klerus dari Gereja Orthodox Koptik adalah Paus Alexandria dan termasuk uskup yang ditahbiskan dalam lingkup Gereja Koptik. Paus dan Uskup haruslah seorang rahib; mereka adalah anggota Sinode Orthodox Koptik yang Suci (Konsili), yang secara reguler bertemu untuk membahas masalah iman dan pastoral dalam Gereja.
Di samping itu ada dua bagian non-klerus yang mengambil peran di dalam Gereja Koptik. Yang pertama adalah Dewan Awam Gereja Koptik yang muncul pada 1883 sebagai jembatan antara Gereja dan Pemerintah. Yang kedua adalah Komite Klerus Awam, yang muncul pada 1928 untuk memonitor manajemen Gereja Koptik dalam memberikan sumbangsih dalam hukum Negara Mesir. (wn-ab).
Keterangan:
Artikel ini sepenuhnya disalin ulang dari halaman akhir buku Maria Al-Qibthiyyah The Forgotten Love of Muhammad Saw karya Abdullah Hajjaj. Yang bisa Anda donwnload PDF nya DISINI.






